Showing posts with label pekerjaan. Show all posts
Showing posts with label pekerjaan. Show all posts

Wednesday, June 27, 2012

Seribu Keping

wake up, don’t you hide now. 
sometime this morning someone, takes you on the run. 
breathe up all you can somehow, 
sometime this morning someone will take you run. 
takes you run | off her love letter - melancholic bitch

Beberapa hari yang lalu, saya memperhatikan timeline twitter, ada beberapa teman saya bicara soal keuntungan dari penjualan CD, cara jualan CD, digital, rilisan fisik, cara pembayaran, etc, etc. 

Perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya. 

Sama halnya dengan perdebatan tentang kekalahan penjualan cd fisik dari pembajakan, itu juga sesuatu yang tidak pernah ada ujungnya. Nah, tapi saya tidak akan bicara soal pembajakan, masalahnya, saya sendiri masih rajin download lagu luar dari situs-situs penyedia jasa download ilegal. Sementara untuk rilisan lokal karena ada beberapa distributor yang menitipkan rilisan dari banyak band lokal ke tempat kerja saya, otomatis saya tinggal menyisihkan saja dari uang jajan dan tinggal berjalan beberapa langkah ke rak cd yang ada di tempat saya sendiri. 

Berangkat dari pengalaman keseharian, saya hanya bisa tertawa membaca perdebatan tak ada ujungnya itu. Masalahnya, habis waktu dan energi untuk berdebat sementara sebetulnya daripada berdebat diluar dan berkoar-koar, lebih baik ngobrol dengan masing-masing personil band dan siapapun yang dipercaya untuk menjual apapun yang dihasilkan band karena situasi untuk setiap band, setiap produk yang dihasilkan, setiap hal itu bisa berbeda. 

Misalnya untuk band mainstream alias major alias band label besar, dari dulu, sebelum ada internet, sebelum kita dengan mudahnya googling "bla bla bla mp3 download gratis", penjualan rilisan fisik berjalan dengan lancar. Iklan di media, manggung di tivi, manggung off air, secara otomatis meningkatkan penjualan kaset dan cd. Soal bajakan dari jaman itu juga sudah ada, tapi pembeli bajakan dengan pembeli cd asli masih bisa tertutupi karena label masih bisa berkoar-koar kalau penjualan kaset dan cd sekian kopi, sekian juta keping. 

Sampai jaman tiba-tiba berubah. Orang tidak perlu lagi pergi ke toko CD dan ke lapak-lapak bajakan. Cukup ke warnet, mengeluarkan uang sekian ribu beberapa jam, pulang dengan membawa berpuluh-puluh album hasil download.  

Tampaknya tidak ada satupun label pun yang siap dengan hal ini. Tidak ada juga orang yang pada saat itu berpikir kalau ini akan mengubah banyak hal. Ada sih yang siap dan kemudian di waktu yang tepat mengeluarkan gadget yang bisa dengan mudah memfasilitasi orang untuk membeli lagu tanpa perlu pergi kemana-mana. Tanpa perlu membeli rilisan fisik.

Tapi hal itu tidak terjadi di sini, di Indonesia. Sekian tahun yang lalu, ketika saya memulai urusan memesan barang ke toko saya dengan sistem email atau sms, saya dengan teman saya memperkirakan kalau saya harus membuat situs yang canggih dengan sistem pembayaran yang canggih pula, entah memakai paypal entah memakai sistem kartu kredit atau biasa juga disebut e-commerce, dalam waktu dua atau tiga tahun ke depan. Tapi di tahun ini pun, akhirnya kami menyerah dengan catatan tampaknya pembeli di Indonesia baru siap dengan hal itu, 5 sampai sepuluh tahun kedepan. Itu pun masih mungkin. 

Entah sudah berapa label dan perusahaan yang tumbang dalam urusan jual beli format digital musik disini. Kalaupun ada, tidak pernah sampai hitungan ratusan ribu download. Kalaupun ada jutaan lagu yang terjual itu juga melalui sistem RBT yang sempat menuai kontroversial beberapa waktu yang lalu ketika sistem RBT digugat secara kegunaan dan cara penjualannya. Setelah dilarang memaksa atau menjual secara diam-diam melalui paket-paket tertentu via provider, RBT hilang begitu saja hitung-hitungannya.   

Kenalan dan lingkungan saya, tentu saja adalah band-band yang mendistribusikan rilisannya via distributor independen alias indie yang kemudian berubah jadi genre yang tiba-tiba tampak mengharuskan sebuah band jadi cutting edge, tidak biasa dan mungkin malah jadi aneh dan tidak jelas. Sementara di kepala saya, independen dan major itu dipisahkan oleh kata bernama kemampuan produksi dan distribusi. Yang major punya label super duper kaya, bisa produksi album dan rilisan fisik dalam jumlah besar, distribusi secara nasional dan punya biaya promo yang juga besar, jadi otomatis pendengarnya jauh lebih banyak dan jadilah band mainstream. Yang indie, labelnya miskin, bandnya miskin, cuma mampu produksi sedikit, distribusi cuma dibeberapa tempat, cuma mampu promo keliling radio lokal di kota masing-masing, ke kota lain nunggu undangan. 

Jadinya tampak seperti tidak di terima pasar dan lain-lain jadilah genre indie padahal orang mendengarkan dan jadi terasa tampak ekslusif padahal-mungkin-yang-dengar-hanya-sedikit karena label kaya ogah mengeluarkan uang untuk band-band yang dianggap tidak menjual alias tidak seragam dengan selera pasar yang dibentuk oleh mereka sendiri. 

Kembali ke rilisan lokal dan independen, tentu pengalaman menjual saya tidak sampai puluhan ribu keping karena band beserta distributor dan label indie ini tidak punya kemampuan yang lebih untuk memproduksi. Plus karena promo yang terkejar juga cuma via radio lokal, radio luar kota kalau MD-nya bersedia memutar di jam-jam ramai atau promo via facebook dan twitter. Jadi ukuran yang saya pakai sama dengan judul yang saya tulis diatas, seribu keping.  

Seribu keping adalah jumlah yang paling umum yang diproduksi band lokal yang mampu. Keuntungan seribu keping ini tentu saja tidak akan menutup biaya produksi album berupa rekaman di studio, biaya mixing dan mastering, belum ini dan itu. Seribu keping buat band yang tidak mampu akan terdengar sangat banyak tapi juga sangat sedikit buat band yang benar-benar menghitung keseluruhan produksi. Minimum untuk menutup itu semua tentu saja jumlahnya bisa jadi di angka lima sampai puluhan bahkan mungkin ratusan ribu keping.

Itulah kenapa saya hanya tertawa ketika beberapa orang disekeliling saya berdebat soal penjualan rilisan band lokal. Maksudnya kalau materi bagus, distribusi bagus, promosi bandnya bagus, edukasi fansnya bagus, angka seribu itu bisa habis dalam waktu tiga sampai enam bulan, setahun paling lama. 

Kecuali tentu saja kalau orang ributnya karena penjualan yang cuma seribu itu menguap entah kemana. Entah hilang ketika distribusi atau mungkin di rumahnya menumpuk sisa sekian ratus cd yang belum terjual. Band yang produksi ini seribu keping ini ribut soal bajakan ?  Astaga, kita bicara soal seribu. Kerugian yang dialami juga tidak akan melebihi keuntungan yang didapat kalau seribu keping ini habis.

 Ribut soal download dan tidak membeli rilisan fisik ? Itu pilihan masing-masing orang. Ada yang perlu merasa memiliki dengan membeli rilisan fisik, lebih banyak yang cukup punya file mp3 di handphone, di komputer karena toh, nanti kalau beli cd juga di-rip dan dipindah ke komputer. Bahkan mungkin ada yang tidak tahu kalau band itu mengeluarkan benda yang bernama cd.

Kalau takut rilisan fisik tidak terjual karena ada link downloadnya, kenapa takut ? Tidak pede dengan produk yang dihasilkan ? Rugi karena telah mengeluarkan uang, tenaga dan waktu ? Itu kan pilihanmu sendiri untuk membuat band. Resiko dan konsekuensi. 

Kalau saya dituding enak dan bisanya cuma ngomong karena tinggal menjual produk, saya punya beberapa contoh band yang merilis lagu secara gratis dan mendapatkan hasil yang setimpal. 

Koil, setelah merilis gratis album Blacklight, ternyata kemudian ada yang bersedia memproduksi dan membagikan cdnya secara gratis karena memang mereka tidak memikirkan lagi penjualan cd. Produksinya dua puluh ribu keping, baru habis dibagikan setelah 4 tahun.

Bottlesmoker, dari awal tidak memikirkan penjualan cd tapi memikirkan bagaimana cara lagu mereka didengar oleh banyak orang, rajinlah mereka berbagi file, berhubungan baik dengan promotor,  rajin korespondensi. Hasilnya, mereka diundang manggung kesana kemari sampai ke luar negeri. Ketika produksi cd dalam jumlah terbatas, habis juga. 

Seringai, saya pernah mendengar Arian13 menyarankan untuk berbagi dengan siapapun karena mereka tidak melarang filesharing. Untuk promo album mereka membagikan single yang hitungannya telah diunduh oleh ratusan ribu orang. Sekarang, semua sedang menunggu dengan tidak sabar rilisan baru mereka. Dua album sebelumnya sudah habis entah dari kapan.

Kalaupun tidak memilih cara itu juga tidak apa, saya  juga kenal band-band yang baru saja merilis album dan penjualannya baik-baik saja. Bahkan ada yang dengan berani tidak menyediakan promo-bagi-single-gratis dan penjualan cdnya diluar perkiraan saya. 

Diluar ini semua, memang butuh kerja keras. Tidak mudah tentunya membuat materi yang dirasa bagus, dibuat dengan usaha sekuat tenaga lalu merasa dilecehkan dengan pertanyaan lagunya bisa di download di mana ?  Itu wajar, sangat wajar.

Lebih baik mendidik dengan menunjukkan beli saja cdnya disitu atau disana atau sediakan link streaming  agar setidaknya orang mau mendengar sedikit materi yang dibuat dan siapa tahu tertarik untuk kemudian mencari rilisan fisiknya. Produksi merchandise, cari link dan lingkungan yang tepat untuk memperkenalkan bandmu dan cari job manggung sebanyak mungkin. Promosikan rilisanmu terus menerus. 

Tidak gampang, tidak sebentar, tapi pasti akan menuai hasil. Percayalah. Lebih baik berbagi daripada memarahi yang mungkin malah membuat yang dimarahi bingung karena tidak tahu salah mereka apa. Siapa tahu ternyata mereka masih kecil atau tinggal di pedalaman dan tidak mengerti cara mendapatkan cdnya. Beritahu mereka. 

 Ah, tulisan ini tidak akan pernah ada ujungnya karena kemudian saya juga akan cerewet tentang ini dan itu. Saya akan mengakhiri ini dengan pertanyaan balik pada orang yang mengeluarkan statement beli dan hargai dengan membeli rilisan fisik, kapan terakhir kali membeli cd dan tidak mendownload lagu secara ilegal ?

*tulisan ini dibuat benar-benar hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman belaka. Tentunya harus lebih disempurnakan dengan data. ;)

Saturday, April 07, 2012

Catatan Kecil dari Sebuah Album Berjudul Gemuruh Musik Pertiwi

Kalau ada yang bilang bahwa menulis itu susahnya pada saat pertama memilih kata untuk memulai maka saya mengalaminya saat ini. Entah sudah berapa kata bahkan paragraf yang saya tulis kemudian saya hapus kembali.

Masalahnya, saya sulit memposisikan diri saya sebagai siapa.
Sebagai fans yang tergila-gila pada rilisan baru band idola, saya juga punya tanggung jawab untuk tidak menyeret opini yang membaca tulisan saya sebagai media propaganda untuk meningkatkan penjualan album yang secara tidak kebetulan sampai saat ini baru di jual di tempat saya bekerja, omuniuum.

Sebagai penjual yang harus objektif alias adil berimbang pada setiap rilisan yang masuk ke tempat kerja saya juga sulit karena saya tidak bisa membendung keinginan saya untuk menuliskan bahwa album ini adalah salah satu album yang buat saya masuk kategori bagus dan enak didengar (!!!).

Saya tidak malu mengakui bahwa saya adalah salah satu orang yang telat mendengarkan Komunal. Satu-satunya penanda saya tahu nama Komunal adalah bertahun-tahun yang lalu saya bertemu dengan merchandise mereka di sebuah distro berupa patches dengan design gambar muka personil dan tulisan pasukan perang dari rawa.

Sampai kemudian bertemulah saya dengan orang yang bertanggung jawab atas distribusi merchandise Komunal yang tak lain dan tak bukan adalah vokalis dari band pasukan perang dari rawa ini. Masuklah merchandise mereka ke tempat saya bekerja. Setelah itu tanpa sengaja, saya menonton mereka manggung di sebuah pesta meriah perkawinan teman saya.

Oh, begitu toh gaya mereka manggung, saya suka. Setelah itu menonton mereka manggung sebisa mungkin lalu bertemu dengan fisik dari album Hitam Semesta dan itu terjadi dalam waktu kurang dari empat tahun. Jadi saya tidak mengalami kemarahan album pertama mereka Panorama dan terlambat mengalami gelapnya Hitam Semesta. Saya benar-benar bertemu dengan mereka di masa yang lebih tenang dan menyenangkan, Gemuruh Musik Pertiwi.




Saya ingat pertama kali saya melihat mereka membawakan single pertama yang juga menjadi track pertama dan didapuk jadi judul album mereka, GMP. Bandung berisik 2011. Disini uang dan politik tak ada artinya. Lirik yang maknanya menggambarkan carut marutnya negara, dibawakan dengan gaya yang nyeleneh dari vokalisnya, suara gitar yang penuh distorsi, yang begitu pertama kali dibawakan langsung membuat yang mendengar hapal dan digumamkan dalam perjalanan pulang.


Untuk membahas GMP dari segi musiknya, kelemahan saya dari dulu adalah saya buta nada. Tidak bisa nyanyi, tidak bisa mengenali nada sumbang, tidak bisa membedakan mana gitar ini mana gitar itu, tidak tahu banyak soal hal-hal teknis bermusik, susah hapal nama personil, banyak kebodohan saya dalam soal itu. Tapi saya suka mendengarkan musik yang menurut kuping saya enak. Begitu menurut kuping bodoh saya musiknya enak, hal yang kedua saya cari adalah lirik lagu. GMP buat saya punya keduanya.

Simak saja lirik dari lagu Rock Petir
ini musik kami/berkumandang liar megah/mewarnai hidup/takkan pernah terbeli/keyakinan ini/bagai cinta yang abadi/membangun pusara/hingga dibawa mati/dalam nada bagaikan besi/simbol perlawanan atas nama seni

atau lirik dari Lagu Berani
walaupun kami kalah kami takkan pernah menyerah/semua takkan terduga/ganas cerita malam penghias layar kaca/kuatkah kau menatapnya?/setan tertawa berpesta pora/kami tak berhenti/kami takkan berhenti/dendangkan lagu ini

dan lagu terakhir di Gemuruh Musik Pertiwi, Ngarbone yang didedikasikan untuk seorang sahabat yan telah "pergi" 
doa mengalir mengenang engkau/beri penghormatan untuk selamanya/dilain masa kita akan bertemu/pendidikan formal hanya pergaulan/semua telah digenggam/ini bukan mimpi jadi kenyataan/istirahat yang tenang

Liriknya sederhana, apa adanya, tapi kuat makna dan gampang diingat. Begitupun musiknya. Rasanya tidak sulit mencerna apa yang ditawarkan Komunal di album GMP ini. Ketika Komunal menegaskan dalam pers rilis mereka bahwa secara lirik GMP menceritakan betapa menyenangkan bermusik dalam sebuah institusi bernama Komunal, hal itu tertangkap dalam album ini. 37 menit 33 detik yang ditawarkan begitu singkat padat dan jelas. Kami main musik yang kami suka, silakan dengarkan.Tidak lebih, tidak kurang.

Itu juga yang tertangkap dari apa yang saya lihat dikerjakan oleh mereka selama ini. Dalam masa kurang dari empat tahun saya berkenalan dengan Komunal, saya bertemu satu persatu dengan anggota keluarga mereka. Sering ngobrol, bercerita, melihat mereka mengatur ini dan itu, melihat cara mereka hidup dan survive untuk melanjutkan keyakinan mereka terhadap sesuatu bernama "musik".

Dari mereka saya belajar benar-benar melihat bahwa setiap band punya cara sendiri untuk tetap berkumpul dan bekerja. Tidak bisa disama ratakan kondisi dan keadaannya. Di band ini caranya begitu belum tentu berhasil di band lain dan sebaliknya.

Saya jadi salah seorang yang tidak sabar menunggu ketika ada berita mereka akan rilis album. Saya juga jadi orang yang beruntung karena bisa mendengarkan lebih dulu dari yang lain dan mengalami gemuruhnya album ini saat rilis pada tanggal 3 April 2012. Bagaimana tidak gemuruh kalau hari itu tempat saya bekerja diserbu sekitar 200 sms, puluhan email dan entah berapa mention di twitter. Belum lagi yang mampir ke toko untuk membeli. 

Sebagai teman, saya bangga. Sebagai pendengar musik, daftarkan nama saya jadi salah satu fans mereka. Sebagai penjual, saya berseri-seri dan berterima kasih. Segan.

*****

* Komunal bisa diikuti di twitter: @komunal atau silakan like page facebooknya: Komunal Indonesia

Thursday, February 09, 2012

Sisa Obrolan Semalam

pasti ada cara untuk mencari uang
pasti ada cara untuk bersenangsenang
badai pasti datang kita tak akan menang
mengapa harus bimbang | nyanyikan lagu perang - koil


Semalam, saya terlibat obrolan yang cukup seru dengan beberapa teman yang merupakan pelaku di skena musik indie lokal. Mereka pemain band dan manajernya, saya, tukang dagang merchandise. Kebetulan teman-teman band yang ngobrol semalam itu juga yang merchandisenya didistribusikan di tempat saya bekerja. 

Namanya ngobrol dengan pemain band, obrolannya berkisar seputar gogon alias gosip underground lalu setelah beres urusan gogon, beranjak ke topik yang lebih serius, soal bagaimana caranya menggarap album dan juga bagaimana caranya menghidupi kas band yang terkadang minim justru di saat band tersebut sedang butuh-butuhnya uang untuk produksi album karena kas yang ada sudah habis untuk rekaman. 
 
Salah satu cara mencari uang yang paling cepat dan paling umum itu produksi merchandise. 

bagi yang sudah terbiasa dengan skena band-band-an sudah pasti tahu, yang dimaksud merchandise disini biasanya berupa tshirt, tas, topi yang berhiaskan logo atau artwork band. Bagi yang belum tahu, silakan googling dengan kata kunci merchandise band lokal maka akan ditemukan banyak link dari toko-toko yang menjual merchandise-merchandise tersebut.
Bagi band yang punya modal biasanya produksi sendiri. Bikin desain, cari produsen, pesan dan jadi. Pemasarannya bisa dari tangan ke tangan, via social media atau melalui toko  alias distribution outlet biasa juga disingkat distro. Eh, distro disini bukan seperti yang sekarang. Dulu distro tumbuh karena kebutuhan untuk memasarkan merchandise band. Sekarang saja berubah bentuk jadi tempat jualan merk sendiri. Eh tapi itu soal lain, mari kembali ke soal cara band mencari uang. 

Nah bagi yang tidak punya modal, bisa saja mengajak kerjasama pihak lain untuk membeli lisensi merchandisenya lalu si band mendapat bagi hasil alias royalti dari penjualan merchandise itu. Royaltinya bisa dibayar didepan atau setelah barang laku tergantung perjanjian. Besaran royaltinya juga tergantung perjanjian. Paling umum itu sekitar 10% dari dari harga jual merchandise. 

Sepertinya mudah dan cepat. 

Tapi ...

hal ini mudah dan cepat bagi band yang sudah punya nama dan punya fans loyal yang bersedia menyisihkan uangnya untuk membeli merchandise dari band kesayangannya. Buat band-band yang baru awal memulai tentu saja butuh usaha yang lebih keras dari sekedar mencari modal produksi. Membuat materi musik yang bagus dan berusaha untuk didengar banyak orang sebaiknya didahulukan daripada membuat merchandise. Urusan marketing band ini juga ada ceritanya sendiri, sekarang mari kembali lagi ke soal cara band mencari uang. 

Buat band yang sudah punya nama juga ternyata ada masalah ..

punya materi musik bagus, artwork bisa dijual, mampu memproduksi merchandise itu bagus. Masalah muncul ketika kita bicara soal menjual lisensi merchandise. Ada keengganan untuk menjual lisensi merchandise karena konon katanya menurut pengalaman dan gogon yang bertebaran, seringkali pihak band dirugikan karena ketidak jujuran dalam jumlah produksi merchandise. 

Janji produksi seratus, produksinya ternyata seratus lima puluh. Janji produksi yang 3 desain yang diproduksi 5. Janji bayar royalti, royalti tak mampir-mampir. Janji laporan kalau produksinya diulang, laporan tidak, produk selalu terpajang manis sementara kalau ditanya barangnya sudah lama habis.

sebagai tukang dagang merchandise tentu saja kening saya langsung berkerut ...

Masalahnya, saya ada ditengah-tengah. Demi kelangsungan perdagangan dan rejeki, tentu saja untuk saya sebagai pedagang, band harus hidup, produsen atau label yang memproduksi juga harus hidup. Tidak masalah untuk label-label yang masih ada di lingkungan band itu sendiri karena kontrolnya mudah dan meskipun ada keterbatasan modal tapi biasanya mereka bisa survive.

Masalah lebih besar justru ketika yang melakukan kecurangan yang dimaksud itu label-label atau produsen yang ada di luar lingkungan band yang begitu kecurangannya terendus, lisensinya langsung di stop.

Kenapa ?

Obrolan semalam soal cara mengisi kas band yang sedang minim ini jadi berhenti begitu pertanyaannya itu. Sampai obrolan usai, tidak ada satupun alasan yang masuk akal dari saya maupun teman-teman soal mengapa hal semacam ini bisa terjadi.

Untuk hitungan produksi, harus dibahas tersendiri juga, tapi sederhananya keuntungan yang didapat tentu akan lebih panjang umurnya ketika satu sama lain memperhatikan hak dan kewajiban masing-masing. Artinya kerjasama yang baik antara pihak band dengan pihak yang produksi disini tentunya. Komunikasi. Laporan yang transparan. Berbagi cerita dan kondisi.

Kecuali memang yang dicari adalah keuntungan sesaat lalu memanfaatkan situasi karena tak ada perjanjian hitam diatas putih. 

Tapi kan (harapannya) umur band tidak hanya satu dua tahun saja ...

ah. sampai jumpa di obrolan sisa semalam yang lainnya.