Beberapa waktu yang lalu saya membaca beberapa tulisan tentang menjadi ibu, betapa lelahnya, betapa tidak punya waktu untuk diri sendiri karena jadi ibu memang pekerjaan 24/7 alias dua puluh empat jam dalam seminggu alias setiap hari. Belum lagi jika ibu memilih metoda ASI eksklusif yang mengharuskan ibu menghentikan segala pekerjaan di luar rumah atau tetap bekerja dengan konsekuensi memompa payudara untuk stok ASI kapanpun ketika sempat. Lalu jika bayi atau anak sakit atau tidak mau makan atau harus begadang karena tidak mau tidur. Ibu tidak bisa ke salon, tidak bisa ngopi-ngopi cantik apalagi ke klab buat dugem karena jadi ibu membutuhkan pengorbanan dan itu adalah pekerjaan yang mulia dan menyita waktu dan sebagainya.
Di sisi lain, saya juga mengamati kalau keberhasilan jadi ibu juga harus diabadikan. Mulai dari saat hamil sampai si bayi lahir juga cara mengurus bayi. Seluruh dunia harus melihat keberhasilan dalam mengurus si jabang bayi sampai dia bisa berlari. Bayi sedang tersenyum, buru-buru ambil henpon dan foto senyumnya yang membanggakan. Makan hari ini berhasil, ambil foto juga. Berhasil bikin makanan buat si bayi yang baru boleh makan segala yang dihaluskan, seluruh dunia harus tahu. Jalan dan liburan? Penting sekali untuk dibagi. Karena anakmu spesial dan cara membesarkan anakmu juga spesial. Jadi itu penting. Bagimu. Tapi belum tentu penting buat dunia.
Jangan marah dulu. Jadi ibu memang spesial. Punya anak itu pengalaman yang sangat luar biasa dan saya juga tahu hal itu. Saya bukan terganggu soal berbagi dan pamer bagaimana keseharian menjadi ibu. Saya juga punya dua anak. Yang sulung 9 tahun dan yang bungsu belum genap 2 bulan ketika saya menulis ini. Saya juga suka pamer. Suka selfie meski gak terlalu pede buat ngeshare banyak-banyak.
Yang saya heran dengan fenomena sosial media adalah setelah ibu-ibu berbagi kesulitan soal membesarkan anak, berbagi kebahagiaan soal punya anak, kok masih punya energi untuk nyinyir dan menghakimi ibu lain yang punya anak juga.
Bukankah ibu harus mengajarkan anak untuk bisa suportif, punya empati dan rasa simpati pada orang lain? Apa kabarnya kalo anak diajarkan begitu tapi ibunya malah sibuk dengan "cara gue paling bener"nya sendiri? Tiap ibu punya cara masing-masing untuk bisa tetap waras dan berdamai dengan situasi rumah masing-masing. Punya cara sendiri untuk tetap survive. Mau pake ASI, formula, air tajin. Mau imunisasi atau tidak. Mau memakai gendongan atau stroller. Pakai babysitter atau tidak. dibantu suami atau sendirian.
Mengingatkan dan berbagi, hayuk. Nyinyir soal cara? Simpan dalam hati atau diomongin sambil bisik-bisik sama teman atau partner yang sepaham.
Jadi ibu itu bukan kompetisi. Bukan jadi yang paling sempurna untuk dunia luar tapi bagaimana bisa berfungsi untuk keluarga inti terlebih dahulu baru kemudian membagi tips dan trik yang digunakan. Bayi itu "live in the moment" dia belum punya sejarah, tidak peduli siapa yang memberi makan, tidak perduli ibunya sempurna atau tidak tapi ada atau tidak orang yang mengurus dia. Bersyukurlah ibu-ibu yang bisa berfungsi dengan baik, apalagi yang punya support system yang baik yang mendukung anak untuk tumbuh kembang dengan sehat dan bahagia.
Begitulah.
Sekian tulisan pertama seri #ibuduatitiknol saya untuk kali ini. Semoga setelah ini akan ada tulisan lain karena saya sedang punya waktu luang. Untuk kritik dan lainnya, mangga silakan komen, dipersilakan juga untuk berbagi. Mohon maaf untuk bapak-bapak, bukan mengecilkan peran bapak tapi karena saya ibu-ibu ya jadinya sudut pandangnya ibu-ibu.
O ya, dibawah ini ada iklan susu formula yang justru dengan cerdas menunjukan kalau "No matter what our beliefs, we are parents first."
Saturday, January 31, 2015
Tuesday, November 18, 2014
Catatan Kecil dari Konser Bottlesmoker #HypnagogicJourney
:catatan personal tentang perayaan keluarga dan hal-hal yang tidak terduga yang membuat hati haru dan bahagia
13 November 2014.

15.35 WIB Saya dan mas Trie masih di Omuniuum, menyelesaikan beberapa pekerjaan kecil sebelum berangkat ke venue konser, rooftop sabuga. Seharian kami harus kesana kemari dan saat itu perasaan kami masih tenang karena sedari pagi, perjalanan kami ditemani sinar matahari.
16.00 kurang saya melihat keluar jendela toko dan menyangka hari sudah menjelang petang. Mas Trie hanya berkata singkat, mendung it, gelap pisan.
Dalam hati saya masih berharap oh, ga apalah hujan sekarang tapi nanti pas konser mulai hujannya berhenti dan semoga tidak terlalu deras. pukul empat sore lewat sedikit kami berdua berangkat ke venue.
Mobil kami bahkan belum sampai ke gandok ketika titik-titik air sudah membasahi jendela mobil dan tidak lama kemudian hujan turun dengan deras. Sederas-derasnya.
Sepanjang perjalanan menuju Sabuga, kami lebih banyak diam membisu. Pikirannya sama. Gimana kondisi venue dan apakah konser ini bisa berjalan sesuai dengan rencana atau tidak.
Kurang lebih pukul lima sore kami sudah sampai di Sabuga. Parkir. Mas Trie yang turun dan saya menunggu di mobil. Saya bilang saya akan turun nanti kalau hujan sudah reda dan meminta untuk menyampaikan ke Angkuy untuk mengumumkan via sosial media kalau open gate yang sedianya pukul 18.00 ditunda dahulu sampai kondisinya memungkinkan. Di mobil, saya sempat tertidur sejenak dan ketika terbangun, hujan masih turun dengan derasnya.
Cek WhatsApp, ada foto venue dari Mas Trie. Kondisinya porak poranda. Belum ada solusi kecuali tetap menunggu hujan reda.


Pukul tujuh kurang, hujan sudah rintik-rintik. Mas Trie memanggil saya untuk turun dari mobil. Wajahnya sudah lebih cerah. Ayo, kayaknya bisa terus kok konsernya. Saya mengikuti dia ikut ke dalam venue. Markas Jendela Ide yang dijadikan base camp selama acara penuh dengan teman-teman, muka-mukanya masih murung. Naik ke rooftop Sabuga, semua kru Bottlesmoker tampak sibuk mengeringkan beberapa alat dan tampak balon yang asalnya akan jadi backstage sudah ditempatkan dengan manisnya di panggung.
Melihat muka saya yang bertanya-tanya, Mas Trie tanpa diminta menjelaskan kalau satu-satunya jalan biar shownya tetap berlangsung ya Bottlesmoker harus main di dalam balon. Saat dia bercerita, semua alat sudah di set kembali dan lampu mulai dinyalakan. Begitu semua menyala, kode dimulainya acara langsung dilemparkan.
Open gate jam 20.00!!
Semua langsung sibuk. Kru-kru langsung membereskan area, kursi-kursi yang tadinya akan di letakkan di banyak tempat dikonsentrasikan di tempat yang ada atapnya termasuk meja merchandise dan minuman. Pak Usman, salah seorang kru senior yang bekerja membangun area venue dari pihak sponsor sempat nyeletuk, tenang neng, dikasih hujan kayak beginimah udah biasa ketika saya meminta maaf karena harus memindahkan beberapa set yang asalnya mau ditempatkan di beberapa titik venue.
Pukul 20.00 tepat, gerbang di buka dan penonton mulai memasuki area. Beberapa wajah yang dikenal mulai menyapa. Muka-muka para pengisi acara yang asalnya murung semua sudah mulai tersenyum. Begitu area dirasa sudah mulai penuh, voice over mengumumkan bahwa konser sebentar lagi dimulai.
20.15 Nobie dan Angkuy memasuki panggung, intro mulai terdengar, lampu di dalam balon mulai dinyalakan. Konsernya jadi!

Begitulah titik kritis yang kami lewati kemarin. Semua orang mengira kalau set panggung dan venue dari awal memang begitu. Kami dengan naifnya masih sangat percaya bahwa kesaktian pawang hujan tidak memerlukan plan B dan itu dibayar tunai oleh semesta.
Beruntunglah kami punya Mas Trie dan Ewing hari itu. Beruntunglah ada balon yang bisa dijadikan dome untuk panggung dan beruntunglah rooftop sabuga masih punya area yang kering. Beruntunglah kami karena tim penyelenggara sangat solid, sponsor juga para penonton semua pengertian dan baik hati. Beruntunglah justru karena semesta, konser malah berjalan sangat istimewa dengan munculnya ubur-ubur raksasa.
Dan semua orang mengira kalau itu sudah direncanakan dari awal! :))
Terimakasih tak terhingga pada #alLAboutmusic – Djarum dan keluarga besar Otten yang selalu mendukung langkah kami yang masih saja banyak kurang disana-sini.
Untuk keluarga besar Bottlesmoker, Angkuy, Nobie, Agam, Badilz, seluruh kru dan tim juga pendukung acara, anak-anak kucing (Dimas, Meicy, Arum dan Yudha), Wanggi, Matta, Keluarga kapsul, dan yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, lunas dan semoga semua naik kelas! :)
Untuk tim dokumentasi Nasrul dan esok tenar, semoga masih banyak project kita ke depannya nanti, amiiiin.
Tim Omuniuum yang selalu sabar menghadapi setiap acara sibuk-sibukan. Kalian juga selalu jadi energi buat bikin-bikin terus.
Adun, Aris (yang diimpor dari bogor), Utok dan tim yang ngurusin sound, taun hareup deui nyak! :))
Ewing, Akbar untuk energi kreatif kalian. Ewing untuk mewujudkan design venue yang luar biasa dan Akbar untuk visual yang asyik sekali, terimakasih!
Om Meg sebagai show director dan Bagus Nugroho yang menyiapkan area beserta ijin-ijin korps cokelat, makasih banget!
Rama sebagai divisi minuman berenergi, tanpamu, pesta under the sky kita pasti gak jadi. Nuhun! Haha.
Geng Stellar yang menyiapkan aplikasi untuk meramaikan konser, ditunggu inovasi berikutnya yaa..
Untuk teman-teman media yang selalu setia meliput juga terimakasih banyak.
Terimakasih selalu untuk kalian, yang menyisihkan uang untuk membeli tiket, cd dan merchandise, yang meluangkan waktu untuk bersenang-senang bersama kami, harap diingat selalu bahwa ini dibuat dari, oleh dan untuk kita bersama karena tanpa kalian, energi untuk membuat karya dan pertunjukan takkan bisa menyala.
dan terimakasih semesta.
ditulis oleh
– Boit
kali ini jadi supervisor dan asistennya Mas Trie buat #hypnagogicjourney, selalu merasa beruntung karena punya banyak keluarga jadi acaranya banyak.


Dokumentasi konser #hypnagogicjourney bisa dilihat disini: FB Bottlesmoker
13 November 2014.
15.35 WIB Saya dan mas Trie masih di Omuniuum, menyelesaikan beberapa pekerjaan kecil sebelum berangkat ke venue konser, rooftop sabuga. Seharian kami harus kesana kemari dan saat itu perasaan kami masih tenang karena sedari pagi, perjalanan kami ditemani sinar matahari.
16.00 kurang saya melihat keluar jendela toko dan menyangka hari sudah menjelang petang. Mas Trie hanya berkata singkat, mendung it, gelap pisan.
Dalam hati saya masih berharap oh, ga apalah hujan sekarang tapi nanti pas konser mulai hujannya berhenti dan semoga tidak terlalu deras. pukul empat sore lewat sedikit kami berdua berangkat ke venue.
Mobil kami bahkan belum sampai ke gandok ketika titik-titik air sudah membasahi jendela mobil dan tidak lama kemudian hujan turun dengan deras. Sederas-derasnya.
Sepanjang perjalanan menuju Sabuga, kami lebih banyak diam membisu. Pikirannya sama. Gimana kondisi venue dan apakah konser ini bisa berjalan sesuai dengan rencana atau tidak.
Kurang lebih pukul lima sore kami sudah sampai di Sabuga. Parkir. Mas Trie yang turun dan saya menunggu di mobil. Saya bilang saya akan turun nanti kalau hujan sudah reda dan meminta untuk menyampaikan ke Angkuy untuk mengumumkan via sosial media kalau open gate yang sedianya pukul 18.00 ditunda dahulu sampai kondisinya memungkinkan. Di mobil, saya sempat tertidur sejenak dan ketika terbangun, hujan masih turun dengan derasnya.
Cek WhatsApp, ada foto venue dari Mas Trie. Kondisinya porak poranda. Belum ada solusi kecuali tetap menunggu hujan reda.
Pukul tujuh kurang, hujan sudah rintik-rintik. Mas Trie memanggil saya untuk turun dari mobil. Wajahnya sudah lebih cerah. Ayo, kayaknya bisa terus kok konsernya. Saya mengikuti dia ikut ke dalam venue. Markas Jendela Ide yang dijadikan base camp selama acara penuh dengan teman-teman, muka-mukanya masih murung. Naik ke rooftop Sabuga, semua kru Bottlesmoker tampak sibuk mengeringkan beberapa alat dan tampak balon yang asalnya akan jadi backstage sudah ditempatkan dengan manisnya di panggung.
Melihat muka saya yang bertanya-tanya, Mas Trie tanpa diminta menjelaskan kalau satu-satunya jalan biar shownya tetap berlangsung ya Bottlesmoker harus main di dalam balon. Saat dia bercerita, semua alat sudah di set kembali dan lampu mulai dinyalakan. Begitu semua menyala, kode dimulainya acara langsung dilemparkan.
Open gate jam 20.00!!
Semua langsung sibuk. Kru-kru langsung membereskan area, kursi-kursi yang tadinya akan di letakkan di banyak tempat dikonsentrasikan di tempat yang ada atapnya termasuk meja merchandise dan minuman. Pak Usman, salah seorang kru senior yang bekerja membangun area venue dari pihak sponsor sempat nyeletuk, tenang neng, dikasih hujan kayak beginimah udah biasa ketika saya meminta maaf karena harus memindahkan beberapa set yang asalnya mau ditempatkan di beberapa titik venue.
Pukul 20.00 tepat, gerbang di buka dan penonton mulai memasuki area. Beberapa wajah yang dikenal mulai menyapa. Muka-muka para pengisi acara yang asalnya murung semua sudah mulai tersenyum. Begitu area dirasa sudah mulai penuh, voice over mengumumkan bahwa konser sebentar lagi dimulai.
20.15 Nobie dan Angkuy memasuki panggung, intro mulai terdengar, lampu di dalam balon mulai dinyalakan. Konsernya jadi!
Begitulah titik kritis yang kami lewati kemarin. Semua orang mengira kalau set panggung dan venue dari awal memang begitu. Kami dengan naifnya masih sangat percaya bahwa kesaktian pawang hujan tidak memerlukan plan B dan itu dibayar tunai oleh semesta.
Beruntunglah kami punya Mas Trie dan Ewing hari itu. Beruntunglah ada balon yang bisa dijadikan dome untuk panggung dan beruntunglah rooftop sabuga masih punya area yang kering. Beruntunglah kami karena tim penyelenggara sangat solid, sponsor juga para penonton semua pengertian dan baik hati. Beruntunglah justru karena semesta, konser malah berjalan sangat istimewa dengan munculnya ubur-ubur raksasa.
Dan semua orang mengira kalau itu sudah direncanakan dari awal! :))
Terimakasih tak terhingga pada #alLAboutmusic – Djarum dan keluarga besar Otten yang selalu mendukung langkah kami yang masih saja banyak kurang disana-sini.
Untuk keluarga besar Bottlesmoker, Angkuy, Nobie, Agam, Badilz, seluruh kru dan tim juga pendukung acara, anak-anak kucing (Dimas, Meicy, Arum dan Yudha), Wanggi, Matta, Keluarga kapsul, dan yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, lunas dan semoga semua naik kelas! :)
Untuk tim dokumentasi Nasrul dan esok tenar, semoga masih banyak project kita ke depannya nanti, amiiiin.
Tim Omuniuum yang selalu sabar menghadapi setiap acara sibuk-sibukan. Kalian juga selalu jadi energi buat bikin-bikin terus.
Adun, Aris (yang diimpor dari bogor), Utok dan tim yang ngurusin sound, taun hareup deui nyak! :))
Ewing, Akbar untuk energi kreatif kalian. Ewing untuk mewujudkan design venue yang luar biasa dan Akbar untuk visual yang asyik sekali, terimakasih!
Om Meg sebagai show director dan Bagus Nugroho yang menyiapkan area beserta ijin-ijin korps cokelat, makasih banget!
Rama sebagai divisi minuman berenergi, tanpamu, pesta under the sky kita pasti gak jadi. Nuhun! Haha.
Geng Stellar yang menyiapkan aplikasi untuk meramaikan konser, ditunggu inovasi berikutnya yaa..
Untuk teman-teman media yang selalu setia meliput juga terimakasih banyak.
Terimakasih selalu untuk kalian, yang menyisihkan uang untuk membeli tiket, cd dan merchandise, yang meluangkan waktu untuk bersenang-senang bersama kami, harap diingat selalu bahwa ini dibuat dari, oleh dan untuk kita bersama karena tanpa kalian, energi untuk membuat karya dan pertunjukan takkan bisa menyala.
dan terimakasih semesta.
ditulis oleh
– Boit
kali ini jadi supervisor dan asistennya Mas Trie buat #hypnagogicjourney, selalu merasa beruntung karena punya banyak keluarga jadi acaranya banyak.
Dokumentasi konser #hypnagogicjourney bisa dilihat disini: FB Bottlesmoker
Monday, December 16, 2013
Catatan Kecil dari Pesta Bertajuk Sunyaruri
"Ini lagu apa yang lagi main?"
"Aku dan Buih"
"Kira-kira berapa lama lagi pertunjukannya?"
Saya melihat ke arah kertas rundown dan menjawab, "yah, paling setengah jam lagi"
Padahal dalam hati hitungan saya kemungkinan pertunjukan mungkin masih berlangsung sekitar 40 menit sampai satu jam lagi.
"Invitation kemarin dilepas berapa?"
"1100"
Dialog selanjutnya adalah diskusi panas tentang kapasitas yang hampir tak cukup. Beberapa tindakan diambil termasuk menolak masuk pengunjung yang terlambat datang meski sudah membawa tiket. Begitu suasana saya rasa sudah cukup tenang, saya meminta ijin untuk melayani permintaan media yang meminta wawancara penyelenggara acara.
Selesai wawancara, saya masuk kembali ke area penonton dan ikut larut dalam kegembiraan bersama Sarasvamily. Saat itu sudah hampir sampai di penghujung acara, Sarasvati sedang membawakan Sunyaruri dan menutup acara lalu mereka keluar dari panggung. Didekat saya berdiri, anak-anak Sarasvamily tak henti-hentinya berteriak, lagi, lagi, lagi! Teriakan itu diikuti penonton lainnya dan tak lama kemudian lampu panggung kembali menyala.
Terdengar intro lagu perjalanan memakai piano dan terdengar suara perempuan "duduk dihadapanku..." Syaharani muncul ke atas panggung bersama Risa dan penonton kembali meledak bersorak-sorai. Usai Syaharani dan Sarasvati membawakan Perjalanan, lagu selanjutnya adalah Tiga Titik Hitam. Penonton tidak mengira kalau ternyata Sarasvati menyanyikan lagu tersebut bersama Fadly. Begitu Fadly muncul, ruangan kembali meledak dengan teriakan dan tepuk tangan. Tak terasa saya mengusap sudut mata. Lagu ini selalu membawa ingatan saya pada dua orang sahabat saya yang telah tiada. Usai Tiga Titik Hitam lalu Mirror juga dibawakan masih bersama Fadly dan pertunjukan pun usai sudah. Risa memanggil semua penampil ke atas panggung, semua penonton berdiri dan bertepuk tangan.Saya merasa sesak oleh rasa bangga dan haru juga larut dalam kegembiraan bersama teman-teman yang berada disekeliling saya.
Yang saya ingat lagi adalah malam itu saya memeluk banyak sekali orang yang saya sayangi yang hadir bersama di pesta #Sunyaruri.
Hari ini hari minggu. Sudah 3 hari berlalu dan kejutannya tak berhenti disitu. Di Instagram ada 600 lebih posting foto dengan #Sunyaruri. Timeline juga masih penuh dengan mention @sarasvatimusic tentang pesta kemarin dan teman-teman yang mencari produk Sunyaruri di @omuniuum.
Saya juga sudah berkali-kali menuliskan rasa syukur dan terima kasih tapi rasanya masih saja belum cukup. Kali ini, saya meminta maaf untuk segala kekurangan yang telah terjadi dan sebagai penghuni omu juga sebagai penjaga gawang Sarasvati plus bagian dari penyelenggara,tak lengkap rasanya jika saya belum menuliskan penutup sebagai tanda usainya acara.
Terima kasih yang paling utama pada keluarga besar Djarum Black Mild. Seisi kantor Otten, Pak Wiradi, Pak Budi Agus Salim, Pak Herman dan Mbak Vita, untuk cinta, dukungan dan kepercayaannya pada kegilaan kami.
Infamous Classic untuk wardrobe player yang bikin ganteng dan juga produknya yang melengkapi paket istimewa #Sunyaruri juga Fragrance Kikichan untuk gaun yang dikenakan oleh Risa dan Marshella, terimakasih banyak!
911 Stationary, Koh Arief untuk dummy buku Sunyaruri dan kesabarannya dalam melayani kecerewetan tetangga untuk melengkapi segala kebutuhan fotokopi dan print ID buat panitia. Juga untuk jagain gerbang Omu ketika tutup pas acara. Koh Arief keren deh, kalo ga ada kokoh sulit nih hidup kita.
Tim kreatif, dekor dan talent hantu gila-gilaan TragicMagic, the dulurs, Riana Rizki dan Denise, kalian memang selalu bikin orang jantungan entah di hasil, entah di proses, salut dan terimakasih udah mau dikerjain ama kakak-kakaknya, senang jadi bagian dari kalian. :)
Teh Astie dan tim sebagai show director dan Revan kepala tim produksi yang komprominya gila-gilaan, saya ga tau kalau ga ada kalian kita nasibnya gimana. Punten kalau ada yang kurang, hatur nuhun buat semuanya. Kan, kata saya juga kita mah EO jadi-jadian. Hahahaha.
Keluarga besar nan cerewet Sarasvamily buat teriakan yang paling kenceng, buat ikut bantuin jaga tiket, ngurusin ini dan itu dan entah apalagi pokoknya banyak karena kalian bertebaran dimana-mana. Tanpa bantuan kalian, kayaknya ibu bos pingsan dan Sarasvati ngga jadi manggung. Hahaha. Lagi, lagi, lagi! :))
Ink Rosemary, Mas Fadly, Syaharani dan Sara Wijayanto terimakasih untuk bersedia berbagi panggung dan berdendang bersama Sarasvati.
Kang Fitrah dan kawan-kawan untuk string dan Kirei untuk backing vokalnya, terimakasih, kalian ciamik sekali!
Feransis dan Nasrul Akbar, tangan kiri dan tangan kanan, anjing dan kucing ditambah Aris sebagai pawangnya, kalian yang membuat saya tersenyum paling lebar, terima kasih untuk banyak hal yang saking banyaknya susah banget diabsen. Belum bosan kan kerja bareng kita? :))
Olla, Berman dan tim keamanan Siaga Bintang, jangan galak-galak dong, sampe ga boleh masuk backstage segala. hahaha.. Maaf ber, makanannya kurang. Hahaha.. Keren, makasih!
Riandy Karuniawan untuk artworknya yang menghias buku Sunyaruri dan invitation dan media dan pembatas buku dan baligo dan lukisan dan lainnya, saya kagum terus sama kamu Ndi. :)
Maria Lubis, editor buku Sunyaruri yang tak hadir karena menyambut kelahiran dan benar-benar lahir beberapa hari setelah konser, selamat untuk kelahiran anak keduanya, terima kasih doanya!
Bang Indra Q yang mixing dan mastering album Sunyaruri yang janji datang tapi ga jadi gara-gara siap-siap mau manggung 30 tahun Slank, saya sebel ga bisa nonton abang! Terimakasih!
Ighe, Didit dan tim dokumentasi asuhan mas Nasrul plus Opik, terima kasih banyak untuk foto dan videonya.
Steven dan Alison, dari story of peter sampai Sunyaruri. Peluk cium untuk kalian. :)
Megadeth, Punjung dan tim translusen serta heartbreak station, terimakasih untuk Film dan dukungan plus mainan interaktifnya, untung dvdnya jadi pas hari H. Deg-degan gila!
Wiku, sahabat dan teman baik yang menyempatkan diri membantu ini itu, ikut menyiapkan paket dan juga menjaga tenda media panitia swasta, nuhun pisan ku. Pisan.
Ebet dan Harry yang tak bosan mengingatkan orang untuk memakai gelang di pintu masuk, kabarnya Ebet ngingetin pake gelangnya sampai kebawa mimpi ya? hahahaha. Tengkiyu!
Yudo Baskoro dan Monik tersayang, hatur nuhun buat bantuannya sebagai penghubung dengan label dan juga Iyo, punten ga sempet ngobrol panjang lebar, resep pan kamari nya yo? Nuhun!
Mang Okid buat bantuin di hari H, ngga tau tuh gimana caranya ngangkut 500 buku kalo ga ada mang Okid. Nuhun pisan! :)
Kang Inyo dan Pak Pandji, hatur nuhun untuk bantuannya. Besar artinya untuk kami.
Tim LO, Novi, Ipin dan Sasmi, mohon maaf ga menemui kalian satu persatu karena sibuk. Terimakasih untuk mengawal bintang tamu kita kemarin. Kapan-kapan mungkin lagi yah. :))
Tim Omuniuum dan #littleomu, Sony, Ivan, Yuyun dan Tina serta Irna dan Indra, untuk selalu setia di garda depan dan untuk senyum kalian yang selalu hadir. We love you.
Isak dan Kenken serta kru untuk sound dan lighting, hatur nuhun.
Koh Richad yang kepalanya sampe berasap karena ngejar beresnya cetakan buku dan pernak-perniknya. Terimakasih.
Kang Dadut untuk kompromi dan pengertiannya, punten kang, saaya-aya. :))
Mas Yusak, untuk segala bantuannya mengurus cetak mencetak CD dan DVD. Tepat waktu semuanya mas, nuhun.
Rackell terimakasih untuk stiker dan plastik packingnya. Keren.
Seluruh staff Padepokan Mayang Sunda untuk semua fasilitasnya dan pengertiannya, semoga bisa terus maju pantang mundur dan makin banyak acara keren di sana.
Acay, Iyo, Adun, Denden, Benk, Ghera, Utok, lamun aing euweuh maraneh, aing mah rek sare, cicing di imah weh, hahahaha. Segan. Kerjaan kalian keren abis!
Keluarga besar Sarasvati, Risa, Akew, Gallang, Gigi, Papay, Kevin, Mang Jims, Shella, plus sedih sedikit karena Sherry dan Yura ga ada, malam itu kalian keren sekali. Udah itu aja, sisanya mah ntar ajalah pas ngedongeng bareng yah. :))
Buat Mas Trie, duet maut partner seumur hidupku, kata saya juga visualnya cari orang jadi kamu bisa digangguin. Ah well, but we did it again ya mas.. :)
Untuk yang tidak tersebutkan namanya, yang membantu kita dari awal sampai akhir dengan bantuan dan dukungannya, terus untuk semua yang sudah susah hujan-hujanan membeli tiket, yang datang nonton, yang beli merchandise, yang karena datang terlambat ditolak di pintu masuk, yang mau antri dengan tertib dan bersedia mengikuti semua aturan, semua yang sudah berbagi energi bersama untuk menyaksikan Sarasvati.
Tanpa kalian semua, #Sunyaruri tidak akan menjadi nyata.
Boit
Bagian dari keluarga Sarasvati, Omu, EO jadi-jadian yang merasa ternyata kali ini bolong kerjaannya banyak juga tapi karena sudah berlalu hanya bisa meminta maaf dan berbahagia karena shownya keren, bandnya keren dan penontonnya senang semua termasuk saya juga kan jadi ikutan keren. Iyalah, ngurus 1200 orang teh ternyata banyak banget, untung yang bantuinnya banyak juga, segan. :))
"Aku dan Buih"
"Kira-kira berapa lama lagi pertunjukannya?"
Saya melihat ke arah kertas rundown dan menjawab, "yah, paling setengah jam lagi"
Padahal dalam hati hitungan saya kemungkinan pertunjukan mungkin masih berlangsung sekitar 40 menit sampai satu jam lagi.
"Invitation kemarin dilepas berapa?"
"1100"
Dialog selanjutnya adalah diskusi panas tentang kapasitas yang hampir tak cukup. Beberapa tindakan diambil termasuk menolak masuk pengunjung yang terlambat datang meski sudah membawa tiket. Begitu suasana saya rasa sudah cukup tenang, saya meminta ijin untuk melayani permintaan media yang meminta wawancara penyelenggara acara.
Selesai wawancara, saya masuk kembali ke area penonton dan ikut larut dalam kegembiraan bersama Sarasvamily. Saat itu sudah hampir sampai di penghujung acara, Sarasvati sedang membawakan Sunyaruri dan menutup acara lalu mereka keluar dari panggung. Didekat saya berdiri, anak-anak Sarasvamily tak henti-hentinya berteriak, lagi, lagi, lagi! Teriakan itu diikuti penonton lainnya dan tak lama kemudian lampu panggung kembali menyala.
Terdengar intro lagu perjalanan memakai piano dan terdengar suara perempuan "duduk dihadapanku..." Syaharani muncul ke atas panggung bersama Risa dan penonton kembali meledak bersorak-sorai. Usai Syaharani dan Sarasvati membawakan Perjalanan, lagu selanjutnya adalah Tiga Titik Hitam. Penonton tidak mengira kalau ternyata Sarasvati menyanyikan lagu tersebut bersama Fadly. Begitu Fadly muncul, ruangan kembali meledak dengan teriakan dan tepuk tangan. Tak terasa saya mengusap sudut mata. Lagu ini selalu membawa ingatan saya pada dua orang sahabat saya yang telah tiada. Usai Tiga Titik Hitam lalu Mirror juga dibawakan masih bersama Fadly dan pertunjukan pun usai sudah. Risa memanggil semua penampil ke atas panggung, semua penonton berdiri dan bertepuk tangan.Saya merasa sesak oleh rasa bangga dan haru juga larut dalam kegembiraan bersama teman-teman yang berada disekeliling saya.
Yang saya ingat lagi adalah malam itu saya memeluk banyak sekali orang yang saya sayangi yang hadir bersama di pesta #Sunyaruri.
Hari ini hari minggu. Sudah 3 hari berlalu dan kejutannya tak berhenti disitu. Di Instagram ada 600 lebih posting foto dengan #Sunyaruri. Timeline juga masih penuh dengan mention @sarasvatimusic tentang pesta kemarin dan teman-teman yang mencari produk Sunyaruri di @omuniuum.
Saya juga sudah berkali-kali menuliskan rasa syukur dan terima kasih tapi rasanya masih saja belum cukup. Kali ini, saya meminta maaf untuk segala kekurangan yang telah terjadi dan sebagai penghuni omu juga sebagai penjaga gawang Sarasvati plus bagian dari penyelenggara,tak lengkap rasanya jika saya belum menuliskan penutup sebagai tanda usainya acara.
Terima kasih yang paling utama pada keluarga besar Djarum Black Mild. Seisi kantor Otten, Pak Wiradi, Pak Budi Agus Salim, Pak Herman dan Mbak Vita, untuk cinta, dukungan dan kepercayaannya pada kegilaan kami.
Infamous Classic untuk wardrobe player yang bikin ganteng dan juga produknya yang melengkapi paket istimewa #Sunyaruri juga Fragrance Kikichan untuk gaun yang dikenakan oleh Risa dan Marshella, terimakasih banyak!
911 Stationary, Koh Arief untuk dummy buku Sunyaruri dan kesabarannya dalam melayani kecerewetan tetangga untuk melengkapi segala kebutuhan fotokopi dan print ID buat panitia. Juga untuk jagain gerbang Omu ketika tutup pas acara. Koh Arief keren deh, kalo ga ada kokoh sulit nih hidup kita.
Tim kreatif, dekor dan talent hantu gila-gilaan TragicMagic, the dulurs, Riana Rizki dan Denise, kalian memang selalu bikin orang jantungan entah di hasil, entah di proses, salut dan terimakasih udah mau dikerjain ama kakak-kakaknya, senang jadi bagian dari kalian. :)
Teh Astie dan tim sebagai show director dan Revan kepala tim produksi yang komprominya gila-gilaan, saya ga tau kalau ga ada kalian kita nasibnya gimana. Punten kalau ada yang kurang, hatur nuhun buat semuanya. Kan, kata saya juga kita mah EO jadi-jadian. Hahahaha.
Keluarga besar nan cerewet Sarasvamily buat teriakan yang paling kenceng, buat ikut bantuin jaga tiket, ngurusin ini dan itu dan entah apalagi pokoknya banyak karena kalian bertebaran dimana-mana. Tanpa bantuan kalian, kayaknya ibu bos pingsan dan Sarasvati ngga jadi manggung. Hahaha. Lagi, lagi, lagi! :))
Ink Rosemary, Mas Fadly, Syaharani dan Sara Wijayanto terimakasih untuk bersedia berbagi panggung dan berdendang bersama Sarasvati.
Kang Fitrah dan kawan-kawan untuk string dan Kirei untuk backing vokalnya, terimakasih, kalian ciamik sekali!
Feransis dan Nasrul Akbar, tangan kiri dan tangan kanan, anjing dan kucing ditambah Aris sebagai pawangnya, kalian yang membuat saya tersenyum paling lebar, terima kasih untuk banyak hal yang saking banyaknya susah banget diabsen. Belum bosan kan kerja bareng kita? :))
Olla, Berman dan tim keamanan Siaga Bintang, jangan galak-galak dong, sampe ga boleh masuk backstage segala. hahaha.. Maaf ber, makanannya kurang. Hahaha.. Keren, makasih!
Riandy Karuniawan untuk artworknya yang menghias buku Sunyaruri dan invitation dan media dan pembatas buku dan baligo dan lukisan dan lainnya, saya kagum terus sama kamu Ndi. :)
Maria Lubis, editor buku Sunyaruri yang tak hadir karena menyambut kelahiran dan benar-benar lahir beberapa hari setelah konser, selamat untuk kelahiran anak keduanya, terima kasih doanya!
Bang Indra Q yang mixing dan mastering album Sunyaruri yang janji datang tapi ga jadi gara-gara siap-siap mau manggung 30 tahun Slank, saya sebel ga bisa nonton abang! Terimakasih!
Ighe, Didit dan tim dokumentasi asuhan mas Nasrul plus Opik, terima kasih banyak untuk foto dan videonya.
Steven dan Alison, dari story of peter sampai Sunyaruri. Peluk cium untuk kalian. :)
Megadeth, Punjung dan tim translusen serta heartbreak station, terimakasih untuk Film dan dukungan plus mainan interaktifnya, untung dvdnya jadi pas hari H. Deg-degan gila!
Wiku, sahabat dan teman baik yang menyempatkan diri membantu ini itu, ikut menyiapkan paket dan juga menjaga tenda media panitia swasta, nuhun pisan ku. Pisan.
Ebet dan Harry yang tak bosan mengingatkan orang untuk memakai gelang di pintu masuk, kabarnya Ebet ngingetin pake gelangnya sampai kebawa mimpi ya? hahahaha. Tengkiyu!
Yudo Baskoro dan Monik tersayang, hatur nuhun buat bantuannya sebagai penghubung dengan label dan juga Iyo, punten ga sempet ngobrol panjang lebar, resep pan kamari nya yo? Nuhun!
Mang Okid buat bantuin di hari H, ngga tau tuh gimana caranya ngangkut 500 buku kalo ga ada mang Okid. Nuhun pisan! :)
Kang Inyo dan Pak Pandji, hatur nuhun untuk bantuannya. Besar artinya untuk kami.
Tim LO, Novi, Ipin dan Sasmi, mohon maaf ga menemui kalian satu persatu karena sibuk. Terimakasih untuk mengawal bintang tamu kita kemarin. Kapan-kapan mungkin lagi yah. :))
Tim Omuniuum dan #littleomu, Sony, Ivan, Yuyun dan Tina serta Irna dan Indra, untuk selalu setia di garda depan dan untuk senyum kalian yang selalu hadir. We love you.
Isak dan Kenken serta kru untuk sound dan lighting, hatur nuhun.
Koh Richad yang kepalanya sampe berasap karena ngejar beresnya cetakan buku dan pernak-perniknya. Terimakasih.
Kang Dadut untuk kompromi dan pengertiannya, punten kang, saaya-aya. :))
Mas Yusak, untuk segala bantuannya mengurus cetak mencetak CD dan DVD. Tepat waktu semuanya mas, nuhun.
Rackell terimakasih untuk stiker dan plastik packingnya. Keren.
Seluruh staff Padepokan Mayang Sunda untuk semua fasilitasnya dan pengertiannya, semoga bisa terus maju pantang mundur dan makin banyak acara keren di sana.
Acay, Iyo, Adun, Denden, Benk, Ghera, Utok, lamun aing euweuh maraneh, aing mah rek sare, cicing di imah weh, hahahaha. Segan. Kerjaan kalian keren abis!
Keluarga besar Sarasvati, Risa, Akew, Gallang, Gigi, Papay, Kevin, Mang Jims, Shella, plus sedih sedikit karena Sherry dan Yura ga ada, malam itu kalian keren sekali. Udah itu aja, sisanya mah ntar ajalah pas ngedongeng bareng yah. :))
Buat Mas Trie, duet maut partner seumur hidupku, kata saya juga visualnya cari orang jadi kamu bisa digangguin. Ah well, but we did it again ya mas.. :)
Untuk yang tidak tersebutkan namanya, yang membantu kita dari awal sampai akhir dengan bantuan dan dukungannya, terus untuk semua yang sudah susah hujan-hujanan membeli tiket, yang datang nonton, yang beli merchandise, yang karena datang terlambat ditolak di pintu masuk, yang mau antri dengan tertib dan bersedia mengikuti semua aturan, semua yang sudah berbagi energi bersama untuk menyaksikan Sarasvati.
Tanpa kalian semua, #Sunyaruri tidak akan menjadi nyata.
Boit
Bagian dari keluarga Sarasvati, Omu, EO jadi-jadian yang merasa ternyata kali ini bolong kerjaannya banyak juga tapi karena sudah berlalu hanya bisa meminta maaf dan berbahagia karena shownya keren, bandnya keren dan penontonnya senang semua termasuk saya juga kan jadi ikutan keren. Iyalah, ngurus 1200 orang teh ternyata banyak banget, untung yang bantuinnya banyak juga, segan. :))
Sunday, December 15, 2013
2013 tahun bahagia, tahun gila-gilaan bersama teman-teman
I believe,
And I believe 'cause I can see,
Our future days,
Days of you and me - Future Days - Pearl Jam
Saya tidak pernah mengira bisa sampai ke titik ini.
Tidak ada yang berubah dari hidup saya, masih begini-begini saja. Masih kerja di Omuniuum, masih berkegiatan banyak di sana. Yang tidak saya kira adalah ternyata Omu menawarkan banyak hal baru bagi saya.
Semester pertama tahun 2013, bulan Maret, bersama Sarasvati bikin acara Lengkah Maddah. Acaranya sehari, tapi di tujuh titik di Bandung. Kemana-mana naik landrover. Cerita lengkapnya klik aja ini: Catatan kecil dari LengkahMaddah. Dari situ saya benar-benar berkenalan dengan keluarga besar Sarasvati dan Sarasvamily.
Bulan April, pas record store day, omu bikin acara kecil judulnya Panggung OmuSesukaHati, yang main band teman-teman semua, sarasvati, nawaksara, bottlesmoker, komunal dan terapi urine . Acaranya di tengah toko. Malam itu ditutup dengan dj set Bottlesmoker dan itu acara meskipun skalanya kecil, yang datang hampir semua saling mengenal dan suasananya menyenangkan sekali.
Lalu bulan Mei, ada ajakan untuk sowan ke jogja bersama sarasvati untuk maen bareng Melancholic Bitch dan Sarita Fraya. Kita sih datang sebagai tamu tapi di banyak hal juga ikut ngerencanain ini dan itu. Dari Mitos Melankolia, saya belajar banyak banget dari Ojie dan Mas Gufi Kongsi Jahat.
Trus pas di Jogja, terpikirlah acara nekat buat nyulik Melancholic Bitch main di Bandung. Saya dan mas trie sibuk urun rembug berdua trus memaparkan ide kepada tim Liga Musik Nasional plus menggandeng alias minta sponsor Djarum dan jadilah acara Menuju Semesta di akhir bulan Mei. Mewah rasanya!
Bulan Agustus, bikin acara kembali bersama Sarasvati, acara buka puasa sembari mempersiapkan album Sunyaruri. Judulnya Menuju Sunyaruri.
Trus sama tim Liga Musik Nasional, bikin lagi acara bersama Komunal dan kembali menggandeng Djarum. Gemuruh Musik Pertiwi, itu terjadi di bulan oktober.
Ditengah-tengah persiapan Komunal, masuk tawaran untuk bikin acara pesta rilis Sunyaruri, merayakan lahirnya buku baru Risa dan album EP Sarasvati. Sempat tersendat karena beberapa kendala, akhirnya terselenggara tanggal 12 Desember 2013, juga bersama Djarum. Soal ini, cerita lengkapnya belum saya tulis yang pasti malam itu saya menyaksikan Sarasvati bersama kurang lebih 1200 penonton. Setelah tepuk tangan berakhir dan penonton mulai berjalan pulang, saya berkeliling memeluk semua orang, berterimakasih, dan setiap melihat foto-foto hasil dokumentasi, rasa haru ini masih belum hilang. Rasanya tidak percaya kalau hari kemarin memang terjadi.
Kembali pada kalimat pertama, saya tidak mengira kalau saya akan sampai di titik ini. Ngga ada di daftar cita-cita buat jadi EO, ngga ada di daftar cita-cita jadi manajer band, ngga ada rencana sama sekali. Kalau soal jualan kaos dan merchandise, dari dulu saya tau bakat saya memang disitu.
Yang pasti, semua ini tidak akan terjadi kalau saya tidak ketemu dengan teman-teman yang tepat, partner yang cocok dan mentor yang juga sama gilanya. Harus orang yang gila yang mau percaya pada tim gila seperti kita.
Hidup menawarkan banyak pilihan dan saya berada ditengah-tengah pilihan yang saya buat. Bersama kalian semua, keluarga dan teman-teman yang luar biasa.
Hellyeah!
And I believe 'cause I can see,
Our future days,
Days of you and me - Future Days - Pearl Jam
Saya tidak pernah mengira bisa sampai ke titik ini.
Tidak ada yang berubah dari hidup saya, masih begini-begini saja. Masih kerja di Omuniuum, masih berkegiatan banyak di sana. Yang tidak saya kira adalah ternyata Omu menawarkan banyak hal baru bagi saya.
Semester pertama tahun 2013, bulan Maret, bersama Sarasvati bikin acara Lengkah Maddah. Acaranya sehari, tapi di tujuh titik di Bandung. Kemana-mana naik landrover. Cerita lengkapnya klik aja ini: Catatan kecil dari LengkahMaddah. Dari situ saya benar-benar berkenalan dengan keluarga besar Sarasvati dan Sarasvamily.
Bulan April, pas record store day, omu bikin acara kecil judulnya Panggung OmuSesukaHati, yang main band teman-teman semua, sarasvati, nawaksara, bottlesmoker, komunal dan terapi urine . Acaranya di tengah toko. Malam itu ditutup dengan dj set Bottlesmoker dan itu acara meskipun skalanya kecil, yang datang hampir semua saling mengenal dan suasananya menyenangkan sekali.
Lalu bulan Mei, ada ajakan untuk sowan ke jogja bersama sarasvati untuk maen bareng Melancholic Bitch dan Sarita Fraya. Kita sih datang sebagai tamu tapi di banyak hal juga ikut ngerencanain ini dan itu. Dari Mitos Melankolia, saya belajar banyak banget dari Ojie dan Mas Gufi Kongsi Jahat.
Trus pas di Jogja, terpikirlah acara nekat buat nyulik Melancholic Bitch main di Bandung. Saya dan mas trie sibuk urun rembug berdua trus memaparkan ide kepada tim Liga Musik Nasional plus menggandeng alias minta sponsor Djarum dan jadilah acara Menuju Semesta di akhir bulan Mei. Mewah rasanya!
Bulan Agustus, bikin acara kembali bersama Sarasvati, acara buka puasa sembari mempersiapkan album Sunyaruri. Judulnya Menuju Sunyaruri.
Trus sama tim Liga Musik Nasional, bikin lagi acara bersama Komunal dan kembali menggandeng Djarum. Gemuruh Musik Pertiwi, itu terjadi di bulan oktober.
Ditengah-tengah persiapan Komunal, masuk tawaran untuk bikin acara pesta rilis Sunyaruri, merayakan lahirnya buku baru Risa dan album EP Sarasvati. Sempat tersendat karena beberapa kendala, akhirnya terselenggara tanggal 12 Desember 2013, juga bersama Djarum. Soal ini, cerita lengkapnya belum saya tulis yang pasti malam itu saya menyaksikan Sarasvati bersama kurang lebih 1200 penonton. Setelah tepuk tangan berakhir dan penonton mulai berjalan pulang, saya berkeliling memeluk semua orang, berterimakasih, dan setiap melihat foto-foto hasil dokumentasi, rasa haru ini masih belum hilang. Rasanya tidak percaya kalau hari kemarin memang terjadi.
Kembali pada kalimat pertama, saya tidak mengira kalau saya akan sampai di titik ini. Ngga ada di daftar cita-cita buat jadi EO, ngga ada di daftar cita-cita jadi manajer band, ngga ada rencana sama sekali. Kalau soal jualan kaos dan merchandise, dari dulu saya tau bakat saya memang disitu.
Yang pasti, semua ini tidak akan terjadi kalau saya tidak ketemu dengan teman-teman yang tepat, partner yang cocok dan mentor yang juga sama gilanya. Harus orang yang gila yang mau percaya pada tim gila seperti kita.
Hidup menawarkan banyak pilihan dan saya berada ditengah-tengah pilihan yang saya buat. Bersama kalian semua, keluarga dan teman-teman yang luar biasa.
Hellyeah!
Saturday, September 21, 2013
untuk murakami
Saya sangat menyukai tulisan Haruki Murakami dan kagum terhadap hal-hal yang dia tuliskan dengan bahasa yang mudah tapi detil dan deskriptif. Dari kemarin saya ingin menulis sebuah cerita pendek, semacam bahwa saya sudah membuat penghargaan atas karyanya dia. Mengikuti tradisi Murakami yang selalu memasukan lagu yang dia dengar, saya juga memasukan lagu dari penyanyi kesukaan saya, Manic Street Preachers.
Jam Sepuluh Malam
Saat itu pukul 21.41. Riana masih duduk dibelakang meja kasir. Sambil membereskan buku-buku dihadapannya, dia bersenandung pelan, "a design for a life.." itu adalah lagu kesukaan majikannya tapi karena lagu itu masuk ke dalam playlist yang selalu diputar di toko tempat dia bekerja, akhirnya dia juga menyukai lagu itu.
15 menit lagi tokonya tutup, dia mulai membereskan meja kerjanya ketika tiba-tiba dia mendengar langkah kaki di tangga. Riana megeluh pelan, masih ada pelanggan yang datang berarti kemungkinan besar dia akan pulang terlambat. Sudah menjadi kebijakan disana, meskipun pelanggan datang sepuluh menit sebelum toko tutup,dia harus menunggu pelanggan sampai selesai bertransaksi. Kalau pelanggannya jadi membeli, dia cukup senang, tapi kadang ada saja orang yang datang pada jam selarut itu lalu memutuskan untuk tidak membeli apa-apa.
Seorang pemuda bertubuh kurus, berkacamata masuk dan menghampiri salah satu rak buku tidak jauh dari meja tempat Riana. Sekilas dia melirik pemuda itu, memakai flanel, jeans biru dan sepatu keds, tak ada yang istimewa. Pemuda itu melihat-lihat rak sebentar sebelum akhirnya memilih buku haruki murakami, after dark.
Riana berusaha tidak berteriak untuk mencegah pemuda itu mengambil buku itu, masalahnya, dia sangat menginginkannya tapi dia belum gajian dan dia lupa menaruhnya di tempat yang tersembunyi. Dia berharap semoga pemuda itu tak jadi membelinya. Pemuda itu lalu duduk di sofa yang memang sengaja disediakan untuk orang yang mau membaca.
Riana berusaha memperlihatkan gestur bahwa dia sibuk beres-beres karena hendak menutup toko. keningnya berkerut melihat jam. 21.55, harusnya toko tutup 5 menit lagi.
"mbak, lagunya boleh diulang? yang sebelum ini, Rewind The Film itu dari manic street yang baru kan?" tiba-tiba pemuda itu berbicara pada Riana.
"Bisa mas, eh tapi sekali aja ya, tokonya udah mau tutup, udah hampir jam sepuluh".
Pemuda itu hanya mengangguk lalu melanjutkan membaca buku yang dia pegang.
21.59 dan si pemuda tak ada tanda-tanda untuk beranjak. Riana menunggu dengan gelisah.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Layarnya menampilkan nama Indra. Riana kembali menarik nafas dan mengangkat teleponnya.
"Halo Ndra," katanya.
"Ri, dimana? gue udah nungguin nih ditempat biasa, udah tutup kan? udah selesai beres-beres?" kata suara diseberang sana.
Riana dengan suara pelan membalas perkataan Indra "belum dra, ini masih ada pelanggan di toko, duh, tungguin ya, kayaknya masih agak lama"
Pemuda si pembaca buku diam-diam melirik Riana dan tersenyum kecil. Pemuda itu melirik jam ditangannya, 22.07. Dia masih menunggu temannya datang tapi lupa kalau toko kecil itu tutup jam sepuluh dan temannya belum menampakkan batang hidungnya. Dengan cuek, dia meneruskan kembali membaca.
Riana masih berbicara beberapa detik sebelum menutup telepon. dia melihat jam, 22.09. Dia meraih kunci gudang lalu berjalan menuju gudang diruang belakang dan menutup pintu gudang lalu menguncinya, kemudian kembali duduk di belakang meja kasir.
Tak lama terdengar langkah kaki di tangga. Riana menggaruk kepalanya karena bingung, kenapa masih ada lagi orang yang datang pada jam ini. Seorang perempuan manis, memakai kemeja putih, celana pendek, legging dan boots masuk dan melihat sekeliling toko lalu berjalan menghampiri pemuda yang duduk di sofa.
"Hey, gila! Udah lama?" katanya sambil duduk di sebelah si pemuda.
"ya lama, nungguin lu datang." balas si pemuda.
"waaah, murakami, buat gue dong" kata si perempuan lagi.
"ngga' mau, gue mau beli. bentar gue bayar" kata si pemuda sambil berdiri dan menghampiri meja Riana.
"Ini mbak, uangnya. maaf, bikin lama nunggu." kata si Pemuda sambil memberikan uang sesuai dengan label harga yang tertera di halaman belakang buku.
"Iya mas, uang pas ya? makasih, eh tapi di bon dulu mas sebentar ya," kata Riana.
Sambil menahan rasa kesal karena buku yang dia inginkan diambil oleh orang lain, Riana menuliskan harga, memasukkan buku kedalam kantung plastik dan memberikannya pada si pemuda.
"Makasih ya mbak," kata si pemuda sambil memberikan isyarat pada teman perempuannya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Mereka lalu berjalan beriringan dan pelan-pelan Riana mendengar suara tawa dan suara langkah mereka menghilang.
Riana menghela nafas lalu membereskan beberapa barangnya untuk dimasukkan kedalam tas. Mematikan komputer, mematikan lampu, menutup pintu dan mengunci pintu toko. Lalu dia menaruh kuncinya di tempat biasa untuk besok yang berjaga pagi membuka toko. Dia mematikan ruang belakang lalu berjalan menuju tangga. Sambil berjalan, dia menulis pesan pendek dihapenya.
"otw ndra, baru tutup, pelanggannya baru pulang".
Dia mematikan lampu dibawah tangga. Sebelum mematikan lampu dan keadaan menjadi gelap gulita, dia sempat melihat jamnya, 22.24.
Riana lalu melangkah keluar ruko dan menutup gerbang kemudian menguncinya.
Sambil berjalan pelan dia bersenandung kembali, a design for life..
- fin -
Jam Sepuluh Malam
Saat itu pukul 21.41. Riana masih duduk dibelakang meja kasir. Sambil membereskan buku-buku dihadapannya, dia bersenandung pelan, "a design for a life.." itu adalah lagu kesukaan majikannya tapi karena lagu itu masuk ke dalam playlist yang selalu diputar di toko tempat dia bekerja, akhirnya dia juga menyukai lagu itu.
15 menit lagi tokonya tutup, dia mulai membereskan meja kerjanya ketika tiba-tiba dia mendengar langkah kaki di tangga. Riana megeluh pelan, masih ada pelanggan yang datang berarti kemungkinan besar dia akan pulang terlambat. Sudah menjadi kebijakan disana, meskipun pelanggan datang sepuluh menit sebelum toko tutup,dia harus menunggu pelanggan sampai selesai bertransaksi. Kalau pelanggannya jadi membeli, dia cukup senang, tapi kadang ada saja orang yang datang pada jam selarut itu lalu memutuskan untuk tidak membeli apa-apa.
Seorang pemuda bertubuh kurus, berkacamata masuk dan menghampiri salah satu rak buku tidak jauh dari meja tempat Riana. Sekilas dia melirik pemuda itu, memakai flanel, jeans biru dan sepatu keds, tak ada yang istimewa. Pemuda itu melihat-lihat rak sebentar sebelum akhirnya memilih buku haruki murakami, after dark.
Riana berusaha tidak berteriak untuk mencegah pemuda itu mengambil buku itu, masalahnya, dia sangat menginginkannya tapi dia belum gajian dan dia lupa menaruhnya di tempat yang tersembunyi. Dia berharap semoga pemuda itu tak jadi membelinya. Pemuda itu lalu duduk di sofa yang memang sengaja disediakan untuk orang yang mau membaca.
Riana berusaha memperlihatkan gestur bahwa dia sibuk beres-beres karena hendak menutup toko. keningnya berkerut melihat jam. 21.55, harusnya toko tutup 5 menit lagi.
"mbak, lagunya boleh diulang? yang sebelum ini, Rewind The Film itu dari manic street yang baru kan?" tiba-tiba pemuda itu berbicara pada Riana.
"Bisa mas, eh tapi sekali aja ya, tokonya udah mau tutup, udah hampir jam sepuluh".
Pemuda itu hanya mengangguk lalu melanjutkan membaca buku yang dia pegang.
21.59 dan si pemuda tak ada tanda-tanda untuk beranjak. Riana menunggu dengan gelisah.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Layarnya menampilkan nama Indra. Riana kembali menarik nafas dan mengangkat teleponnya.
"Halo Ndra," katanya.
"Ri, dimana? gue udah nungguin nih ditempat biasa, udah tutup kan? udah selesai beres-beres?" kata suara diseberang sana.
Riana dengan suara pelan membalas perkataan Indra "belum dra, ini masih ada pelanggan di toko, duh, tungguin ya, kayaknya masih agak lama"
Pemuda si pembaca buku diam-diam melirik Riana dan tersenyum kecil. Pemuda itu melirik jam ditangannya, 22.07. Dia masih menunggu temannya datang tapi lupa kalau toko kecil itu tutup jam sepuluh dan temannya belum menampakkan batang hidungnya. Dengan cuek, dia meneruskan kembali membaca.
Riana masih berbicara beberapa detik sebelum menutup telepon. dia melihat jam, 22.09. Dia meraih kunci gudang lalu berjalan menuju gudang diruang belakang dan menutup pintu gudang lalu menguncinya, kemudian kembali duduk di belakang meja kasir.
Tak lama terdengar langkah kaki di tangga. Riana menggaruk kepalanya karena bingung, kenapa masih ada lagi orang yang datang pada jam ini. Seorang perempuan manis, memakai kemeja putih, celana pendek, legging dan boots masuk dan melihat sekeliling toko lalu berjalan menghampiri pemuda yang duduk di sofa.
"Hey, gila! Udah lama?" katanya sambil duduk di sebelah si pemuda.
"ya lama, nungguin lu datang." balas si pemuda.
"waaah, murakami, buat gue dong" kata si perempuan lagi.
"ngga' mau, gue mau beli. bentar gue bayar" kata si pemuda sambil berdiri dan menghampiri meja Riana.
"Ini mbak, uangnya. maaf, bikin lama nunggu." kata si Pemuda sambil memberikan uang sesuai dengan label harga yang tertera di halaman belakang buku.
"Iya mas, uang pas ya? makasih, eh tapi di bon dulu mas sebentar ya," kata Riana.
Sambil menahan rasa kesal karena buku yang dia inginkan diambil oleh orang lain, Riana menuliskan harga, memasukkan buku kedalam kantung plastik dan memberikannya pada si pemuda.
"Makasih ya mbak," kata si pemuda sambil memberikan isyarat pada teman perempuannya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Mereka lalu berjalan beriringan dan pelan-pelan Riana mendengar suara tawa dan suara langkah mereka menghilang.
Riana menghela nafas lalu membereskan beberapa barangnya untuk dimasukkan kedalam tas. Mematikan komputer, mematikan lampu, menutup pintu dan mengunci pintu toko. Lalu dia menaruh kuncinya di tempat biasa untuk besok yang berjaga pagi membuka toko. Dia mematikan ruang belakang lalu berjalan menuju tangga. Sambil berjalan, dia menulis pesan pendek dihapenya.
"otw ndra, baru tutup, pelanggannya baru pulang".
Dia mematikan lampu dibawah tangga. Sebelum mematikan lampu dan keadaan menjadi gelap gulita, dia sempat melihat jamnya, 22.24.
Riana lalu melangkah keluar ruko dan menutup gerbang kemudian menguncinya.
Sambil berjalan pelan dia bersenandung kembali, a design for life..
- fin -
Wednesday, July 17, 2013
catatan kecil empatbelasjuliduaributigabelas
Masuk tol Cipularang dengan mobil pinjaman dari Risa, bersama beberapa orang teman, Wiku, Agam, Ricky, Feransis dan tentunya partnerincrime alias teman sepenghidupan saya Mas Trie, Saya masih mengutuk tanggalan.
Kemarin itu tanggal 13 Juli. Saya lupa kalau hari itu di facebook, bertahun lalu, ketika membuat akun untuk Omu dan mengisi tanggalan untuk tanggal lahir, saya mengisi tanggal 13 juli. Mana saya tahu kalau pada tanggal itu juga menjadi penanda untuk saya selalu mengingat sahabat baik saya, almarhum Merry. Tanggal itu, 4 tahun yang lalu adalah hari perayaan ulang tahun Omu dan ulang tahun dia, hari terakhir saya makan rame-rame di Omu bareng dia.
Dan tahun-tahun setelah itu, saya selalu terjebak pada dua suasana hati pada tanggal itu. Antara sedih tapi juga senang karena makin lama yang ngucapin selamat ke omu makin banyak, artinya teman-temannya omu makin banyak dan situasi dan kondisi Omu juga makin menyenangkan karena isinya juga makin asyik. Sedih karena tanggal itu juga jadi pengingat saya untuk oh iya, nanti tanggal 16 Juli harus mampir ke makamnya Merry.
Saya juga tidak ingat tanggal itu ketika mengiyakan dan meng-hore-kan (hore!) tanggalan untuk pentasnya Melancholic Bitch. Saya baru ingat paginya saat mengecek twitter Omu dan ada banyak ucapan selamat ulang tahun. Ah, sial, maki saya dalam hati, Apalagi ketika membaca ucapan selamat dari tim Omu, harusnya saya ada di toko bareng mereka untuk merayakan. Tapi mobil sudah melaju entah di kilometer berapa saat itu dan kami masih melakukan perjalanan dengan riang gembira.
Bepergian dengan anggota rombongan yang kemarin, sama sekali tidak bisa terselip rasa sedih. Karena kita "rusak". Sepanjang perjalanan ada saja hal yang ditertawakan. Mulai dari kebodohan, candaan soal ras, situasi sosial, semuanya bisa jadi bahan untuk tertawa.
Masuk Jakarta baru pukul tiga sore lebih sedikit. Masuk Pasific Place, jam setengah empat sore. Perkiraan kita tadinya kita sampai jam setengah lima. Akhirnya sebelum memutuskan untuk masuk ke @atamerica tempat konser Melancholic Bitch, kita muter-muter dulu di PP. Sambil berkeliling saya bertanya-tanya dalam hati, ini gue yang kampungan, tempatnya yang super mewah atau gue yang udah lama ngga main ke mall sebesar itu, pokoknya begitu menginjakan kaki di PP, rasanya semua aturan sosial dan lainnya tertinggal di gerbang pintu masuk. Saya juga sempat melontarkan pertanyaan eh, ditempat model begini, pada puasa atau ngga ya?
Memasuki @atamerica, ketemu lorong lalu bertemu dengan xray detector untuk scanning isi tas, lalu loker, tas harus ditaro di loker. Setelah menaruh tas, lewat pintu detector logam lagi lalu body scan lalu baru membuka sebuah pintu. melangkahkan kaki masuk oh begini toh isinya. Semacam penuh teknologi mutakhir yang isinya adalah layar led dan ipad dimana-mana.
Masuk auditorium tempat acara, tampak muka-muka yang sudah dikenal dan beberapa tampak sedang berdebat. Saya mencari wajah Ugo dan Yossy yang juga terlihat sedang kesal. Kita awalnya sempat bingung tapi akhirnya saya memutuskan untuk duduk sebelah Mas Gendel, dia bilang kalau dia tidak boleh mengoperasikan mixer untuk mengecek sound. Sebelum kita sampai ternyata sudah sempat cekson tapi oleh operator dari @atamerica dan menurut semua ceksonnya belum beres. Setelah beberapa lama berdebat, tampak masalah sudah selesai, Mas Gendel bisa melakukan tugasnya seperti biasa dan Melbi melakukan cekson.
Sesudah itu, karena sebentar lagi maghrib, kita ikut rombongan untuk buka puasa. Kita kembali menyusuri mall untuk menuju lantai tempat parkir, ada kantin karyawan disana. Berpapasan dengan Cholil dan Irma istrinya, mereka juga jadinya ikut kita untuk makan. Seusai makan kami berjalan kaki kembali ke lantai atas sambil berbincang. Ugo berkali-kali bilang duh, jangan dibandingin dengan di IFI ya.
Saya hanya tertawa. Buat saya pribadi tidak ada konser yang rasanya sama ditambah pertunjukan Melancholic Bitch di IFI memang salah satu pertunjukan istimewa bagi saya sendiri, dan kemarin, entah kenapa, saya punya keyakinan bahwa Melancholic Bitch sudah tidak punya hal yang dikhawatirkan.
Saya hanya tertawa. Buat saya pribadi tidak ada konser yang rasanya sama ditambah pertunjukan Melancholic Bitch di IFI memang salah satu pertunjukan istimewa bagi saya sendiri, dan kemarin, entah kenapa, saya punya keyakinan bahwa Melancholic Bitch sudah tidak punya hal yang dikhawatirkan.
Dan itu terbukti. Memasuki ruang auditorium @atamerica penonton tampak sudah menanti Melancholic Bitch naik panggung. Tak berapa lama, Mbak-mbak manis bersuara cempreng ngga jelas membuka acara menjelaskan tentang @atamerica yang ngga jelas diakhiri dengan semacam "inilah Simelbi!"
Dibuka dengan lagu Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate lalu diteruskan dengan lagu-lagu selanjutnya, yang saya paling ingat justru ketika mereka membawakan lagu Erderly Woman Behind The Counter in Small Town milik Pearl Jam. Diluar itu selain tetap merasa senang dan ikut menyanyi disetiap lagu masih ada juga rasa kesal karena tidak bisa berdiri dan ikut bergoyang bahkan ketika lagu distopia. Saya iri pada Ugo dan pasangan duetnya mbak Tania dipanggung yang berjoget dengan asyik. Cukup kaget pada lagu Kabar dari Tepi Atap Pencakar Langit dibawakan dengan beat yang lebih kencang dari terakhir saya melihat di IFI dan karena saya bukan penggemar Velvet Underground, ketika mereka meng-cover lagu Candy Says, saya hanya merasa kalau mereka lebih bagus daripada band aslinya.
Sepanjang pertunjukan saya berkali-kali melihat sekeliling, melihat penonton yang merespon pertunjukan dengan asyik meskipun dengan gerak terbatas. Merasa senang karena saya ada di sana.
Usai pertunjukan, setelah berhaha-hihi dengan banyak orang, kami ikut bersama rombongan sebagian naik bis sebagian berjalan kaki menuju sebuah resto di Senopati. Melanjutkan malam dengan berbincang, tertawa dan diakhiri dengan berpamitan malam itu, saya sudah lupa bahwa saya sedang mengutuk tanggalan.
selesai tanggal tujuhbelasjuliduaributigabelas
boit
yang merasa kalau tugasnya sudah beres dengan melancholic bitch untuk saat ini karena selain sudah mengadakan konser yang oke bareng mereka dan ternyata mereka sudah tumbuh menjalar kemana-mana dan sebagai fans marilah pindah ke fase menunggu album baru. :)
Tuesday, June 04, 2013
Mixtape Menuju Semesta
Melengkapi potongan cerita di blog Liga Musik Nasional soal konser #menujusemesta, sebetulnya kemarin itu saya kebagian bikin playlist lagu untuk menemani teman-teman yang sedang menunggu band selesai setting panggung setelah pintu masuk auditorium di buka.
Waktunya sekitar setengah sampai satu jam jadi saya menyiapkan sekitar 16 lagu. Saya memilih lagu sambil membayangkan mood saya dan juga sambil bermain menjadi Joni atau Susi dan lagu apa yang mereka dengarkan. By the way, Joni dan Susi versi saya, bukan yang tinggal dipinggiran sambil mendengarkan lagu dangdut yang mengalun dari radio tape dari pasar dekat rumah mereka. Joni dan Susi versi saya tumbuh di tahun 90-an, punya banyak kawan yang memberi mereka petunjuk untuk mempunyai selera musik yang enak didengar dan mereka tidak mati. Mereka masih hidup dan baik-baik saja.
Terus sembari bikin daftar lagu, dibikinin covernya ama Feransis. Kayak gini:
Kalo teman-teman mau mixtape ini, kirim aja emailnya ke omuniuum@gmail.com (iya, saya ngga punya email pribadi) memakai subject mixtape #menujusemesta. Nanti saya share linknya. :)
Ini lagu-lagu di mixtapenya:
1. Love Song - Naimee Coleman
Aslinya lagunya punya The Cure. Saya ngga tau Joni atau Susi mendengarkan versi yang mana tapi saya yakin mereka pasti punya lagu ini didalam playlist mereka.
2. Caramel - Suzanne Vega
Susi pas dengerin ini lagi mikir Joni cocok atau ngga jadi pacarnya karena mereka sudah dekat tapi ragu-ragu. Jadi yang bilang Susi dan Joni serasi, mungkin aja ngga'.
3. Time After Time - Everything But The Girl
Sebetulnya lagu ini milik Cyndi Lauper tapi Susi suka versi yang ini karena lebih 90-an. Joni tentu saja lebih suka versi Cyndi, soalnya dia generasi 80-an.
4. One Lazy Morning - Brett Anderson
Susi dan Joni pasti pernah nonton konser Suede dua kali. Saya juga pernah. Jadi mungkin saat itu saya seruangan dengan mereka.
5. Everytime - Glen Hansard & Colm Mac Con Iomare
Ini lagunya Britney Spears, Susi suka lagunya tapi Susi ngga suka Britney Spears dan tiba-tiba ada versi ini yang Joni lupa awalnya denger dimana, dia kasih ke Susi dan karena Susi suka Glen Hansard dia senang sekali.
6. (I Can't Seem to) Make You Mine - The Clientele
Joni putus asa dengan keadaan. Susi lagi sedih karena dilarang ketemu Joni. Mereka berkirim pesan untuk sama-sama mendengarkan lagu ini.
7. With Or Without You - Keane
Joni dan Susi sedang merasa saling mencintai dan membenci satu sama lain sekaligus.
8. Wish You Were Here - Catherine Wheel
Susi suka Pink Floyd. Joni suka protes kalau Susi keseringan memutar lagu ini. Jadi Joni akhirnya mencari berbagai macam versi lagu ini dan mereka paling suka yang ini.
9. Hoppipolla - We Are Scientist
Mereka suka Sigur Ros karena nama vokalisnya Jonsi = Joni dan Susi. Joni sering mencari arti dari lagu-lagu mereka dan lagu Hoppipolla ini ternyata tentang main dikubangan tanpa memakai sepatu sampai jatuh dan mimisan karena kedinginan tapi selalu berdiri lagi. Susi tidak percaya dan berniat menanyakan sendiri pada Jonsi saat mereka ke Islandia saat mereka sudah kaya raya. Kalau mereka sudah bosan dengan Hoppipolla versi asli, mereka memutar versi yang ini.
10. Until The End of the World - Apoptygma Berzerk
Mereka sedang berjanji sehidup semati sambil berpelukan di sebuah halte bis ditengah cahaya kota yang sayup terkena hujan.
11. My Blue Heaven - Smashing Pumpkins
Sebagai generasi 90-an, tentu saja mereka punya album Smashing Pumpkins Aeroplane Flies High box set. Mereka pertama kali melihat album itu di rumah seorang teman mereka dan Joni membelikannya untuk hadiah ulang tahun Susi.
12. Perfect Day - DuranDuran
Joni dan Susi di Bandung, menonton pertunjukan Melancholic Bitch #menujusemesta malam itu Saat Joni menurunkan Susi di depan gang tempat tinggalnya, sebelum Susi sempat memalingkan muka, Joni mencium pipinya. Susi malu dan lari menuju rumah sambil berdendang lagu ini.
13. Half The World Away - Oasis
Joni yang suka lagu ini karena ini kayak bukan Oasis. Susi sangat suka Oasis dan Joni bosan mendengarkan Oasis.
14. The Next life - Suede
Sekali lagi, mereka pasti pernah nonton Suede dan ingin lagu ini dimainkan, tapi keinginan mereka tidak terkabul.
15. Commuter Love - The Divine Comedy
Pertama kali mendengar lagu ini, yang kemudian saya lakukan adalah mencari liriknya. Tadinya saat mendengar selewat saya sempat berpikir kalau ini lagu biasa saja tapi ternyata liriknya bercerita soal seorang lelaki yang mengamati seorang perempuan yang dia suka di stasiun tapi ngga mau ngajak kenalan karena menurut dia perempuan itu oke dan dia tidak mau mengambil resiko untuk entah patah hati entah menyakiti hatinya.
Mungkin saat itu Joni sudah ketemu Susi tapi suka melihat perempuan ini di stasiun setiap pagi saat Joni mau pergi ke kantor dan perempuan itu selalu mengingatkan dia akan Susi. Jadi Joni ingin kenalan tapi ngga berani menyakiti hatinya karena ingat Susi.
16. My Way - Frank Sinatra
Heroik. Dari dulu, kalau dengerin lagu ini saya selalu membayangkan seseorang yang suksesnya minta ampun, lalu menyanyi dengan semangat sambil tersenyum mengingat semua yang telah dia lewati untuk bicara "i did it my way".
Joni dan Susi menemukan jalannya lewat Melancholic Bitch dan menjelma dongeng yang disampaikan terus-menerus setiap kali ada seseorang memainkan lagu mereka. Saya berpikir kalau hari saya bersama teman-teman anggota rombongan #menujusemesta membuat konser adalah hari yang menyenangkan. Saat saya menulis ini saya mengenang hari sembari tersenyum karena ternyata semuanya berjalan menyenangkan sekali. Yes, we did it our way! :)
Waktunya sekitar setengah sampai satu jam jadi saya menyiapkan sekitar 16 lagu. Saya memilih lagu sambil membayangkan mood saya dan juga sambil bermain menjadi Joni atau Susi dan lagu apa yang mereka dengarkan. By the way, Joni dan Susi versi saya, bukan yang tinggal dipinggiran sambil mendengarkan lagu dangdut yang mengalun dari radio tape dari pasar dekat rumah mereka. Joni dan Susi versi saya tumbuh di tahun 90-an, punya banyak kawan yang memberi mereka petunjuk untuk mempunyai selera musik yang enak didengar dan mereka tidak mati. Mereka masih hidup dan baik-baik saja.
Terus sembari bikin daftar lagu, dibikinin covernya ama Feransis. Kayak gini:
Kalo teman-teman mau mixtape ini, kirim aja emailnya ke omuniuum@gmail.com (iya, saya ngga punya email pribadi) memakai subject mixtape #menujusemesta. Nanti saya share linknya. :)
Ini lagu-lagu di mixtapenya:
1. Love Song - Naimee Coleman
Aslinya lagunya punya The Cure. Saya ngga tau Joni atau Susi mendengarkan versi yang mana tapi saya yakin mereka pasti punya lagu ini didalam playlist mereka.
2. Caramel - Suzanne Vega
Susi pas dengerin ini lagi mikir Joni cocok atau ngga jadi pacarnya karena mereka sudah dekat tapi ragu-ragu. Jadi yang bilang Susi dan Joni serasi, mungkin aja ngga'.
3. Time After Time - Everything But The Girl
Sebetulnya lagu ini milik Cyndi Lauper tapi Susi suka versi yang ini karena lebih 90-an. Joni tentu saja lebih suka versi Cyndi, soalnya dia generasi 80-an.
4. One Lazy Morning - Brett Anderson
Susi dan Joni pasti pernah nonton konser Suede dua kali. Saya juga pernah. Jadi mungkin saat itu saya seruangan dengan mereka.
5. Everytime - Glen Hansard & Colm Mac Con Iomare
Ini lagunya Britney Spears, Susi suka lagunya tapi Susi ngga suka Britney Spears dan tiba-tiba ada versi ini yang Joni lupa awalnya denger dimana, dia kasih ke Susi dan karena Susi suka Glen Hansard dia senang sekali.
6. (I Can't Seem to) Make You Mine - The Clientele
Joni putus asa dengan keadaan. Susi lagi sedih karena dilarang ketemu Joni. Mereka berkirim pesan untuk sama-sama mendengarkan lagu ini.
7. With Or Without You - Keane
Joni dan Susi sedang merasa saling mencintai dan membenci satu sama lain sekaligus.
8. Wish You Were Here - Catherine Wheel
Susi suka Pink Floyd. Joni suka protes kalau Susi keseringan memutar lagu ini. Jadi Joni akhirnya mencari berbagai macam versi lagu ini dan mereka paling suka yang ini.
9. Hoppipolla - We Are Scientist
Mereka suka Sigur Ros karena nama vokalisnya Jonsi = Joni dan Susi. Joni sering mencari arti dari lagu-lagu mereka dan lagu Hoppipolla ini ternyata tentang main dikubangan tanpa memakai sepatu sampai jatuh dan mimisan karena kedinginan tapi selalu berdiri lagi. Susi tidak percaya dan berniat menanyakan sendiri pada Jonsi saat mereka ke Islandia saat mereka sudah kaya raya. Kalau mereka sudah bosan dengan Hoppipolla versi asli, mereka memutar versi yang ini.
10. Until The End of the World - Apoptygma Berzerk
Mereka sedang berjanji sehidup semati sambil berpelukan di sebuah halte bis ditengah cahaya kota yang sayup terkena hujan.
11. My Blue Heaven - Smashing Pumpkins
Sebagai generasi 90-an, tentu saja mereka punya album Smashing Pumpkins Aeroplane Flies High box set. Mereka pertama kali melihat album itu di rumah seorang teman mereka dan Joni membelikannya untuk hadiah ulang tahun Susi.
12. Perfect Day - DuranDuran
Joni dan Susi di Bandung, menonton pertunjukan Melancholic Bitch #menujusemesta malam itu Saat Joni menurunkan Susi di depan gang tempat tinggalnya, sebelum Susi sempat memalingkan muka, Joni mencium pipinya. Susi malu dan lari menuju rumah sambil berdendang lagu ini.
13. Half The World Away - Oasis
Joni yang suka lagu ini karena ini kayak bukan Oasis. Susi sangat suka Oasis dan Joni bosan mendengarkan Oasis.
14. The Next life - Suede
Sekali lagi, mereka pasti pernah nonton Suede dan ingin lagu ini dimainkan, tapi keinginan mereka tidak terkabul.
15. Commuter Love - The Divine Comedy
Pertama kali mendengar lagu ini, yang kemudian saya lakukan adalah mencari liriknya. Tadinya saat mendengar selewat saya sempat berpikir kalau ini lagu biasa saja tapi ternyata liriknya bercerita soal seorang lelaki yang mengamati seorang perempuan yang dia suka di stasiun tapi ngga mau ngajak kenalan karena menurut dia perempuan itu oke dan dia tidak mau mengambil resiko untuk entah patah hati entah menyakiti hatinya.
Mungkin saat itu Joni sudah ketemu Susi tapi suka melihat perempuan ini di stasiun setiap pagi saat Joni mau pergi ke kantor dan perempuan itu selalu mengingatkan dia akan Susi. Jadi Joni ingin kenalan tapi ngga berani menyakiti hatinya karena ingat Susi.
16. My Way - Frank Sinatra
Heroik. Dari dulu, kalau dengerin lagu ini saya selalu membayangkan seseorang yang suksesnya minta ampun, lalu menyanyi dengan semangat sambil tersenyum mengingat semua yang telah dia lewati untuk bicara "i did it my way".
Joni dan Susi menemukan jalannya lewat Melancholic Bitch dan menjelma dongeng yang disampaikan terus-menerus setiap kali ada seseorang memainkan lagu mereka. Saya berpikir kalau hari saya bersama teman-teman anggota rombongan #menujusemesta membuat konser adalah hari yang menyenangkan. Saat saya menulis ini saya mengenang hari sembari tersenyum karena ternyata semuanya berjalan menyenangkan sekali. Yes, we did it our way! :)
Thursday, July 19, 2012
Catatan Kecil dari Sebuah Album Bertajuk Taring
menancap dalam
menolak diam
menancap dalam
taring! taring! taring! taringku! - Taring | Seringai
Kalau diperbolehkan memilih pekerjaan apapun yang diinginkan oleh saya, maka saya akan tetap memilih apa yang dilakukan oleh saya sekarang. Kenapa ? Karena lewat sini saya menemukan banyak hal yang istimewa, bertemu dengan teman-teman yang istimewa, mengerjakan hal yang tampak kecil tapi mungkin berarti buat banyak orang.
Kalau saya tidak ada disini, saya tidak akan mengalami hari dimana tempat saya bekerja dihujani banyak permintaan, didatangi banyak orang. Diberi senyum dan pujian sekaligus di caci maki oleh teman-teman yang tidak mendapatkan apa yang diinginkan karena padatnya trafik dan banyak rekues yang tidak tertangani. Untuk yang terakhir, saya hanya bisa meminta maaf.
11 Juli 2012 adalah tanggal yang ditentukan oleh Seringai, merilis albumnya yang baru, Taring. Dirilis dalam dua format, deluxe edition dan reguler version, Seringai memilih dua tempat saja untuk merilis yang deluxe edition. Omuniuum dan Lawless. Yang reguler, diedarkan melalui jalur distribusi biasa via Demajors.
450 kopi adalah jumlah yang ditentukan untuk masing-masing tempat. Diumumkan beberapa hari sebelumnya, tanpa ada preorder, trafik pertanyaan melalui social media, sms, facebook, email, meningkat terus bertanya tentang harga, kapan rilis, perbedaan versinya apa dan kenapa tidak boleh preorder, titip dan seterusnya dan lain sebagainya.
Banyak juga teman dekat yang berusaha membujuk dan mendekati saya untuk bisa memastikan mereka bisa mendapatkan Taring pada hari H. Semua saya tolak. Biar adil, semua saya suruh langsung datang ke Omu atau ingatkan saya pada hari H untuk menyisihkan jatah mereka. Padahal, sebetulnya saya juga diam-diam sudah menyisihkan, cuma pengen tahu saja usahanya sampai mana. :)
Hari H. Tidak seperti biasanya, saya berangkat pagi ke toko. Jam 10.15 sudah sampai Omu, melihat sudah terjadi antrian di depan kasir. Telepon genggam untuk menerima pesanan belum dinyalakan. Dua orang lagi punggawa Omu belum datang. Begitu mereka datang, telepon dinyalakan, mengalirlah pesanan sms. 200, 300 sampai 700 lebih. Dibalas 50 bertambah 100. Dibalas 100, bertambah 200. Yang tidak terbaca tidak pernah turun dari angka 600.
Yang marah via twitter entah berapa banyak. Semua memaki karena tidak terbalas smsnya. Puncaknya, jam 7 malam, telepon genggamnya tiba-tiba mati total. Jreng. Jalur email di buka. Yang pintar langsung email dan memesan. Yang ingat punya teman di Bandung atau Jakarta, langsung titip temannya yang sedang mampir ke Omu atau Lawless. Yang panik tetap panik. Kami semua di sini juga sebetulnya sedikit panik tapi tetap bekerja keras demi semua terbalas. Meskipun kenyataannya karena memang permintaan dan rekuesnya yang terlalu tinggi, mungkin ibaratnya yang beruntung, kebetulan terbalas, terlayani dengan cepat dan yang tidak ya tidak sama sekali. Itupun masih saja ada yang luput konfirmasinya tidak terbaca atau menurut catatan sudah dikirim tapi begitu cek data belum terkirim.
3 hari. sekitar 200 datang ke Omu langsung. Sisanya menjadi rebutan entah berapa orang melalui jalur sms dan email. Saya belum pernah mengalami situasi seperti ini di Omuniuum. Meski sudah beberapa kali mengalami lonjakan permintaan untuk album yang baru rilis, kali ini permintaan yang datang benar-benar diluar perkiraan kami. Teman-teman yang sudah mengerti hanya tertawa ketika menengok saya di Omu. Beberapa menyaksikan sendiri saya juga ikut membungkus paket-paket yang akan dikirimkan sampai larut malam.
Bagaimana dengan albumnya sendiri ? Saya berdiskusi dengan beberapa teman. Ada yang mengeluh kalau ini kurang bagus dibanding album sebelumnya. Ada juga yang suka. Ada seseorang yang bilang kalau ini album Seringai, seperti biasanya mereka. Saya lebih sepakat dengan yang ketiga. Ini, Seringai. Kalau ada yang tidak tahu Seringai itu seperti apa, belilah albumnya dan dengarkan atau silakan buka link ini: http://seringai.com/tragedi/ dan dengarkan di situ.
O ya, saya tidak terlalu menghiraukan kalau ada orang yang bilang album ini tidak sebagus album sebelumnya atau tidak seperti yang lalu. Karena setiap album punya cerita dan punya cirinya sendiri, tidak akan pernah bisa diulang. Kalau tidak suka, silakan skip atau jangan dengarkan. Kalau mau berusaha menyukai, dengarkan berkali-kali. Kalau saya, sebagai penggemar dan salah satu orang yang beruntung, saya sudah mendengarkan album ini berulang kali seminggu sebelum rilis sampai sekarang.
Berbahagialah jadi fans yang bandnya masih aktif dan bisa merilis album bagus. Saya menikmati itu. Sekarang. \m/
Taring Days
P.S. 1 Terimakasih untuk Seringai, Arian, Ricky, Sammy, Khemod dan manajemen yang memberi kesempatan buat Omu. Terimakasih juga buat Ardy dan HingarBingar untuk merch Taringnya.
P.S. 2 Terimakasih tim Omu yang pol tapi terutama terimakasih untuk semua teman yang sudah bersedia bersabar. Terimakasih untuk bersedia bersama menikmati Taring!
P.S. 3 Untuk teman-teman yang belum punya albumnya, silakan kontak via twitter @omuniuum atau @lawless_jkt edisi yang reguler masih tersedia, bersama merchandisenya, tentu saja. :)
P.S. 2 Terimakasih tim Omu yang pol tapi terutama terimakasih untuk semua teman yang sudah bersedia bersabar. Terimakasih untuk bersedia bersama menikmati Taring!
P.S. 3 Untuk teman-teman yang belum punya albumnya, silakan kontak via twitter @omuniuum atau @lawless_jkt edisi yang reguler masih tersedia, bersama merchandisenya, tentu saja. :)
Wednesday, June 27, 2012
Seribu Keping
wake up, don’t you hide now.
sometime this morning someone, takes you on the run.
breathe up all you can somehow,
sometime this morning someone will take you run.
takes you run | off her love letter - melancholic bitch
Beberapa hari yang lalu, saya memperhatikan timeline twitter, ada beberapa teman saya bicara soal keuntungan dari penjualan CD, cara jualan CD, digital, rilisan fisik, cara pembayaran, etc, etc.
Perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya.
Sama halnya dengan perdebatan tentang kekalahan penjualan cd fisik dari pembajakan, itu juga sesuatu yang tidak pernah ada ujungnya. Nah, tapi saya tidak akan bicara soal pembajakan, masalahnya, saya sendiri masih rajin download lagu luar dari situs-situs penyedia jasa download ilegal. Sementara untuk rilisan lokal karena ada beberapa distributor yang menitipkan rilisan dari banyak band lokal ke tempat kerja saya, otomatis saya tinggal menyisihkan saja dari uang jajan dan tinggal berjalan beberapa langkah ke rak cd yang ada di tempat saya sendiri.
Berangkat dari pengalaman keseharian, saya hanya bisa tertawa membaca perdebatan tak ada ujungnya itu. Masalahnya, habis waktu dan energi untuk berdebat sementara sebetulnya daripada berdebat diluar dan berkoar-koar, lebih baik ngobrol dengan masing-masing personil band dan siapapun yang dipercaya untuk menjual apapun yang dihasilkan band karena situasi untuk setiap band, setiap produk yang dihasilkan, setiap hal itu bisa berbeda.
Misalnya untuk band mainstream alias major alias band label besar, dari dulu, sebelum ada internet, sebelum kita dengan mudahnya googling "bla bla bla mp3 download gratis", penjualan rilisan fisik berjalan dengan lancar. Iklan di media, manggung di tivi, manggung off air, secara otomatis meningkatkan penjualan kaset dan cd. Soal bajakan dari jaman itu juga sudah ada, tapi pembeli bajakan dengan pembeli cd asli masih bisa tertutupi karena label masih bisa berkoar-koar kalau penjualan kaset dan cd sekian kopi, sekian juta keping.
Sampai jaman tiba-tiba berubah. Orang tidak perlu lagi pergi ke toko CD dan ke lapak-lapak bajakan. Cukup ke warnet, mengeluarkan uang sekian ribu beberapa jam, pulang dengan membawa berpuluh-puluh album hasil download.
Tampaknya tidak ada satupun label pun yang siap dengan hal ini. Tidak ada juga orang yang pada saat itu berpikir kalau ini akan mengubah banyak hal. Ada sih yang siap dan kemudian di waktu yang tepat mengeluarkan gadget yang bisa dengan mudah memfasilitasi orang untuk membeli lagu tanpa perlu pergi kemana-mana. Tanpa perlu membeli rilisan fisik.
Tapi hal itu tidak terjadi di sini, di Indonesia. Sekian tahun yang lalu, ketika saya memulai urusan memesan barang ke toko saya dengan sistem email atau sms, saya dengan teman saya memperkirakan kalau saya harus membuat situs yang canggih dengan sistem pembayaran yang canggih pula, entah memakai paypal entah memakai sistem kartu kredit atau biasa juga disebut e-commerce, dalam waktu dua atau tiga tahun ke depan. Tapi di tahun ini pun, akhirnya kami menyerah dengan catatan tampaknya pembeli di Indonesia baru siap dengan hal itu, 5 sampai sepuluh tahun kedepan. Itu pun masih mungkin.
Entah sudah berapa label dan perusahaan yang tumbang dalam urusan jual beli format digital musik disini. Kalaupun ada, tidak pernah sampai hitungan ratusan ribu download. Kalaupun ada jutaan lagu yang terjual itu juga melalui sistem RBT yang sempat menuai kontroversial beberapa waktu yang lalu ketika sistem RBT digugat secara kegunaan dan cara penjualannya. Setelah dilarang memaksa atau menjual secara diam-diam melalui paket-paket tertentu via provider, RBT hilang begitu saja hitung-hitungannya.
Kenalan dan lingkungan saya, tentu saja adalah band-band yang mendistribusikan rilisannya via distributor independen alias indie yang kemudian berubah jadi genre yang tiba-tiba tampak mengharuskan sebuah band jadi cutting edge, tidak biasa dan mungkin malah jadi aneh dan tidak jelas. Sementara di kepala saya, independen dan major itu dipisahkan oleh kata bernama kemampuan produksi dan distribusi. Yang major punya label super duper kaya, bisa produksi album dan rilisan fisik dalam jumlah besar, distribusi secara nasional dan punya biaya promo yang juga besar, jadi otomatis pendengarnya jauh lebih banyak dan jadilah band mainstream. Yang indie, labelnya miskin, bandnya miskin, cuma mampu produksi sedikit, distribusi cuma dibeberapa tempat, cuma mampu promo keliling radio lokal di kota masing-masing, ke kota lain nunggu undangan.
Jadinya tampak seperti tidak di terima pasar dan lain-lain jadilah genre indie padahal orang mendengarkan dan jadi terasa tampak ekslusif padahal-mungkin-yang-dengar-hanya-sedikit karena label kaya ogah mengeluarkan uang untuk band-band yang dianggap tidak menjual alias tidak seragam dengan selera pasar yang dibentuk oleh mereka sendiri.
Kembali ke rilisan lokal dan independen, tentu pengalaman menjual saya tidak sampai puluhan ribu keping karena band beserta distributor dan label indie ini tidak punya kemampuan yang lebih untuk memproduksi. Plus karena promo yang terkejar juga cuma via radio lokal, radio luar kota kalau MD-nya bersedia memutar di jam-jam ramai atau promo via facebook dan twitter. Jadi ukuran yang saya pakai sama dengan judul yang saya tulis diatas, seribu keping.
Seribu keping adalah jumlah yang paling umum yang diproduksi band lokal yang mampu. Keuntungan seribu keping ini tentu saja tidak akan menutup biaya produksi album berupa rekaman di studio, biaya mixing dan mastering, belum ini dan itu. Seribu keping buat band yang tidak mampu akan terdengar sangat banyak tapi juga sangat sedikit buat band yang benar-benar menghitung keseluruhan produksi. Minimum untuk menutup itu semua tentu saja jumlahnya bisa jadi di angka lima sampai puluhan bahkan mungkin ratusan ribu keping.
Itulah kenapa saya hanya tertawa ketika beberapa orang disekeliling saya berdebat soal penjualan rilisan band lokal. Maksudnya kalau materi bagus, distribusi bagus, promosi bandnya bagus, edukasi fansnya bagus, angka seribu itu bisa habis dalam waktu tiga sampai enam bulan, setahun paling lama.
Kecuali tentu saja kalau orang ributnya karena penjualan yang cuma seribu itu menguap entah kemana. Entah hilang ketika distribusi atau mungkin di rumahnya menumpuk sisa sekian ratus cd yang belum terjual. Band yang produksi ini seribu keping ini ribut soal bajakan ? Astaga, kita bicara soal seribu. Kerugian yang dialami juga tidak akan melebihi keuntungan yang didapat kalau seribu keping ini habis.
Ribut soal download dan tidak membeli rilisan fisik ? Itu pilihan masing-masing orang. Ada yang perlu merasa memiliki dengan membeli rilisan fisik, lebih banyak yang cukup punya file mp3 di handphone, di komputer karena toh, nanti kalau beli cd juga di-rip dan dipindah ke komputer. Bahkan mungkin ada yang tidak tahu kalau band itu mengeluarkan benda yang bernama cd.
Kalau takut rilisan fisik tidak terjual karena ada link downloadnya, kenapa takut ? Tidak pede dengan produk yang dihasilkan ? Rugi karena telah mengeluarkan uang, tenaga dan waktu ? Itu kan pilihanmu sendiri untuk membuat band. Resiko dan konsekuensi.
Kalau saya dituding enak dan bisanya cuma ngomong karena tinggal menjual produk, saya punya beberapa contoh band yang merilis lagu secara gratis dan mendapatkan hasil yang setimpal.
Koil, setelah merilis gratis album Blacklight, ternyata kemudian ada yang bersedia memproduksi dan membagikan cdnya secara gratis karena memang mereka tidak memikirkan lagi penjualan cd. Produksinya dua puluh ribu keping, baru habis dibagikan setelah 4 tahun.
Bottlesmoker, dari awal tidak memikirkan penjualan cd tapi memikirkan bagaimana cara lagu mereka didengar oleh banyak orang, rajinlah mereka berbagi file, berhubungan baik dengan promotor, rajin korespondensi. Hasilnya, mereka diundang manggung kesana kemari sampai ke luar negeri. Ketika produksi cd dalam jumlah terbatas, habis juga.
Seringai, saya pernah mendengar Arian13 menyarankan untuk berbagi dengan siapapun karena mereka tidak melarang filesharing. Untuk promo album mereka membagikan single yang hitungannya telah diunduh oleh ratusan ribu orang. Sekarang, semua sedang menunggu dengan tidak sabar rilisan baru mereka. Dua album sebelumnya sudah habis entah dari kapan.
Kalaupun tidak memilih cara itu juga tidak apa, saya juga kenal band-band yang baru saja merilis album dan penjualannya baik-baik saja. Bahkan ada yang dengan berani tidak menyediakan promo-bagi-single-gratis dan penjualan cdnya diluar perkiraan saya.
Diluar ini semua, memang butuh kerja keras. Tidak mudah tentunya membuat materi yang dirasa bagus, dibuat dengan usaha sekuat tenaga lalu merasa dilecehkan dengan pertanyaan lagunya bisa di download di mana ? Itu wajar, sangat wajar.
Lebih baik mendidik dengan menunjukkan beli saja cdnya disitu atau disana atau sediakan link streaming agar setidaknya orang mau mendengar sedikit materi yang dibuat dan siapa tahu tertarik untuk kemudian mencari rilisan fisiknya. Produksi merchandise, cari link dan lingkungan yang tepat untuk memperkenalkan bandmu dan cari job manggung sebanyak mungkin. Promosikan rilisanmu terus menerus.
Tidak gampang, tidak sebentar, tapi pasti akan menuai hasil. Percayalah. Lebih baik berbagi daripada memarahi yang mungkin malah membuat yang dimarahi bingung karena tidak tahu salah mereka apa. Siapa tahu ternyata mereka masih kecil atau tinggal di pedalaman dan tidak mengerti cara mendapatkan cdnya. Beritahu mereka.
*tulisan ini dibuat benar-benar hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman belaka. Tentunya harus lebih disempurnakan dengan data. ;)
Dalam Sebuah Bis yang Tugasnya Mengantar Rombongan
I'm always on your side
However you must fight
Within your darkest night
I'm always on your side
Lovers as lonely as lanterns lost
Show me faiths real cost
I'm always on your side | one diamond, one heart | SP
Dari dulu saya selalu bilang kalau kebahagiaan itu selalu ada, kalau kamu mau melihatnya.
Saya sedang melihatnya sekarang, menyusun dan mengejanya dengan perlahan, menyimpannya baik-baik sebagai kenangan.
Sedih, senang, tangis dan tawa.
Hidup itu, selalu menyenangkan.
*ditulis setelah mengalami malam penuh kegembiraan bersama teman-teman baik. :)
However you must fight
Within your darkest night
I'm always on your side
Lovers as lonely as lanterns lost
Show me faiths real cost
I'm always on your side | one diamond, one heart | SP
Dari dulu saya selalu bilang kalau kebahagiaan itu selalu ada, kalau kamu mau melihatnya.
Saya sedang melihatnya sekarang, menyusun dan mengejanya dengan perlahan, menyimpannya baik-baik sebagai kenangan.
Sedih, senang, tangis dan tawa.
Hidup itu, selalu menyenangkan.
*ditulis setelah mengalami malam penuh kegembiraan bersama teman-teman baik. :)
Sunday, June 10, 2012
Kali Ini, Bukan Bunyi Telepon
You could've done anything, if you'd wanted
And all your friends and family think that you're lucky,
But the side of you they'll never see
Is when you're left alone with the memories
That hold your life together, together like glue.
You pull back the curtains, and the sun burns into your eyes,
You watch a plane flying, across a clear blue sky.
This is the day your life will surely change.
This is the day when things fall into place.
This is the day your life will surely change.
This is the day when things fall into place.
This is the day,
This is the day. MSP. (cover The The)
Lahir. Hidup. Mati.
Pagi tadi begitu membuka mata, ada 4 broadcast message yang masuk dengan isi berita yang sama, Bayi Raline meninggal dunia.
Inalillahi. Bayi Raline itu anak seorang teman saya. Pertama kali saya bertemu dengan namanya di laman facebook salah seorang teman lain. Beritanya meminta sumbangan untuk bantuan pengobatan Raline yang mengalami masalah dengan pencernaan dan semenjak lahir belum pernah keluar RS. Saya share beritanya lalu lupa entah berapa hari sesudahnya saya juga ikut donasi. Kemudian beberapa lama sesudah itu, yang terdengar kabar Kalau dia masih belum sembuh juga. Sampai beberapa hari kemarin, tanggal 6 juni ada acara benefit gigs yang diadakan oleh S.I.B dan teman-teman.
Saya datang ke acara itu, ikut duduk di dekat meja lelang dan meja penjualan merchandise untuk donasi. Sambil duduk, ngobrol dengan banyak teman saya menimbang-nimbang bersama #3 benda mana yang kita mampu beli tapi juga memungkinkan untuk dilelang kembali jika satu saat ada lagi acara donasi.
Pilihan kami jatuh pada poster Homicide. Menunggu sampai akhir acara untuk memastikan harga lelang, ditambah nominalnya sedikit, pulanglah kami membawa poster itu. Diperjalanan pulang, setelah makan dan mengantar mbak tia yang nebeng mobil kita, akhirnya malah tercetus ide untuk esok hari langsung melepas poster itu, dengan pikiran kalau bisa laku artinya kita bisa ngasih untuk bantu lagi.
Sore keesokan harinya, saya mengupload foto poster itu dengan catatan, kita bersedia melepas poster itu dengan harga diatas harga lelang. Satu jam kemudian, seorang teman menghubungi. Tanya ini itu. Saya cerita soal kondisi Raline, tujuan jual poster dan link berita. Kami sepakat dengan foto yang ada di laman berita, semangat hidup si bayi tampak terlihat di sorot matanya.
Tiba-tiba teman saya bilang kalau dia mau poster itu. Harga yang dia beri jelas diatas harga lelang, tapi tidak mau sebut jumlah, juga tidak mau namanya disebutkan. Saya sepakat.
Setengah jam kemudian, ada teman saya yang lain sms. Dia berminat dengan harga sedikit diatas harga yang saya sebutkan. Saya tolak dan bilang kalau sudah ada yang mau membeli poster itu. Berbagi berita pada teman-teman yang semalam tahu saya yang beli. Senang. Mengecek saldo pada malam harinya, cek saldo. Jumlahnya 3 kali lipat dari harga awal.
Senang. Diluar perkiraan. Sms Ucok Homicide si empunya poster. Dia terkejut sekaligus senang. Sepakat untuk menandatangani karena teman saya memintanya. Jumat sore, saya transfer seluruh uang penjualan. Sms memberitahu pada yang bertanggung jawab untuk mengurus hasil donasi. Masih tersenyum karena rencana kita berhasil.
Senang, sampai tadi pagi.
Kehadiran Raline dalam hidup saya, sangat sebentar. Saya tak berjumpa dengannya sama sekali. Hanya lewat facebook. Kebetulan saya dengan orang tuanya juga bukan dari satu lingkaran yang sama, jadi bertemunya juga bisa dibilang hampir tidak pernah kecuali bertemu di salah satu gigs musik di Bandung. Tadi juga saya tidak berani datang ke rumah duka.
Hanya bisa memanjatkan doa. Menangis. Memberitahu teman saya yang membeli poster.
Hey bayi, kamu sudah menyentuh begitu banyak hati orang. Kamu dalam keadaan sakitmu, memberi kegembiraan untuk semua orang yang bersedia membantu. Kamu, membuat saya senang karena saya juga bisa membantumu. Kamu yang saya cuma tahu keadaanmu dari berita dan cerita teman. Kamu, terima kasih.
Saya tidak bisa membayangkan ada di posisi orang tua Raline saat ini. Dari ketika tahu lahir dalam keadaan tidak sempurna, bermalam-malam ada di rumah sakit, satu-satunya amunisi adalah harapan untuk membawa Raline pulang dan semangat dari semua teman dan keluarga.
Tidak akan ada yang pernah rela dengan kehilangan. Apalagi kematian. Kenangan akan selalu ada di hati, kepala, pikiran, tempat-tempat yang pernah dikunjungi, peristiwa bersama, semua memori yang hanya bisa disimpan dalam hati dan hanya bisa diceritakan tanpa bisa terulang lagi.
Mungkin Raline tidak tumbuh besar di dunia karena Tuhan sudah memanggilnya, tapi saya berharap satu saat berjumpa dengannya di lain masa, mencium pipinya berterima kasih karena kemarin dia membuat saya merasa berguna. Membuat apa yang saya lakukan sehari-hari dirasa bisa sedikit membantu.
***
*saya tidak bisa melanjutkan lagi tulisan ini karena makin lama akan terdengar makin cengeng dan klise dan saya tidak mau itu. Saya tidak tahu berada di posisi mana saat ini. Marah karena Tuhan seakan mengabaikan rencana yang sudah disusun. Sedih karena merasa kehilangan tapi sekaligus juga telah merelakan karena telah berusaha.
Saya, tidak tahu. Hanya bisa berdoa.
Thursday, May 24, 2012
I'm Jealous and I'll Kill Her
Beberapa waktu terakhir saya sedang senang mendengarkan lagu ini, agak telat sebetulnya, karena lagunya sendiri populer sekitar empat atau lima tahunan yang lalu.
Judul lagunya I'll Kill Her, yang nyanyi Soko, penyanyi muda asal Perancis.
Seperti biasa, setelah suka, saya pasti menyimak liriknya dan diam-diam saya merasa terganggu sekaligus merasa lucu.
Ini penggalan liriknya.
so, of course, you were supposed to call me tonight
you were supposed to call me tonight
we would have gone to the cinema
and, after, to the restaurant, the one you like in your street
we would have slept together, have a nice breakfast together
and then a walk in a park together, how beautiful it was!
you would have said "i love you" in the cutest place on earth
where some little boys are dancing with the fairies
i would have waited like a week or two
but you never tried to reach me
no, you never called me back
you were dating that bleach-blonde girl
if i find her, i swear, i swear...
i'll kill her, i'll kill her
she stole my future, she broke my dream
i'll kill her, i'll kill her
she stole my future when she took you away
Siapa sih yang tidak pernah jadi remaja ? Bicara tentang rasa suka dan rasa cemburu, tentang betapa menderitanya ketika putus cinta atau betapa senangnya punya seseorang. Nah, tapi di sini, di lagu ini saya tidak bisa menemukan apa hubungan antara lirik lagu ini dengan situasi yang amat sangat penting yang patut dicemburui sampai mengancam membunuh.
Cowoknya siapa ? Pacar atau bukan ? Perempuannya siapa ? Rasanya terbayang situasi lagi jalan-jalan terus ketemu dan baru kenalan, baru tukeran nomer telepon lalu berpisah, lalu yang dikasih nomer telepon tidak merespon alias tidak menelepon dan keluarlah semua fantasi itu. Membayangkan yang baru ditemui jalan sama orang lain, terus membayangkan dia berkencan dengan perempuan lain dan membayangkan akan membunuh perempuan itu. Duh!
Gara-gara lagunya Soko, saya jadi ingat masa remaja saya, jaman sekolah, punya seorang teman perempuan yang punya pacar dan dia diputusin pacarnya karena sang pacar punya gandengan baru. Berhari-hari dia memutar lagu yang sama, judulnya I'm Jealous, yang nyanyi Divinyls.
Potongan liriknya begini:
You got a new girlfriend But I still love you
I can't stand the thought of her Having a piece of you
What she got that I don't What se do that i won't
You must be blind Take a good look at her
She's not your kind
I don't' know what I'd do If I saw her with you
I'm Jealous, I'm Jealous, I'm Jealous out of my mind
I come around and see you Cause I want to remind you
But what if she's there How would I find you
You've got a new baby But I want you back again
I'm liable to do anything I might kick her face in
What she got that I don't What se do that i won't
You must be blind Take a good look at her
She's not your kind I don't' know what I'd do
If I saw her with you
Disini saya berdiskusi dengan partner saya. Kesimpulan kita selama sekian tahun ini pergeseran budaya dan apa yang dialami masa kecil sampai remaja tampaknya mengalami lompatan yang cukup besar.
Saking besarnya sampai ya itu tadi, kalau lagu memang disebut mewakili generasi, betapa mudahnya semua orang di generasi ini mengumpat dan mengancam, menyatakan perasaan tanpa pikir panjang, membayangkan semua yang terjadi tanpa mengingat banyak faktor diluar 'keberuntungan' dan 'proses'.
Lihat bedanya lirik lagu yang jelaous sama i'll kill her. Lagu yang kedua, ancaman paling jauhnya nendang muka itupun kalau sanggup ketemu. Lagu yang pertama, ketemu saja belum tentu, sudah mengancam membunuh.
Ah, saya tidak bisa membayangkan nanti, ketika anak perempuan saya remaja, jenis lagu apa yang akan mewakili generasinya dia ? Jarak sepuluh tahun dari lagu pertama ke lagu kedua saja menciptakan generasi yang sangat jauh berbeda, bagaimana jika ditambah sepuluh tahun lagi ?
Silakan didengar sendiri lagunya Soko, sayangnya, saya tidak menemukan video klip resminya.
ini lagunya Divinyls
Saturday, April 07, 2012
Catatan Kecil dari Sebuah Album Berjudul Gemuruh Musik Pertiwi
Kalau ada yang bilang bahwa menulis itu susahnya pada saat pertama memilih kata untuk memulai maka saya mengalaminya saat ini. Entah sudah berapa kata bahkan paragraf yang saya tulis kemudian saya hapus kembali.
Masalahnya, saya sulit memposisikan diri saya sebagai siapa.
Sebagai fans yang tergila-gila pada rilisan baru band idola, saya juga punya tanggung jawab untuk tidak menyeret opini yang membaca tulisan saya sebagai media propaganda untuk meningkatkan penjualan album yang secara tidak kebetulan sampai saat ini baru di jual di tempat saya bekerja, omuniuum.
Sebagai penjual yang harus objektif alias adil berimbang pada setiap rilisan yang masuk ke tempat kerja saya juga sulit karena saya tidak bisa membendung keinginan saya untuk menuliskan bahwa album ini adalah salah satu album yang buat saya masuk kategori bagus dan enak didengar (!!!).
Saya tidak malu mengakui bahwa saya adalah salah satu orang yang telat mendengarkan Komunal. Satu-satunya penanda saya tahu nama Komunal adalah bertahun-tahun yang lalu saya bertemu dengan merchandise mereka di sebuah distro berupa patches dengan design gambar muka personil dan tulisan pasukan perang dari rawa.
Sampai kemudian bertemulah saya dengan orang yang bertanggung jawab atas distribusi merchandise Komunal yang tak lain dan tak bukan adalah vokalis dari band pasukan perang dari rawa ini. Masuklah merchandise mereka ke tempat saya bekerja. Setelah itu tanpa sengaja, saya menonton mereka manggung di sebuah pesta meriah perkawinan teman saya.
Oh, begitu toh gaya mereka manggung, saya suka. Setelah itu menonton mereka manggung sebisa mungkin lalu bertemu dengan fisik dari album Hitam Semesta dan itu terjadi dalam waktu kurang dari empat tahun. Jadi saya tidak mengalami kemarahan album pertama mereka Panorama dan terlambat mengalami gelapnya Hitam Semesta. Saya benar-benar bertemu dengan mereka di masa yang lebih tenang dan menyenangkan, Gemuruh Musik Pertiwi.
Saya ingat pertama kali saya melihat mereka membawakan single pertama yang juga menjadi track pertama dan didapuk jadi judul album mereka, GMP. Bandung berisik 2011. Disini uang dan politik tak ada artinya. Lirik yang maknanya menggambarkan carut marutnya negara, dibawakan dengan gaya yang nyeleneh dari vokalisnya, suara gitar yang penuh distorsi, yang begitu pertama kali dibawakan langsung membuat yang mendengar hapal dan digumamkan dalam perjalanan pulang.
Untuk membahas GMP dari segi musiknya, kelemahan saya dari dulu adalah saya buta nada. Tidak bisa nyanyi, tidak bisa mengenali nada sumbang, tidak bisa membedakan mana gitar ini mana gitar itu, tidak tahu banyak soal hal-hal teknis bermusik, susah hapal nama personil, banyak kebodohan saya dalam soal itu. Tapi saya suka mendengarkan musik yang menurut kuping saya enak. Begitu menurut kuping bodoh saya musiknya enak, hal yang kedua saya cari adalah lirik lagu. GMP buat saya punya keduanya.
Simak saja lirik dari lagu Rock Petir
ini musik kami/berkumandang liar megah/mewarnai hidup/takkan pernah terbeli/keyakinan ini/bagai cinta yang abadi/membangun pusara/hingga dibawa mati/dalam nada bagaikan besi/simbol perlawanan atas nama seni
atau lirik dari Lagu Berani
walaupun kami kalah kami takkan pernah menyerah/semua takkan terduga/ganas cerita malam penghias layar kaca/kuatkah kau menatapnya?/setan tertawa berpesta pora/kami tak berhenti/kami takkan berhenti/dendangkan lagu ini
dan lagu terakhir di Gemuruh Musik Pertiwi, Ngarbone yang didedikasikan untuk seorang sahabat yan telah "pergi"
doa mengalir mengenang engkau/beri penghormatan untuk selamanya/dilain masa kita akan bertemu/pendidikan formal hanya pergaulan/semua telah digenggam/ini bukan mimpi jadi kenyataan/istirahat yang tenang
Liriknya sederhana, apa adanya, tapi kuat makna dan gampang diingat. Begitupun musiknya. Rasanya tidak sulit mencerna apa yang ditawarkan Komunal di album GMP ini. Ketika Komunal menegaskan dalam pers rilis mereka bahwa secara lirik GMP menceritakan betapa menyenangkan bermusik dalam sebuah institusi bernama Komunal, hal itu tertangkap dalam album ini. 37 menit 33 detik yang ditawarkan begitu singkat padat dan jelas. Kami main musik yang kami suka, silakan dengarkan.Tidak lebih, tidak kurang.
Itu juga yang tertangkap dari apa yang saya lihat dikerjakan oleh mereka selama ini. Dalam masa kurang dari empat tahun saya berkenalan dengan Komunal, saya bertemu satu persatu dengan anggota keluarga mereka. Sering ngobrol, bercerita, melihat mereka mengatur ini dan itu, melihat cara mereka hidup dan survive untuk melanjutkan keyakinan mereka terhadap sesuatu bernama "musik".
Dari mereka saya belajar benar-benar melihat bahwa setiap band punya cara sendiri untuk tetap berkumpul dan bekerja. Tidak bisa disama ratakan kondisi dan keadaannya. Di band ini caranya begitu belum tentu berhasil di band lain dan sebaliknya.
Saya jadi salah seorang yang tidak sabar menunggu ketika ada berita mereka akan rilis album. Saya juga jadi orang yang beruntung karena bisa mendengarkan lebih dulu dari yang lain dan mengalami gemuruhnya album ini saat rilis pada tanggal 3 April 2012. Bagaimana tidak gemuruh kalau hari itu tempat saya bekerja diserbu sekitar 200 sms, puluhan email dan entah berapa mention di twitter. Belum lagi yang mampir ke toko untuk membeli.
Simak saja lirik dari lagu Rock Petir
ini musik kami/berkumandang liar megah/mewarnai hidup/takkan pernah terbeli/keyakinan ini/bagai cinta yang abadi/membangun pusara/hingga dibawa mati/dalam nada bagaikan besi/simbol perlawanan atas nama seni
atau lirik dari Lagu Berani
walaupun kami kalah kami takkan pernah menyerah/semua takkan terduga/ganas cerita malam penghias layar kaca/kuatkah kau menatapnya?/setan tertawa berpesta pora/kami tak berhenti/kami takkan berhenti/dendangkan lagu ini
dan lagu terakhir di Gemuruh Musik Pertiwi, Ngarbone yang didedikasikan untuk seorang sahabat yan telah "pergi"
doa mengalir mengenang engkau/beri penghormatan untuk selamanya/dilain masa kita akan bertemu/pendidikan formal hanya pergaulan/semua telah digenggam/ini bukan mimpi jadi kenyataan/istirahat yang tenang
Liriknya sederhana, apa adanya, tapi kuat makna dan gampang diingat. Begitupun musiknya. Rasanya tidak sulit mencerna apa yang ditawarkan Komunal di album GMP ini. Ketika Komunal menegaskan dalam pers rilis mereka bahwa secara lirik GMP menceritakan betapa menyenangkan bermusik dalam sebuah institusi bernama Komunal, hal itu tertangkap dalam album ini. 37 menit 33 detik yang ditawarkan begitu singkat padat dan jelas. Kami main musik yang kami suka, silakan dengarkan.Tidak lebih, tidak kurang.
Itu juga yang tertangkap dari apa yang saya lihat dikerjakan oleh mereka selama ini. Dalam masa kurang dari empat tahun saya berkenalan dengan Komunal, saya bertemu satu persatu dengan anggota keluarga mereka. Sering ngobrol, bercerita, melihat mereka mengatur ini dan itu, melihat cara mereka hidup dan survive untuk melanjutkan keyakinan mereka terhadap sesuatu bernama "musik".
Dari mereka saya belajar benar-benar melihat bahwa setiap band punya cara sendiri untuk tetap berkumpul dan bekerja. Tidak bisa disama ratakan kondisi dan keadaannya. Di band ini caranya begitu belum tentu berhasil di band lain dan sebaliknya.
Saya jadi salah seorang yang tidak sabar menunggu ketika ada berita mereka akan rilis album. Saya juga jadi orang yang beruntung karena bisa mendengarkan lebih dulu dari yang lain dan mengalami gemuruhnya album ini saat rilis pada tanggal 3 April 2012. Bagaimana tidak gemuruh kalau hari itu tempat saya bekerja diserbu sekitar 200 sms, puluhan email dan entah berapa mention di twitter. Belum lagi yang mampir ke toko untuk membeli.
Sebagai teman, saya bangga. Sebagai pendengar musik, daftarkan nama saya jadi salah satu fans mereka. Sebagai penjual, saya berseri-seri dan berterima kasih. Segan.
* Komunal bisa diikuti di twitter: @komunal atau silakan like page facebooknya: Komunal Indonesia
*****
* Komunal bisa diikuti di twitter: @komunal atau silakan like page facebooknya: Komunal Indonesia
Label:
gemuruh musik pertiwi,
hidup,
musik,
pekerjaan,
review
Monday, March 12, 2012
Kangen
….
don’t you cherish me to sleep
never keep your eyelids clipped
hold me for the pops and clicks
I was only for the father’s crib
hair, old, long along
your neck onto your shoulder blades
always keep that message taped
cross your breasts you won’t erase
I was only for your very space
- bon iver
Dulu saya tidak tahu rasanya ditinggal mati orang yang dekat dengan kita. Dulu juga saya cuma tersenyum melihat betapa orang tampak sangat sulit melepaskan diri dari ingatan dan kenangan orang yang sudah meninggal. Tersenyum karena dari dulu saya bukan tipe orang yang bisa bersedih-sedih lama-lama. Cukup menangis sebentar, lalu habis itu selesai.
Saya sudah tidak menangis lagi, sudah tidak sedih. Saya cuma baru mengerti kalau ternyata yang paling berat ditinggal mati oleh orang terdekat adalah tersiksa rasa kangen yang tidak bisa dilampiaskan. Satu-satunya cara cuma bergumam ngajak ngobrol 'sok-sok' meyakinkan diri kalau yang sudah mati itu mendengar kita (kata sobat-sobat saya yang cenayang sih bisa). Agama bilang setiap doa juga pasti sampai. Cuma terkadang sama halnya dengan ketiadaan wujud fisik dari apa yang kita yakini kan suka sulit meyakinkan diri akan keberadaan, plus yang meninggal juga kan manusia, bukan malaikat, tuhan atau setan.
Jadi harapannya ketemu manusia kan berbalas omong. Nah ngomong sama yang meninggal tanpa kemampuan cenayang ya rasanya seperti bicara dengan tembok. Cuma diulang terus. Melakukan ini, bilang. Melakukan itu minta didoakan. Nah tapi apalagi yang bisa dilakukan? Mengunjungi makam sambil berderai air mata sudah lewat masanya. Tidak baik pula, kan harusnya berdoa.
Sekali lagi, saya tidak sedih, sudah ikhlas. Cuma kangen. Kangen bapak, kangen sahabat perempuan saya.
Kangen sama yang meninggal itu tidak enak. Sms tak bisa, telepon tak bisa, email entah kemana, ngirim surat sama saja.
Sebentar lagi saya ngomong lagi sama udara. Membatin lagi kerinduan. Mengirim harapan biar semua dirasa tenang. Mendoakan semua baik-baik saja.
*bergumam, semua baik-baik saja*
*buat bapak, doain mama. :)
*buat merry, gelo maneh, urang keur oleng kieu disonoan wae. Haha!
don’t you cherish me to sleep
never keep your eyelids clipped
hold me for the pops and clicks
I was only for the father’s crib
hair, old, long along
your neck onto your shoulder blades
always keep that message taped
cross your breasts you won’t erase
I was only for your very space
- bon iver
Dulu saya tidak tahu rasanya ditinggal mati orang yang dekat dengan kita. Dulu juga saya cuma tersenyum melihat betapa orang tampak sangat sulit melepaskan diri dari ingatan dan kenangan orang yang sudah meninggal. Tersenyum karena dari dulu saya bukan tipe orang yang bisa bersedih-sedih lama-lama. Cukup menangis sebentar, lalu habis itu selesai.
Saya sudah tidak menangis lagi, sudah tidak sedih. Saya cuma baru mengerti kalau ternyata yang paling berat ditinggal mati oleh orang terdekat adalah tersiksa rasa kangen yang tidak bisa dilampiaskan. Satu-satunya cara cuma bergumam ngajak ngobrol 'sok-sok' meyakinkan diri kalau yang sudah mati itu mendengar kita (kata sobat-sobat saya yang cenayang sih bisa). Agama bilang setiap doa juga pasti sampai. Cuma terkadang sama halnya dengan ketiadaan wujud fisik dari apa yang kita yakini kan suka sulit meyakinkan diri akan keberadaan, plus yang meninggal juga kan manusia, bukan malaikat, tuhan atau setan.
Jadi harapannya ketemu manusia kan berbalas omong. Nah ngomong sama yang meninggal tanpa kemampuan cenayang ya rasanya seperti bicara dengan tembok. Cuma diulang terus. Melakukan ini, bilang. Melakukan itu minta didoakan. Nah tapi apalagi yang bisa dilakukan? Mengunjungi makam sambil berderai air mata sudah lewat masanya. Tidak baik pula, kan harusnya berdoa.
Sekali lagi, saya tidak sedih, sudah ikhlas. Cuma kangen. Kangen bapak, kangen sahabat perempuan saya.
Kangen sama yang meninggal itu tidak enak. Sms tak bisa, telepon tak bisa, email entah kemana, ngirim surat sama saja.
Sebentar lagi saya ngomong lagi sama udara. Membatin lagi kerinduan. Mengirim harapan biar semua dirasa tenang. Mendoakan semua baik-baik saja.
*bergumam, semua baik-baik saja*
*buat bapak, doain mama. :)
*buat merry, gelo maneh, urang keur oleng kieu disonoan wae. Haha!
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)












