Showing posts with label band. Show all posts
Showing posts with label band. Show all posts

Tuesday, November 18, 2014

Catatan Kecil dari Konser Bottlesmoker #HypnagogicJourney


:catatan personal tentang perayaan keluarga dan hal-hal yang tidak terduga yang membuat hati haru dan bahagia

13 November 2014.
image

15.35 WIB Saya dan mas Trie masih di Omuniuum, menyelesaikan beberapa pekerjaan kecil sebelum berangkat ke venue konser, rooftop sabuga. Seharian kami harus kesana kemari dan saat itu perasaan kami masih tenang karena sedari pagi, perjalanan kami ditemani sinar matahari.
16.00 kurang saya melihat keluar jendela toko dan menyangka hari sudah menjelang petang. Mas Trie hanya berkata singkat, mendung it, gelap pisan.

Dalam hati saya masih berharap oh, ga apalah hujan sekarang tapi nanti pas konser mulai hujannya berhenti dan semoga tidak terlalu deras. pukul empat sore lewat sedikit kami berdua berangkat ke venue.

Mobil kami bahkan belum sampai ke gandok ketika titik-titik air sudah membasahi jendela mobil dan tidak lama kemudian hujan turun dengan deras. Sederas-derasnya.

Sepanjang perjalanan menuju Sabuga, kami lebih banyak diam membisu. Pikirannya sama. Gimana kondisi venue dan apakah konser ini bisa berjalan sesuai dengan rencana atau tidak.

Kurang lebih pukul lima sore kami sudah sampai di Sabuga. Parkir. Mas Trie yang turun dan saya menunggu di mobil. Saya bilang saya akan turun nanti kalau hujan sudah reda dan meminta untuk menyampaikan ke Angkuy untuk mengumumkan via sosial media kalau open gate yang sedianya pukul 18.00 ditunda dahulu sampai kondisinya memungkinkan. Di mobil, saya sempat tertidur sejenak dan ketika terbangun, hujan masih turun dengan derasnya.

Cek WhatsApp, ada foto venue dari Mas Trie. Kondisinya porak poranda. Belum ada solusi kecuali tetap menunggu hujan reda.

image
image

Pukul tujuh kurang, hujan sudah rintik-rintik. Mas Trie memanggil saya untuk turun dari mobil. Wajahnya sudah lebih cerah. Ayo, kayaknya bisa terus kok konsernya. Saya mengikuti dia ikut ke dalam venue. Markas Jendela Ide yang dijadikan base camp selama acara penuh dengan  teman-teman, muka-mukanya masih murung. Naik ke rooftop Sabuga, semua kru Bottlesmoker tampak sibuk mengeringkan beberapa alat dan tampak balon yang asalnya akan jadi backstage sudah ditempatkan dengan manisnya di panggung.

Melihat muka saya yang bertanya-tanya, Mas Trie tanpa diminta menjelaskan kalau satu-satunya jalan biar shownya tetap berlangsung ya Bottlesmoker harus main di dalam balon. Saat dia bercerita, semua alat sudah di set kembali dan lampu mulai dinyalakan. Begitu semua menyala, kode dimulainya acara langsung dilemparkan.

Open gate jam 20.00!!

Semua langsung sibuk. Kru-kru langsung membereskan area, kursi-kursi yang tadinya akan di letakkan di banyak tempat dikonsentrasikan di tempat yang ada atapnya termasuk meja merchandise dan minuman. Pak Usman, salah seorang kru senior yang bekerja membangun area venue dari pihak sponsor sempat nyeletuk, tenang neng, dikasih hujan kayak beginimah udah biasa ketika saya meminta maaf karena harus memindahkan beberapa set yang asalnya mau ditempatkan di beberapa titik venue.

Pukul 20.00 tepat, gerbang di buka dan penonton mulai memasuki area. Beberapa wajah yang dikenal mulai menyapa. Muka-muka para pengisi acara yang asalnya murung semua sudah mulai tersenyum. Begitu area dirasa sudah mulai penuh, voice over mengumumkan bahwa konser sebentar lagi dimulai.

20.15 Nobie dan Angkuy memasuki panggung, intro mulai terdengar, lampu di dalam balon mulai dinyalakan. Konsernya jadi!

image

Begitulah titik kritis yang kami lewati kemarin. Semua orang mengira kalau set panggung dan venue dari awal memang begitu. Kami dengan naifnya masih sangat percaya bahwa kesaktian pawang hujan tidak memerlukan plan B dan itu dibayar tunai oleh semesta.
Beruntunglah kami punya Mas Trie dan Ewing hari itu. Beruntunglah ada balon yang bisa dijadikan dome untuk panggung dan beruntunglah rooftop sabuga masih punya area yang kering. Beruntunglah kami karena tim penyelenggara sangat solid, sponsor juga para penonton semua pengertian dan baik hati. Beruntunglah justru karena semesta, konser malah berjalan sangat istimewa dengan munculnya ubur-ubur raksasa.

Dan semua orang mengira kalau itu sudah direncanakan dari awal! :))

Terimakasih tak terhingga pada #alLAboutmusic – Djarum dan keluarga besar Otten yang selalu mendukung langkah kami yang masih saja banyak kurang disana-sini.
Untuk keluarga besar Bottlesmoker, Angkuy, Nobie, Agam, Badilz, seluruh kru dan tim juga pendukung acara, anak-anak kucing (Dimas, Meicy, Arum dan Yudha), Wanggi, Matta, Keluarga kapsul, dan yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, lunas dan semoga semua naik kelas! :)
Untuk tim dokumentasi Nasrul dan esok tenar, semoga masih banyak project kita ke depannya nanti, amiiiin.
Tim Omuniuum yang selalu sabar menghadapi setiap acara sibuk-sibukan. Kalian juga selalu jadi energi buat bikin-bikin terus.
Adun, Aris (yang diimpor dari bogor), Utok dan tim yang ngurusin sound, taun hareup deui nyak! :))
Ewing, Akbar untuk energi kreatif kalian. Ewing untuk mewujudkan design venue yang luar biasa dan Akbar untuk visual yang asyik sekali, terimakasih!
Om Meg sebagai show director dan Bagus Nugroho yang menyiapkan area beserta ijin-ijin korps cokelat, makasih banget!
Rama sebagai divisi minuman berenergi, tanpamu, pesta under the sky kita pasti gak jadi. Nuhun! Haha.
Geng Stellar yang menyiapkan aplikasi untuk meramaikan konser, ditunggu inovasi berikutnya yaa..
Untuk teman-teman media yang selalu setia meliput juga terimakasih banyak.
Terimakasih selalu untuk kalian, yang menyisihkan uang untuk membeli tiket, cd dan merchandise, yang meluangkan waktu untuk bersenang-senang bersama kami, harap diingat selalu bahwa ini dibuat dari, oleh dan untuk kita bersama karena tanpa kalian, energi untuk membuat karya dan pertunjukan takkan bisa menyala.
dan terimakasih semesta.

ditulis oleh
– Boit
kali ini jadi supervisor dan asistennya Mas Trie buat #hypnagogicjourney, selalu merasa beruntung karena punya banyak keluarga jadi acaranya banyak.
image
image

Dokumentasi konser #hypnagogicjourney bisa dilihat disini: FB Bottlesmoker

Monday, December 16, 2013

Catatan Kecil dari Pesta Bertajuk Sunyaruri

"Ini lagu apa yang lagi main?"
"Aku dan Buih"
"Kira-kira berapa lama lagi pertunjukannya?"
Saya melihat ke arah kertas rundown dan  menjawab, "yah, paling setengah jam lagi"
Padahal dalam hati hitungan saya kemungkinan pertunjukan mungkin masih berlangsung sekitar 40 menit sampai satu jam lagi.
"Invitation kemarin dilepas berapa?"
"1100"
Dialog selanjutnya adalah diskusi panas tentang kapasitas yang hampir tak cukup. Beberapa tindakan diambil termasuk menolak masuk pengunjung yang terlambat datang meski sudah membawa tiket. Begitu suasana saya rasa sudah cukup tenang, saya meminta ijin untuk melayani permintaan media yang meminta wawancara penyelenggara acara.

Selesai wawancara, saya masuk kembali ke area penonton dan ikut larut dalam kegembiraan bersama Sarasvamily. Saat itu sudah hampir sampai di penghujung acara, Sarasvati sedang membawakan Sunyaruri dan menutup acara lalu mereka keluar dari panggung. Didekat saya berdiri, anak-anak Sarasvamily tak henti-hentinya berteriak, lagi, lagi, lagi! Teriakan itu diikuti penonton lainnya dan tak lama kemudian lampu panggung kembali menyala.

Terdengar intro lagu perjalanan memakai piano dan terdengar suara perempuan "duduk dihadapanku..." Syaharani muncul ke atas panggung bersama Risa dan penonton kembali meledak bersorak-sorai. Usai Syaharani dan Sarasvati membawakan Perjalanan, lagu selanjutnya adalah Tiga Titik Hitam. Penonton tidak mengira kalau ternyata Sarasvati menyanyikan lagu tersebut bersama Fadly. Begitu Fadly muncul, ruangan kembali meledak dengan teriakan dan tepuk tangan. Tak terasa saya mengusap sudut mata. Lagu ini selalu membawa ingatan saya pada dua orang sahabat saya yang telah tiada. Usai Tiga Titik Hitam lalu Mirror juga dibawakan masih bersama Fadly dan pertunjukan pun usai sudah. Risa memanggil semua penampil ke atas panggung, semua penonton berdiri dan bertepuk tangan.Saya merasa sesak oleh rasa bangga dan haru juga larut dalam kegembiraan bersama teman-teman yang berada disekeliling saya.

Yang saya ingat lagi adalah malam itu saya memeluk banyak sekali orang yang saya sayangi yang hadir bersama di pesta #Sunyaruri.

Hari ini hari minggu. Sudah  3 hari berlalu dan kejutannya tak berhenti disitu. Di Instagram ada 600 lebih posting foto dengan #Sunyaruri. Timeline juga masih penuh dengan mention @sarasvatimusic tentang pesta kemarin dan teman-teman yang mencari produk Sunyaruri di @omuniuum.

Saya juga sudah berkali-kali menuliskan rasa syukur dan terima kasih tapi rasanya masih saja belum cukup. Kali ini, saya meminta maaf untuk segala kekurangan yang telah terjadi dan sebagai penghuni omu juga sebagai penjaga gawang Sarasvati plus bagian dari penyelenggara,tak lengkap rasanya jika saya belum menuliskan penutup sebagai tanda usainya acara.

Terima kasih yang paling utama pada keluarga besar Djarum Black Mild. Seisi kantor Otten, Pak Wiradi, Pak Budi Agus Salim, Pak Herman dan Mbak Vita, untuk cinta, dukungan dan kepercayaannya pada kegilaan kami.

Infamous Classic untuk wardrobe player yang bikin ganteng dan juga produknya yang melengkapi paket istimewa #Sunyaruri juga Fragrance Kikichan untuk gaun yang dikenakan oleh Risa dan Marshella, terimakasih banyak!

911 Stationary, Koh Arief untuk dummy buku Sunyaruri dan kesabarannya dalam melayani kecerewetan tetangga untuk melengkapi segala kebutuhan fotokopi dan print ID buat panitia. Juga untuk jagain gerbang Omu ketika tutup pas acara. Koh Arief keren deh, kalo ga ada kokoh sulit nih hidup kita.

Tim kreatif, dekor dan talent hantu gila-gilaan TragicMagic, the dulurs, Riana Rizki dan Denise, kalian memang selalu bikin orang jantungan entah di hasil, entah di proses, salut dan terimakasih udah mau dikerjain ama kakak-kakaknya, senang jadi bagian dari kalian. :) 

Teh Astie dan tim sebagai show director dan Revan kepala tim produksi yang komprominya gila-gilaan, saya ga tau kalau ga ada kalian kita nasibnya gimana. Punten kalau ada yang kurang, hatur nuhun buat semuanya. Kan, kata saya juga kita mah EO jadi-jadian. Hahahaha. 

Keluarga besar nan cerewet Sarasvamily buat teriakan yang paling kenceng, buat ikut bantuin jaga tiket, ngurusin ini dan itu dan entah apalagi pokoknya banyak karena kalian bertebaran dimana-mana. Tanpa bantuan kalian, kayaknya ibu bos pingsan dan Sarasvati ngga jadi manggung. Hahaha. Lagi, lagi, lagi! :))

Ink Rosemary, Mas Fadly, Syaharani dan Sara Wijayanto terimakasih untuk bersedia berbagi panggung dan berdendang bersama Sarasvati.

Kang Fitrah dan kawan-kawan untuk string dan Kirei untuk backing vokalnya, terimakasih, kalian ciamik sekali! 

Feransis dan Nasrul Akbar, tangan kiri dan tangan kanan, anjing dan kucing ditambah Aris sebagai pawangnya, kalian yang membuat saya tersenyum paling lebar, terima kasih untuk banyak hal yang saking banyaknya susah banget diabsen. Belum bosan kan kerja bareng kita? :))

Olla, Berman dan tim keamanan Siaga Bintang, jangan galak-galak dong, sampe ga boleh masuk backstage segala. hahaha.. Maaf ber, makanannya kurang. Hahaha.. Keren, makasih!

Riandy Karuniawan untuk artworknya yang menghias buku Sunyaruri dan invitation dan media dan pembatas buku dan baligo dan lukisan dan lainnya, saya kagum terus sama kamu Ndi. :)

Maria Lubis, editor buku Sunyaruri yang tak hadir karena menyambut kelahiran dan benar-benar lahir beberapa hari setelah konser, selamat untuk kelahiran anak keduanya, terima kasih doanya!

Bang Indra Q yang mixing dan mastering album Sunyaruri yang janji datang tapi ga jadi gara-gara siap-siap mau manggung 30 tahun Slank, saya sebel ga bisa nonton abang! Terimakasih!

Ighe, Didit dan tim dokumentasi asuhan mas Nasrul plus Opik, terima kasih banyak untuk foto dan videonya.

Steven dan Alison, dari story of peter sampai Sunyaruri. Peluk cium untuk kalian. :) 

Megadeth, Punjung dan tim translusen serta heartbreak station, terimakasih untuk Film dan dukungan plus mainan interaktifnya, untung dvdnya jadi pas hari H. Deg-degan gila!

Wiku, sahabat dan teman baik yang menyempatkan diri membantu ini itu, ikut menyiapkan paket dan juga menjaga tenda media panitia swasta, nuhun pisan ku. Pisan.

Ebet dan Harry yang tak bosan mengingatkan orang untuk memakai gelang di pintu masuk, kabarnya Ebet ngingetin pake gelangnya sampai kebawa mimpi ya? hahahaha. Tengkiyu!

Yudo Baskoro dan Monik tersayang, hatur nuhun buat bantuannya sebagai penghubung dengan label dan juga Iyo, punten ga sempet ngobrol panjang lebar, resep pan kamari nya yo? Nuhun!

Mang Okid buat bantuin di hari H, ngga tau tuh gimana caranya ngangkut 500 buku kalo ga ada mang Okid. Nuhun pisan! :)

Kang Inyo dan Pak Pandji, hatur nuhun untuk bantuannya. Besar artinya untuk kami.  

Tim LO, Novi, Ipin dan Sasmi, mohon maaf ga menemui kalian satu persatu karena sibuk. Terimakasih untuk mengawal bintang tamu kita kemarin. Kapan-kapan mungkin lagi yah. :))

Tim Omuniuum dan #littleomu, Sony, Ivan, Yuyun dan Tina serta Irna dan Indra, untuk selalu setia di garda depan dan untuk senyum kalian yang selalu hadir.  We love you.

Isak dan Kenken serta kru untuk sound dan lighting, hatur nuhun.

Koh Richad yang kepalanya sampe berasap karena ngejar beresnya cetakan buku dan pernak-perniknya. Terimakasih.

Kang Dadut untuk kompromi dan pengertiannya, punten kang, saaya-aya. :))

Mas Yusak, untuk segala bantuannya mengurus cetak mencetak CD dan DVD. Tepat waktu semuanya mas, nuhun.

Rackell terimakasih untuk stiker dan plastik packingnya. Keren.

Seluruh staff Padepokan Mayang Sunda untuk semua fasilitasnya dan pengertiannya, semoga bisa terus maju pantang mundur dan makin banyak acara keren di sana.

Acay, Iyo, Adun, Denden, Benk, Ghera, Utok, lamun aing euweuh maraneh, aing mah rek sare, cicing di imah weh, hahahaha. Segan. Kerjaan kalian keren abis!     

Keluarga besar Sarasvati, Risa, Akew, Gallang, Gigi, Papay, Kevin, Mang Jims, Shella, plus sedih sedikit karena Sherry dan Yura ga ada, malam itu kalian keren sekali. Udah itu aja, sisanya mah ntar ajalah pas ngedongeng bareng yah. :))

Buat Mas Trie, duet maut partner seumur hidupku, kata saya juga visualnya cari orang jadi kamu bisa digangguin. Ah well, but we did it again ya mas.. :)

Untuk yang tidak tersebutkan namanya, yang membantu kita dari awal sampai akhir dengan bantuan dan dukungannya, terus untuk semua yang sudah susah hujan-hujanan membeli tiket, yang datang nonton, yang beli merchandise, yang karena datang terlambat ditolak di pintu masuk, yang mau antri dengan tertib dan bersedia mengikuti semua aturan, semua yang sudah berbagi energi bersama untuk menyaksikan Sarasvati.

Tanpa kalian semua, #Sunyaruri tidak akan menjadi nyata.  

Boit
Bagian dari keluarga Sarasvati, Omu, EO jadi-jadian yang merasa ternyata kali ini bolong kerjaannya banyak juga tapi karena sudah berlalu hanya bisa meminta maaf dan berbahagia karena shownya keren, bandnya keren dan penontonnya senang semua termasuk saya juga kan jadi ikutan keren. Iyalah, ngurus 1200 orang teh ternyata banyak banget, untung yang bantuinnya banyak juga, segan. :)) 









Wednesday, June 27, 2012

Seribu Keping

wake up, don’t you hide now. 
sometime this morning someone, takes you on the run. 
breathe up all you can somehow, 
sometime this morning someone will take you run. 
takes you run | off her love letter - melancholic bitch

Beberapa hari yang lalu, saya memperhatikan timeline twitter, ada beberapa teman saya bicara soal keuntungan dari penjualan CD, cara jualan CD, digital, rilisan fisik, cara pembayaran, etc, etc. 

Perdebatan yang tidak pernah ada ujungnya. 

Sama halnya dengan perdebatan tentang kekalahan penjualan cd fisik dari pembajakan, itu juga sesuatu yang tidak pernah ada ujungnya. Nah, tapi saya tidak akan bicara soal pembajakan, masalahnya, saya sendiri masih rajin download lagu luar dari situs-situs penyedia jasa download ilegal. Sementara untuk rilisan lokal karena ada beberapa distributor yang menitipkan rilisan dari banyak band lokal ke tempat kerja saya, otomatis saya tinggal menyisihkan saja dari uang jajan dan tinggal berjalan beberapa langkah ke rak cd yang ada di tempat saya sendiri. 

Berangkat dari pengalaman keseharian, saya hanya bisa tertawa membaca perdebatan tak ada ujungnya itu. Masalahnya, habis waktu dan energi untuk berdebat sementara sebetulnya daripada berdebat diluar dan berkoar-koar, lebih baik ngobrol dengan masing-masing personil band dan siapapun yang dipercaya untuk menjual apapun yang dihasilkan band karena situasi untuk setiap band, setiap produk yang dihasilkan, setiap hal itu bisa berbeda. 

Misalnya untuk band mainstream alias major alias band label besar, dari dulu, sebelum ada internet, sebelum kita dengan mudahnya googling "bla bla bla mp3 download gratis", penjualan rilisan fisik berjalan dengan lancar. Iklan di media, manggung di tivi, manggung off air, secara otomatis meningkatkan penjualan kaset dan cd. Soal bajakan dari jaman itu juga sudah ada, tapi pembeli bajakan dengan pembeli cd asli masih bisa tertutupi karena label masih bisa berkoar-koar kalau penjualan kaset dan cd sekian kopi, sekian juta keping. 

Sampai jaman tiba-tiba berubah. Orang tidak perlu lagi pergi ke toko CD dan ke lapak-lapak bajakan. Cukup ke warnet, mengeluarkan uang sekian ribu beberapa jam, pulang dengan membawa berpuluh-puluh album hasil download.  

Tampaknya tidak ada satupun label pun yang siap dengan hal ini. Tidak ada juga orang yang pada saat itu berpikir kalau ini akan mengubah banyak hal. Ada sih yang siap dan kemudian di waktu yang tepat mengeluarkan gadget yang bisa dengan mudah memfasilitasi orang untuk membeli lagu tanpa perlu pergi kemana-mana. Tanpa perlu membeli rilisan fisik.

Tapi hal itu tidak terjadi di sini, di Indonesia. Sekian tahun yang lalu, ketika saya memulai urusan memesan barang ke toko saya dengan sistem email atau sms, saya dengan teman saya memperkirakan kalau saya harus membuat situs yang canggih dengan sistem pembayaran yang canggih pula, entah memakai paypal entah memakai sistem kartu kredit atau biasa juga disebut e-commerce, dalam waktu dua atau tiga tahun ke depan. Tapi di tahun ini pun, akhirnya kami menyerah dengan catatan tampaknya pembeli di Indonesia baru siap dengan hal itu, 5 sampai sepuluh tahun kedepan. Itu pun masih mungkin. 

Entah sudah berapa label dan perusahaan yang tumbang dalam urusan jual beli format digital musik disini. Kalaupun ada, tidak pernah sampai hitungan ratusan ribu download. Kalaupun ada jutaan lagu yang terjual itu juga melalui sistem RBT yang sempat menuai kontroversial beberapa waktu yang lalu ketika sistem RBT digugat secara kegunaan dan cara penjualannya. Setelah dilarang memaksa atau menjual secara diam-diam melalui paket-paket tertentu via provider, RBT hilang begitu saja hitung-hitungannya.   

Kenalan dan lingkungan saya, tentu saja adalah band-band yang mendistribusikan rilisannya via distributor independen alias indie yang kemudian berubah jadi genre yang tiba-tiba tampak mengharuskan sebuah band jadi cutting edge, tidak biasa dan mungkin malah jadi aneh dan tidak jelas. Sementara di kepala saya, independen dan major itu dipisahkan oleh kata bernama kemampuan produksi dan distribusi. Yang major punya label super duper kaya, bisa produksi album dan rilisan fisik dalam jumlah besar, distribusi secara nasional dan punya biaya promo yang juga besar, jadi otomatis pendengarnya jauh lebih banyak dan jadilah band mainstream. Yang indie, labelnya miskin, bandnya miskin, cuma mampu produksi sedikit, distribusi cuma dibeberapa tempat, cuma mampu promo keliling radio lokal di kota masing-masing, ke kota lain nunggu undangan. 

Jadinya tampak seperti tidak di terima pasar dan lain-lain jadilah genre indie padahal orang mendengarkan dan jadi terasa tampak ekslusif padahal-mungkin-yang-dengar-hanya-sedikit karena label kaya ogah mengeluarkan uang untuk band-band yang dianggap tidak menjual alias tidak seragam dengan selera pasar yang dibentuk oleh mereka sendiri. 

Kembali ke rilisan lokal dan independen, tentu pengalaman menjual saya tidak sampai puluhan ribu keping karena band beserta distributor dan label indie ini tidak punya kemampuan yang lebih untuk memproduksi. Plus karena promo yang terkejar juga cuma via radio lokal, radio luar kota kalau MD-nya bersedia memutar di jam-jam ramai atau promo via facebook dan twitter. Jadi ukuran yang saya pakai sama dengan judul yang saya tulis diatas, seribu keping.  

Seribu keping adalah jumlah yang paling umum yang diproduksi band lokal yang mampu. Keuntungan seribu keping ini tentu saja tidak akan menutup biaya produksi album berupa rekaman di studio, biaya mixing dan mastering, belum ini dan itu. Seribu keping buat band yang tidak mampu akan terdengar sangat banyak tapi juga sangat sedikit buat band yang benar-benar menghitung keseluruhan produksi. Minimum untuk menutup itu semua tentu saja jumlahnya bisa jadi di angka lima sampai puluhan bahkan mungkin ratusan ribu keping.

Itulah kenapa saya hanya tertawa ketika beberapa orang disekeliling saya berdebat soal penjualan rilisan band lokal. Maksudnya kalau materi bagus, distribusi bagus, promosi bandnya bagus, edukasi fansnya bagus, angka seribu itu bisa habis dalam waktu tiga sampai enam bulan, setahun paling lama. 

Kecuali tentu saja kalau orang ributnya karena penjualan yang cuma seribu itu menguap entah kemana. Entah hilang ketika distribusi atau mungkin di rumahnya menumpuk sisa sekian ratus cd yang belum terjual. Band yang produksi ini seribu keping ini ribut soal bajakan ?  Astaga, kita bicara soal seribu. Kerugian yang dialami juga tidak akan melebihi keuntungan yang didapat kalau seribu keping ini habis.

 Ribut soal download dan tidak membeli rilisan fisik ? Itu pilihan masing-masing orang. Ada yang perlu merasa memiliki dengan membeli rilisan fisik, lebih banyak yang cukup punya file mp3 di handphone, di komputer karena toh, nanti kalau beli cd juga di-rip dan dipindah ke komputer. Bahkan mungkin ada yang tidak tahu kalau band itu mengeluarkan benda yang bernama cd.

Kalau takut rilisan fisik tidak terjual karena ada link downloadnya, kenapa takut ? Tidak pede dengan produk yang dihasilkan ? Rugi karena telah mengeluarkan uang, tenaga dan waktu ? Itu kan pilihanmu sendiri untuk membuat band. Resiko dan konsekuensi. 

Kalau saya dituding enak dan bisanya cuma ngomong karena tinggal menjual produk, saya punya beberapa contoh band yang merilis lagu secara gratis dan mendapatkan hasil yang setimpal. 

Koil, setelah merilis gratis album Blacklight, ternyata kemudian ada yang bersedia memproduksi dan membagikan cdnya secara gratis karena memang mereka tidak memikirkan lagi penjualan cd. Produksinya dua puluh ribu keping, baru habis dibagikan setelah 4 tahun.

Bottlesmoker, dari awal tidak memikirkan penjualan cd tapi memikirkan bagaimana cara lagu mereka didengar oleh banyak orang, rajinlah mereka berbagi file, berhubungan baik dengan promotor,  rajin korespondensi. Hasilnya, mereka diundang manggung kesana kemari sampai ke luar negeri. Ketika produksi cd dalam jumlah terbatas, habis juga. 

Seringai, saya pernah mendengar Arian13 menyarankan untuk berbagi dengan siapapun karena mereka tidak melarang filesharing. Untuk promo album mereka membagikan single yang hitungannya telah diunduh oleh ratusan ribu orang. Sekarang, semua sedang menunggu dengan tidak sabar rilisan baru mereka. Dua album sebelumnya sudah habis entah dari kapan.

Kalaupun tidak memilih cara itu juga tidak apa, saya  juga kenal band-band yang baru saja merilis album dan penjualannya baik-baik saja. Bahkan ada yang dengan berani tidak menyediakan promo-bagi-single-gratis dan penjualan cdnya diluar perkiraan saya. 

Diluar ini semua, memang butuh kerja keras. Tidak mudah tentunya membuat materi yang dirasa bagus, dibuat dengan usaha sekuat tenaga lalu merasa dilecehkan dengan pertanyaan lagunya bisa di download di mana ?  Itu wajar, sangat wajar.

Lebih baik mendidik dengan menunjukkan beli saja cdnya disitu atau disana atau sediakan link streaming  agar setidaknya orang mau mendengar sedikit materi yang dibuat dan siapa tahu tertarik untuk kemudian mencari rilisan fisiknya. Produksi merchandise, cari link dan lingkungan yang tepat untuk memperkenalkan bandmu dan cari job manggung sebanyak mungkin. Promosikan rilisanmu terus menerus. 

Tidak gampang, tidak sebentar, tapi pasti akan menuai hasil. Percayalah. Lebih baik berbagi daripada memarahi yang mungkin malah membuat yang dimarahi bingung karena tidak tahu salah mereka apa. Siapa tahu ternyata mereka masih kecil atau tinggal di pedalaman dan tidak mengerti cara mendapatkan cdnya. Beritahu mereka. 

 Ah, tulisan ini tidak akan pernah ada ujungnya karena kemudian saya juga akan cerewet tentang ini dan itu. Saya akan mengakhiri ini dengan pertanyaan balik pada orang yang mengeluarkan statement beli dan hargai dengan membeli rilisan fisik, kapan terakhir kali membeli cd dan tidak mendownload lagu secara ilegal ?

*tulisan ini dibuat benar-benar hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman belaka. Tentunya harus lebih disempurnakan dengan data. ;)

Thursday, February 09, 2012

Sisa Obrolan Semalam

pasti ada cara untuk mencari uang
pasti ada cara untuk bersenangsenang
badai pasti datang kita tak akan menang
mengapa harus bimbang | nyanyikan lagu perang - koil


Semalam, saya terlibat obrolan yang cukup seru dengan beberapa teman yang merupakan pelaku di skena musik indie lokal. Mereka pemain band dan manajernya, saya, tukang dagang merchandise. Kebetulan teman-teman band yang ngobrol semalam itu juga yang merchandisenya didistribusikan di tempat saya bekerja. 

Namanya ngobrol dengan pemain band, obrolannya berkisar seputar gogon alias gosip underground lalu setelah beres urusan gogon, beranjak ke topik yang lebih serius, soal bagaimana caranya menggarap album dan juga bagaimana caranya menghidupi kas band yang terkadang minim justru di saat band tersebut sedang butuh-butuhnya uang untuk produksi album karena kas yang ada sudah habis untuk rekaman. 
 
Salah satu cara mencari uang yang paling cepat dan paling umum itu produksi merchandise. 

bagi yang sudah terbiasa dengan skena band-band-an sudah pasti tahu, yang dimaksud merchandise disini biasanya berupa tshirt, tas, topi yang berhiaskan logo atau artwork band. Bagi yang belum tahu, silakan googling dengan kata kunci merchandise band lokal maka akan ditemukan banyak link dari toko-toko yang menjual merchandise-merchandise tersebut.
Bagi band yang punya modal biasanya produksi sendiri. Bikin desain, cari produsen, pesan dan jadi. Pemasarannya bisa dari tangan ke tangan, via social media atau melalui toko  alias distribution outlet biasa juga disingkat distro. Eh, distro disini bukan seperti yang sekarang. Dulu distro tumbuh karena kebutuhan untuk memasarkan merchandise band. Sekarang saja berubah bentuk jadi tempat jualan merk sendiri. Eh tapi itu soal lain, mari kembali ke soal cara band mencari uang. 

Nah bagi yang tidak punya modal, bisa saja mengajak kerjasama pihak lain untuk membeli lisensi merchandisenya lalu si band mendapat bagi hasil alias royalti dari penjualan merchandise itu. Royaltinya bisa dibayar didepan atau setelah barang laku tergantung perjanjian. Besaran royaltinya juga tergantung perjanjian. Paling umum itu sekitar 10% dari dari harga jual merchandise. 

Sepertinya mudah dan cepat. 

Tapi ...

hal ini mudah dan cepat bagi band yang sudah punya nama dan punya fans loyal yang bersedia menyisihkan uangnya untuk membeli merchandise dari band kesayangannya. Buat band-band yang baru awal memulai tentu saja butuh usaha yang lebih keras dari sekedar mencari modal produksi. Membuat materi musik yang bagus dan berusaha untuk didengar banyak orang sebaiknya didahulukan daripada membuat merchandise. Urusan marketing band ini juga ada ceritanya sendiri, sekarang mari kembali lagi ke soal cara band mencari uang. 

Buat band yang sudah punya nama juga ternyata ada masalah ..

punya materi musik bagus, artwork bisa dijual, mampu memproduksi merchandise itu bagus. Masalah muncul ketika kita bicara soal menjual lisensi merchandise. Ada keengganan untuk menjual lisensi merchandise karena konon katanya menurut pengalaman dan gogon yang bertebaran, seringkali pihak band dirugikan karena ketidak jujuran dalam jumlah produksi merchandise. 

Janji produksi seratus, produksinya ternyata seratus lima puluh. Janji produksi yang 3 desain yang diproduksi 5. Janji bayar royalti, royalti tak mampir-mampir. Janji laporan kalau produksinya diulang, laporan tidak, produk selalu terpajang manis sementara kalau ditanya barangnya sudah lama habis.

sebagai tukang dagang merchandise tentu saja kening saya langsung berkerut ...

Masalahnya, saya ada ditengah-tengah. Demi kelangsungan perdagangan dan rejeki, tentu saja untuk saya sebagai pedagang, band harus hidup, produsen atau label yang memproduksi juga harus hidup. Tidak masalah untuk label-label yang masih ada di lingkungan band itu sendiri karena kontrolnya mudah dan meskipun ada keterbatasan modal tapi biasanya mereka bisa survive.

Masalah lebih besar justru ketika yang melakukan kecurangan yang dimaksud itu label-label atau produsen yang ada di luar lingkungan band yang begitu kecurangannya terendus, lisensinya langsung di stop.

Kenapa ?

Obrolan semalam soal cara mengisi kas band yang sedang minim ini jadi berhenti begitu pertanyaannya itu. Sampai obrolan usai, tidak ada satupun alasan yang masuk akal dari saya maupun teman-teman soal mengapa hal semacam ini bisa terjadi.

Untuk hitungan produksi, harus dibahas tersendiri juga, tapi sederhananya keuntungan yang didapat tentu akan lebih panjang umurnya ketika satu sama lain memperhatikan hak dan kewajiban masing-masing. Artinya kerjasama yang baik antara pihak band dengan pihak yang produksi disini tentunya. Komunikasi. Laporan yang transparan. Berbagi cerita dan kondisi.

Kecuali memang yang dicari adalah keuntungan sesaat lalu memanfaatkan situasi karena tak ada perjanjian hitam diatas putih. 

Tapi kan (harapannya) umur band tidak hanya satu dua tahun saja ...

ah. sampai jumpa di obrolan sisa semalam yang lainnya.