Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Saturday, January 31, 2015

#baladaibuduatitiknol | Belajar Lagi Jadi Ibu Belajar Lagi Menulis

Beberapa waktu yang lalu saya membaca beberapa tulisan tentang menjadi ibu, betapa lelahnya, betapa tidak punya waktu untuk diri sendiri karena jadi ibu memang pekerjaan 24/7 alias dua puluh empat jam dalam seminggu alias setiap hari. Belum lagi jika ibu memilih metoda ASI eksklusif yang mengharuskan ibu menghentikan segala pekerjaan di luar rumah atau tetap bekerja dengan konsekuensi memompa payudara untuk stok ASI kapanpun ketika sempat. Lalu jika bayi atau anak sakit atau tidak mau makan atau harus begadang karena tidak mau tidur. Ibu tidak bisa ke salon, tidak bisa ngopi-ngopi cantik apalagi ke klab buat dugem karena jadi ibu membutuhkan pengorbanan dan itu adalah pekerjaan yang mulia dan menyita waktu dan sebagainya.

Di sisi lain, saya juga mengamati kalau keberhasilan jadi ibu juga harus diabadikan. Mulai dari saat hamil sampai si bayi lahir juga  cara mengurus bayi. Seluruh dunia harus melihat keberhasilan dalam mengurus si jabang bayi sampai dia bisa berlari. Bayi sedang tersenyum, buru-buru ambil henpon dan foto senyumnya yang membanggakan. Makan hari ini berhasil, ambil foto juga. Berhasil bikin makanan buat si bayi yang baru boleh makan segala yang dihaluskan, seluruh dunia harus tahu. Jalan dan liburan? Penting sekali untuk dibagi. Karena anakmu spesial dan cara membesarkan anakmu juga spesial. Jadi itu penting. Bagimu. Tapi belum tentu penting buat dunia.

Jangan marah dulu. Jadi ibu memang spesial. Punya anak itu pengalaman yang sangat luar biasa dan saya juga tahu hal itu. Saya bukan terganggu soal berbagi dan pamer bagaimana keseharian menjadi ibu. Saya juga punya dua anak. Yang sulung 9 tahun dan yang bungsu belum genap 2 bulan ketika saya menulis ini. Saya juga suka pamer. Suka selfie meski gak terlalu pede buat ngeshare banyak-banyak.

Yang saya heran dengan fenomena sosial media adalah setelah ibu-ibu berbagi kesulitan soal membesarkan anak, berbagi kebahagiaan soal punya anak, kok masih punya energi untuk nyinyir dan menghakimi ibu lain yang punya anak juga.

Bukankah ibu harus mengajarkan anak untuk bisa suportif, punya empati dan rasa simpati pada orang lain? Apa kabarnya kalo anak diajarkan begitu tapi ibunya malah sibuk dengan "cara gue paling bener"nya sendiri? Tiap ibu punya cara masing-masing untuk bisa tetap waras dan berdamai dengan situasi rumah masing-masing. Punya cara sendiri untuk tetap survive. Mau pake ASI, formula, air tajin. Mau imunisasi atau tidak. Mau memakai gendongan atau stroller. Pakai babysitter atau tidak. dibantu suami atau sendirian. 

Mengingatkan dan berbagi, hayuk. Nyinyir soal cara? Simpan dalam hati atau diomongin sambil bisik-bisik sama teman atau partner yang sepaham.

Jadi ibu itu bukan kompetisi. Bukan jadi yang paling sempurna untuk dunia luar tapi bagaimana bisa berfungsi untuk keluarga inti terlebih dahulu baru kemudian membagi tips dan trik yang digunakan. Bayi itu "live in the moment" dia belum punya sejarah, tidak peduli siapa yang memberi makan, tidak perduli ibunya sempurna atau tidak tapi ada atau tidak orang yang mengurus dia. Bersyukurlah ibu-ibu yang bisa berfungsi dengan baik, apalagi yang punya support system yang baik yang mendukung anak untuk tumbuh kembang dengan sehat dan bahagia.

Begitulah.

Sekian tulisan pertama seri #ibuduatitiknol saya untuk kali ini. Semoga setelah ini akan ada tulisan lain karena saya sedang punya waktu luang. Untuk kritik dan lainnya, mangga silakan komen, dipersilakan juga untuk berbagi. Mohon maaf untuk bapak-bapak, bukan mengecilkan peran bapak tapi karena saya ibu-ibu ya jadinya sudut pandangnya ibu-ibu.

O ya, dibawah ini ada iklan susu formula yang justru dengan cerdas menunjukan kalau "No matter what our beliefs, we are parents first."

Sunday, June 10, 2012

Kali Ini, Bukan Bunyi Telepon

You could've done anything, if you'd wanted
And all your friends and family think that you're lucky,
But the side of you they'll never see
Is when you're left alone with the memories
That hold your life together, together like glue.

You pull back the curtains, and the sun burns into your eyes,
You watch a plane flying, across a clear blue sky.
This is the day your life will surely change.
This is the day when things fall into place.
This is the day your life will surely change.
This is the day when things fall into place.
This is the day,
This is the day. MSP. (cover The The)

Lahir. Hidup. Mati.

Pagi tadi begitu membuka mata, ada 4 broadcast message yang masuk dengan isi berita yang sama, Bayi Raline meninggal dunia.

Inalillahi. Bayi Raline itu anak seorang teman saya. Pertama kali saya bertemu dengan namanya di laman facebook salah seorang teman lain. Beritanya meminta sumbangan untuk bantuan pengobatan Raline yang mengalami masalah dengan pencernaan dan semenjak lahir belum pernah keluar RS. Saya share beritanya lalu lupa entah berapa hari sesudahnya saya juga ikut donasi. Kemudian beberapa lama sesudah itu, yang terdengar kabar Kalau dia masih belum sembuh juga. Sampai beberapa hari kemarin, tanggal 6 juni ada acara benefit gigs yang diadakan oleh S.I.B dan teman-teman.

Saya datang ke acara itu, ikut duduk di dekat meja lelang dan meja penjualan merchandise untuk donasi. Sambil duduk, ngobrol dengan banyak teman saya menimbang-nimbang bersama #3 benda mana yang kita mampu beli tapi juga memungkinkan untuk dilelang kembali jika satu saat ada lagi acara donasi.

Pilihan kami jatuh pada poster Homicide. Menunggu sampai akhir acara untuk memastikan harga lelang, ditambah nominalnya sedikit, pulanglah kami membawa poster itu. Diperjalanan pulang, setelah makan dan mengantar mbak tia yang nebeng mobil kita, akhirnya malah tercetus ide untuk esok hari langsung melepas poster itu, dengan pikiran kalau bisa laku artinya kita bisa ngasih untuk bantu lagi.

Sore keesokan harinya, saya mengupload foto poster itu dengan catatan, kita bersedia melepas poster itu dengan harga diatas harga lelang. Satu jam kemudian, seorang teman menghubungi. Tanya ini itu. Saya cerita soal kondisi Raline, tujuan jual poster dan link berita. Kami sepakat dengan foto yang ada di laman berita, semangat hidup si bayi tampak terlihat di sorot matanya.

Tiba-tiba teman saya bilang kalau dia mau poster itu. Harga yang dia beri jelas diatas harga lelang, tapi tidak mau sebut jumlah, juga tidak mau namanya disebutkan. Saya sepakat.

Setengah jam kemudian, ada teman saya yang lain sms. Dia berminat dengan harga sedikit diatas harga yang saya sebutkan. Saya tolak dan bilang kalau sudah ada yang mau membeli poster itu. Berbagi berita pada teman-teman yang semalam tahu saya yang beli. Senang. Mengecek saldo pada malam harinya, cek saldo. Jumlahnya 3 kali lipat dari harga awal.

Senang. Diluar perkiraan. Sms Ucok Homicide si empunya poster. Dia terkejut sekaligus senang. Sepakat untuk menandatangani karena teman saya memintanya. Jumat sore, saya transfer seluruh uang penjualan. Sms memberitahu pada yang bertanggung jawab untuk mengurus hasil donasi. Masih tersenyum karena rencana kita berhasil.

Senang, sampai tadi pagi.

Kehadiran Raline dalam hidup saya, sangat sebentar. Saya tak berjumpa dengannya sama sekali. Hanya lewat facebook. Kebetulan saya dengan orang tuanya juga bukan dari satu lingkaran yang sama, jadi bertemunya juga bisa dibilang hampir tidak pernah kecuali bertemu di salah satu gigs musik di Bandung. Tadi juga saya tidak berani datang ke rumah duka.

Hanya bisa memanjatkan doa. Menangis. Memberitahu teman saya yang membeli poster.

Hey bayi, kamu sudah menyentuh begitu banyak hati orang. Kamu dalam keadaan sakitmu, memberi kegembiraan untuk semua orang yang bersedia membantu. Kamu, membuat saya senang karena saya juga bisa membantumu. Kamu yang saya cuma tahu keadaanmu dari berita dan cerita teman. Kamu, terima kasih.

Saya tidak bisa membayangkan ada di posisi orang tua Raline saat ini. Dari ketika tahu lahir dalam keadaan tidak sempurna, bermalam-malam ada di rumah sakit, satu-satunya amunisi adalah harapan untuk membawa Raline pulang dan semangat dari semua teman dan keluarga.

Tidak akan ada yang pernah rela dengan kehilangan. Apalagi kematian. Kenangan akan selalu ada di hati, kepala, pikiran, tempat-tempat yang pernah dikunjungi, peristiwa bersama, semua memori yang hanya bisa disimpan dalam hati dan hanya bisa diceritakan tanpa bisa terulang lagi.

Mungkin Raline tidak tumbuh besar di dunia karena Tuhan sudah memanggilnya, tapi saya berharap satu saat berjumpa dengannya di lain masa, mencium pipinya berterima kasih karena kemarin dia membuat saya merasa berguna. Membuat apa yang saya lakukan sehari-hari dirasa bisa sedikit membantu.

***

*saya tidak bisa melanjutkan lagi tulisan ini karena makin lama akan terdengar makin cengeng dan klise dan saya tidak mau itu. Saya tidak tahu berada di posisi mana saat ini. Marah karena Tuhan seakan mengabaikan rencana yang sudah disusun. Sedih karena merasa kehilangan tapi sekaligus juga telah merelakan karena telah berusaha.

Saya, tidak tahu. Hanya bisa berdoa.