If you have to go don't say goodbye
If you have to go don't you cry
If you have to go I will get by
Someday I'll follow you and see you on the other side | For Martha Smashing Pumpkins
"Al Islam ruang anak PICU lantai tiga"
Saat kami, saya dan partner saya #3 menjejakkan kaki di depan gerbang menuju ruang perawatan, suasana rumah sakit tampak sedikit ramai. Saat itu pukul empat sore, jam besuk rumah sakit Al Islam jam setengah lima. Partner saya berbicara dengan penjaga gerbang agar diijinkan masuk. Tak lama, kami boleh masuk.
Naik tangga, kami naik ke lantai tiga, tengok kiri dan kanan, tak lama kami berjumpa dengan Widia, ibunya Camilo atau dipanggil Ello, anak berusia enam bulan yang hendak kami jenguk. Widia bilang, Ello sedang dalam penanganan suster jadi kami belum boleh masuk ke ruang PICU. Sambil menunggu kami berbincang-bincang.
Widia tampak tegar, dia bilang kalau sekarang dia sudah pasrah. Apapun yang terjadi. Saya hanya bisa mengiyakan dan menghiburnya.
Tak lama, kami diperbolehkan menengok Ello ke dalam ruangan. Saya berdua dengan partner saya masuk ke ruangan, membuka sepatu, berganti sandal mencuci tangan memakai jas lab dan menghampiri Ello. Saat itu kondisinya sudah tidak sadar. Matanya ditutup perban. Selang menempel di tangan dan mulutnya yang mungil. Suara mesin pacu jantung sekali-kali mengagetkan kami berdua. Kami berbisik-bisik bicara dengan Ello, memegang dan mengusap-usap tangannya.
Hey, bayi, ayo bangun, maen lagi dengan tante dan om atau kita godain terus.
Sedikit rasa pesimis menyelinap tapi rasa optimis yang ingin kami bangun dengan si bayi Ello. Saat itu kami juga berbisik, Ello, gimana kamu ya, kamu yang tahu kekuatan kamu sampai mana. Kita cuma bisa bantuin doa.
Tak kuat berada lama dalam ruangan, kami berpamitan pada bayi Ello lalu keluar ruangan. Bertemu lagi dengan Widia, ngobrol sebentar dan berpamitan dan disuruh menemui ayahnya Ello, Butche yang ada di lantai bawah.
Dalam perjalanan keluar RS, lantai satu kami berpapasan dengan Butche dan seorang teman yang juga hendak menengok Ello. Teman kami dibiarkan naik ke lantai tiga sendiri. Kami berbincang dengan Butche. Butche bertanya apakah saya menangis ketika menengok Ello, saya bilang tidak. Saya bilang kalau kami berdua bercanda sama Ello. Butche tampak lega mendengarnya.
Yang sabar, yang kuat.
Tak lama berbincang, kami lalu pamitan. Saya dan partner saya lalu pergi dengan harapan akan dapat kabar baik. Ello sehat dan kembali ceria.
Tapi harapan tak selalu menjadi nyata.
Ternyata Tuhan sayang sekali sama Ello. Senin siang, telepon saya berbunyi. Dilayarnya ada nama
Lord Butche. Saya segera mengangkatnya.
Boit, Ello sudah tidur nyenyak. Nanti kalau kesini jangan nangis yah. Inget, jangan nangis.
Menutup telepon, memandang partner saya yang langsung mengerti apa yang terjadi. Kami lalu janjian dengan beberapa teman tapi karena beberapa hal, partner saya tak ikut. Saya yang ikut teman-teman ke rumah Butche dan Widia untuk kemudian ke pemakaman Ello.
Pemakaman.
Tak ada orang tua dimanapun yang ingin menguburkan anaknya. Saya tak bisa membayangkan perasaan Widia dan Butche saat mengantarkan Ello menuju tempat peristirahatannya terakhir.
Tapi disisi lain, ada hal-hal yang memang diluar kuasa kita sebagai manusia dan bukan kita yang mengatur. Saya mengalami itu saat memakamkan bapak dan tiga bulan kemudian memakamkan sahabat baik saya. Ingin marah, tidak tahu harus marah ke siapa. Ingin memutar kembali waktu, tidak bisa. Ingin memperbaiki kesalahan yang mungkin saja dilakukan ketika merawat mereka saat sakit dan masih hidup, tidak bisa. Menyesal, tak ada gunanya.
Satu-satunya cara, merelakan dan mendoakan. Meski berat. Meski sangat susah. Meski sampai nanti rasa kangen pada yang meninggalkan tak juga punah.
Yang sabar, yang kuat.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Tidak ada panduan yang spesifik dalam mengurus anak dalam hidup. Yang paling penting adalah kita bertanggung jawab atas segala sesuatu yang kita lakukan, berusaha sebaik yang kita bisa.
Doa saya untuk Bayi Ello yang sekarang sedang bermain dengan malaikat di surga juga untuk kedua orang tuanya, teman baik saya agar sabar dan kuat.
Love.
life is real
Tuesday, January 24, 2012
Thursday, January 19, 2012
Catatan Kecil dari Danur
Danur
Saya lupa persisnya kapan, teman baik saya, Risa cerita kalau dia diajak bikin buku oleh salah satu penerbit berskala nasional. Dia minta pendapat saya soal itu. Saya sebagai teman baiknya sih manggut-manggut saja mengingat ada banyak hal dari hidupnya dia yang memang bisa dibagi dengan banyak orang.
Kalau belum kenal, namanya Risa Saraswati, pekerjaannya PNS sekaligus penyanyi dari Sarasvati. Kelebihannya selain menyanyi, dia katanya punya indra ke-enam dan semenjak kecil punya teman-teman dari dunia lain alias dunia yang tidak kasat mata alias hantu.
Setelah saya manggut-manggut, hal kedua yang dia tanyakan siapa kira-kira yang cocok untuk bikin ilustrasi bukunya dia dan ingatan saya lari ke teman baik kita berdua yang sedang rajin-rajinnya belajar menggambar, Diantra Irawan. Tentu saja usul saya diterima dan sesudah itu karena kesibukan masing-masing yang saya dengar cuma kelanjutan ini itu, kemajuan nulis buku dan ini itu. Sampailah pada satu saat sekitar dua atau tiga minggu yang lalu tentang rencana Risa mau bikin launching bukunya yang sudah akan terbit. Partner saya yang mengusulkan untuk kita-kita saja yang bikin acaranya dan Risa oke.
Rencana awalnya tanggal 22 Januari 2012. Tempatnya di Potluck. Tanggal itu dipilih mendahului rencana rilis dan distribusi nasional yang katanya sekitar tanggal 23 atau 24 Januari. Dua kali rapat, rencana mulai disusun, tiba-tiba tanggalnya berubah karena rencana edarnya berubah juga. Jadinya tanggal 13 Januari karena edarnya sekitar tanggal itu juga dan Potluck kosongnya tanggal segitu. Jatuh pada hari Jumat. Jadi pemilihan tanggal itu bukan sengaja mistis tapi memang begitu adanya.
Karena pindah tanggalan sementara waktu makin mepet, diubahlah banyak hal dari rencana semula. Asalnya mau sedikit heboh pake pemutaran video, pake ini pake itu akhirnya disederhanakan jadi pembacaan buku, diskusi ditambah tanya jawab dan sesi tandatangan ditambah akustikan. Oya, hari itu juga sekaligus ada sesi dengar lagunya Sarasvati yang baru, berjudul sama, Danur.
Sampailah hari H. Yang lain sibuk dengan acara, saya yang kerjaannya selalu berhubungan sama lapak-lapakan, berbekal 100 buku Danur malam itu, menyerahkan lapak ke tim Sarasvamily, keluarga fansnya Risa yang baik hati dan ternyata jago jualan. Setengah acara, bukunya sudah habis.
Yang datang banyak dan anteng menyimak Risa cerita soal Danur. Yang dapat buku dan tanda tangan senang. Yang bikin acara juga senang. Yang dibikinin acara juga. Mungkin yang marah cuma yang ga kebagian buku malam itu.
Sesudah itu karena bukunya rilis secara nasional dan beredar di jaringan toko buku besar, saya pikir urusannya sudah beres. Ternyata tidak. Sesudah seratus buku itu habis pada saat rilis, rencana kedua adalah menyediakan dua ratus eksemplar Danur bertandatangan Risa di toko saya yang ngumpet di Ciumbuleuit. Dibukalah sesi preorder Danur. Hitungannya preorder kira-kira seratus dan sisanya bisa untuk stok sebulan. Tampaknya tidak jadi sampai sebulan. Sampai saya menulis saat ini, Danur sudah dipesan sebanyak 170 eksemplar. Yang sudah dikemas untuk dikirim kepada para pemesan sudah sekitar 70 eksemplar. Yang diambil ke toko dan belum transfer hitung saja sisanya.
mengemas Danur untuk dikirim
Saya bilang pada teman saya kalau hari-hari ini saya dihantui oleh Danur. Semenjak launching sampai sekarang. Yang nanya via twitternya Omu tentang Danur banyak sekali dan saya tidak bisa membayangkan berapa banyak juga yang bertanya via twitternya Risa.
Danur siap kirim
Danur sendiri bercerita tentang sisi hidup Risa yang berhubungan dengan dunia kasat mata tadi. Berhubungan dengan teman-teman masa kecilnya yang tidak terlihat oleh orang lain. Berhubungan dengan hantu, berhubungan dengan kesedihan dan tragedi yang tidak terselesaikan semasa hidup dari hantu-hantu yang berpapasan dan bersinggungan dengan Risa. Boleh percaya, boleh tidak. Saya sendiri memilih menerima seluruh cerita Risa sebagai bagian dari dunia Risa.
Dan tampaknya, (dengan senang hati) esok hari saya masih dihantui oleh Danur.
Terima kasih semua teman yang membantu waktu launching Danur. Terima kasih untuk manajemen Sarasvati, terima kasih Sarasvamily, terima kasih keluarga omu. :)
para hantu yang membantu launching Danur
O,ya, bersamaan dengan rilisnya Danur, Sarasvati juga launching single baru, judulnya sama Danur. berkolaborasi dengan Arina (Mocca). Silakan klik linknya: Danur
Label:
Danur,
risa saraswati,
sarasvati
Thursday, December 01, 2011
Tentang HIV Positif
Siang hari ini, di sela-sela rutinitas harian membaca linimasa di twitter, saya dikejutkan oleh linimasa @fajarjasmin yang bercerita tentang anaknya yang tiba-tiba tidak bisa masuk SD karena dia, ayahnya adalah seorang pengidap HIV. Padahal sebelumnya anaknya sudah di terima di SD tersebut. Tadinya, dengan niat baik, mereka memberitahu pihak sekolah kalau ayahnya punya penyakit HIV untuk mencegah anak-anak lain mem-bully atau mencelanya. Niat baiknya berakhir buruk. Penerimaannya di cabut. :(
Saya jadi ingat almarhum teman laki-laki saya, dulu sekitar tahun 2007-2008 dia sempat bekerja di Omuniuum juga. Tak ada yang luar biasa dari dia kecuali piercing dan tatonya yang memang banyak. Anaknya riang. Penuh semangat. Tak ada yang aneh. Setelah beberapa waktu, tiba-tiba dia mengajak saya dan #3 partner saya ngobrol serius.
Obrolannya ternyata dia mau cerita kalau dia positif HIV. Saya dan partner saya saat itu cuma berpandangan, trus pertanyaan kami berikutnya adalah memangnya kenapa kalo HIV?
Habis itu saya becandain dia, kamu masih mau kerja disini kan? Ngga ada niat ngajak ml kan? Saya tidak nanya kenapa dia bisa kena HIV, saya ga nanya juga hal-hal lainnya kecuali soal apakah pengobatan dia terus berjalan, gimana caranya men-support dan lainnya, gimana pengaruh ke kerjaan dan akankah ada hal-hal lain yang saya harus tau soal kondisi dia kalau sewaktu-waktu ada sesuatu yang terjadi.
Saya bilang sama dia, yang penting kamu sudah cerita dan jujur dan sesudah itu juga meminta dia agar memberitahu lingkungan terdekat kita biar cukup tau dan waspada.
Sesudah itu saya browsing soal HIV. Cari tau soal mitosnya, penularan, pengobatan, semuanya. Sesudah cukup tau, ya sudah, dijalankan saja.
Selama setahun itu, berdampingan dengan teman saya itu, bekerja bersama. Tidak ada yang luar biasa. Tidak ada yang sesuatu yang aneh terjadi. Dia cerita sama saya kalau kuncinya memang pengobatan dan menjaga kondisi tubuh.
Sekitar 2008 akhir, kalau tidak salah, dia keluar dari Omu. Bukan karena penyakitnya, tapi memang karena dia pindah ke Jakarta. Kami jarang bertemu. Pernah sekali dua kali bertemu di gigs, masih tetap riang. Cuma tambah kurus. Sampai tengah tahun ini, tiba-tiba ada SMS mengabarkan kalau dia tutup usia.
Terimakasih buat dia, saya jadi tahu soal HIV. Dia mengajarkan saya untuk berani dan mau mencari tahu soal HIV. Mengajarkan pada saya kalau semangat bisa memperpanjang usia. Mengajarkan bahwa kita yang sehat yang harus belajar agar tidak jadi sakit. Kita yang sehat yang seharusnya bisa menemani yang sakit.
Kenapa diskriminasi? Justru ketakutan yang akan membawa bencana. Ketakutan akan sesuatu yang tidak kita ketahui yang bisa membuat buta. Menurut berita di media massa, banyak kasus HIV terjadi pada ibu-ibu rumah tangga yang hanya setia pada satu pasangan karena pasangannya tidak tahu sama sekali gaya hidupnya beresiko. Banyak kasus yang terjadi pada remaja karena berbagi jarum suntik dan mereka tidak tahu resikonya. Banyak kasus terjadi karena tidak berhubungan seks memakai pengaman dan lainnya.
Banyak kasus tapi bukan karena satu sekolah, bukan karena satu pekerjaan, bukan karena ada satu ruangan dengan penderita HIV.
Lebih baik tau daripada tidak. Cegah sebelum terkena. Cegah sebelum ada orang dekat kita yang kena. Kalaupun ternyata terkena, mari obati. Mungkin tidak bisa sembuh, tapi setidaknya, berusaha.
Untuk cari tahu soal HIV, ada banyak sumber di internet, beberapa bisa cek:
http://www.aidsindonesia.or.id/
http://www.rumahcemara.org/
http://aids-ina.org/
Friday, November 18, 2011
Yay! Menulis!
Beberapa waktu yang lalu, band yang saya suka, meminta saya untuk menulis sebuah pengantar atau press release untuk single baru mereka. Saya mengiyakan, tapi saat itu saya hanya tertawa berharap mereka cuma main-main alias tidak serius dengan tawaran mereka.
Tapi ternyata mereka tidak main-main. Dua minggu yang lalu, mereka menghubungi saya dan menagih janji saya untuk menulis.
Oke deh. Hayuk deh. Super deg-deg-an. Super takut.
Bukannya apa-apa, mereka adalah band kesukaan saya, personil dan manajemennya teman-teman baik saya dan penulis lirik dari band itu yang juga merangkap sebagai vokalis adalah penulis favorit saya.
Tapi janji sudah terlanjur janji. Begitu materi preview dikirim via email, download, didengarkan. Saya langsung meniatkan diri untuk menulis hari itu juga, malam itu juga.
Dua kali saya membangunkan partner saya subuh-subuh untuk meminta pendapatnya.
Pagi hari. Selesai. Kata partner saya oke. Saya tanya salah seorang teman baik saya, katanya oke.
Okelah. Kirim ke email mereka.
Jreng, katanya bagus. Jreng jreng ada revisi. Jreng jreng jreng jreng, sesudah revisi satu kali, langsung bungkus! Whoa.
Susah untuk dipercaya.
Sampai pagi tadi, sebuah email singgah dari manajemen band itu. Isinya, sebuah lagu, sebuah cover dan sebuah press release.
Rasanya aneh menerima email yang isinya ada tulisan sendiri. Norak ya. *grin*
Well, silakan singgah ke sini untuk membacanya : Soundcloud atau Kotak Gelas
P.S. untuk menambah kenorakan tulisan ini, karena girang sekali, ini kutipan balasan email dari penulis lirik band itu.
"baguusss. gak usah di edit ini mah (pdhl lu tau kan kalo tulisan bagus aja kadang2 masih perlu di edit :) ). makasih yes. muach muach."
*pingsan*
Tapi ternyata mereka tidak main-main. Dua minggu yang lalu, mereka menghubungi saya dan menagih janji saya untuk menulis.
Oke deh. Hayuk deh. Super deg-deg-an. Super takut.
Bukannya apa-apa, mereka adalah band kesukaan saya, personil dan manajemennya teman-teman baik saya dan penulis lirik dari band itu yang juga merangkap sebagai vokalis adalah penulis favorit saya.
Tapi janji sudah terlanjur janji. Begitu materi preview dikirim via email, download, didengarkan. Saya langsung meniatkan diri untuk menulis hari itu juga, malam itu juga.
Dua kali saya membangunkan partner saya subuh-subuh untuk meminta pendapatnya.
Pagi hari. Selesai. Kata partner saya oke. Saya tanya salah seorang teman baik saya, katanya oke.
Okelah. Kirim ke email mereka.
Jreng, katanya bagus. Jreng jreng ada revisi. Jreng jreng jreng jreng, sesudah revisi satu kali, langsung bungkus! Whoa.
Susah untuk dipercaya.
Sampai pagi tadi, sebuah email singgah dari manajemen band itu. Isinya, sebuah lagu, sebuah cover dan sebuah press release.
Rasanya aneh menerima email yang isinya ada tulisan sendiri. Norak ya. *grin*
Well, silakan singgah ke sini untuk membacanya : Soundcloud atau Kotak Gelas
P.S. untuk menambah kenorakan tulisan ini, karena girang sekali, ini kutipan balasan email dari penulis lirik band itu.
"baguusss. gak usah di edit ini mah (pdhl lu tau kan kalo tulisan bagus aja kadang2 masih perlu di edit :) ). makasih yes. muach muach."
*pingsan*
Label:
melancholic bitch
Subscribe to:
Posts (Atom)
